Serba-serbi Trend IPO Startup, Selain Bukalapak Ada Siapa Lagi?

Belakangan ini IPO startup teknologi sedang menjadi topik yang hangat di bicarakan. Apalagi setelah IPO-nya Bukalapak pada Agustus 2021 kemarin, yang memecahkan rekor penjualan saham perdana terbesar yakni Rp 21,4 Triliun. Kabarnya startup-startup lainnya akan segera menyusul untuk melakukan Initial Public Offering. Siapa saja mereka? Ini adalah satu yang akan kita bahas nanti!

Selain itu, kedatangan startup seperti Bukalapak di prediksi akan mengubah persepsi masyarakat terhadap pasar modal Indonesia. Mengingat saat ini pasar saham di kuasai oleh perusahaan-perusahaan lama. Tapi kira-kira kenapa ya, startup-startup berebut IPO? Pihak mana saja yang akan di untungkan? Apakah investasi di perusahaan startup Indonesia worth it?

Mari kita bahas satu-persatu!

Kenapa Startup-startup Melakukan IPO?

Sumber gambar : pixabay.com/ Tumisu

Apakah Anda tahu 10 besar emiten dengan nilai terbesar di bursa efek Amerika?

  • Apple
  • Microsoft
  • Saudi Anamco
  • Alphabet
  • Amazon
  • Facebook
  • Tesla
  • Berkshire Hathway
  • TSMC
  • Tencent

Ranking 10 terbesarnya, di dominasi oleh perusahaan-perusahaan teknologi. Sekarang kita lihat bagaimana dengan bursa saham Indonesia (BEI).

Kondisi Pasar Saham di Indonesia

Di Indonesia, mayoritas saham yang mendominasi di bursa efek adalah saham dari perusahaan-perusahaan lama non teknologi. Walaupun begitu, seiring berjalannya waktu mulai terjadi perubahaan yang bisa di lihat dari indeks sektoralnya.

Indeks sektoral bursa menggambarkan pergerakan harga saham. Sehingga semakin tinggi indeksnya bisa di berarti kalau kinerja saham di sektor tersebut juga bagus.

Sejak IPO Bukalapak, indeks saham di sektor teknologi melonjak naik jauh di atas rata-rata sektor lainnya. Hal ini memperlihatkan kalau terjadi pergeseran preferensi investor dan trader. Saat ini Indonesia juga menjadi negara yang memiliki startup terbesar se-Asia Tenggara dengan perkiraan nilai valuasi gabungan pra-IPO sebesar USD 38 Miliar. Selain itu Indonesia juga mencatat adanya 27 perusahaan centaur calon IPO selanjutnya.

Perkembangan startup di Indonesia memang merupakan kesempatan besar. Oleh karena itu banyak startup-startup yang rela ‘bakar-bakar uang’ demi menjadi unicorn selanjutnya. Mereka mengelola startupnya dengan mencurahkan energi, waktu dan juga materi karena di depan ada tujuan yang menarik, yakni IPO maupun akuisisi.

Keuntungan IPO Bagi Startup

Kabarnya GoTo sedang berusaha untuk meraih USD 2 Miliar dengan cara melakukan IPO di Indonesia dan di Bursa Amerika di tahun 2021. Dengan begitu, valuasi GoTo akan sangat luar biasa dan menjadi emiten raksasa yang ada di bursa dengan valuasi gabungan sebesar USD 38 Miliar.

Inilah salah satu keuntungan utama dari IPO. Startup-startup bisa mendapatkan akses modal yang jumlahnya sangat sulit di dapatkan lewat jalan lain. Dengan modal ini, perusahaan bisa memperbaiki profil dan juga memperluas pasarnya serta memberikan keuntungan bagi para investornya. Selain itu, perusahaan juga bisa memberikan penghargaan lebih tinggi kepada para karyawan yang berjasa untuk perusahaan.

Baca juga, Apa Itu IPO? Definisi, Tahapan dan Cara Menilai Prospeknya

Dampak Dan Pro-Kontra IPO Startup

Setelah IPO, perusahaan akan di tuntut untuk memiliki kinerja yang lebih profesional supaya bisa di akui oleh pasar. Sebenarnya, belakangan ini sudah ada beberapa emiten yang maju untuk IPO, namun karena valuasinya kecil akhirnya tidak mampu menarik investor. Dari sisi kinerjapun, bukannya naik sehingga nilai sahamnya malah terjun payung menjadi saham gocap (Rp 50).

Oleh karena itu, minat yang fantastis pada kedua startup teknologi yang barusan IPO ini menjadi perbicangan menarik di banyak tempat. Tapi walaupun begitu euforia IPO startup kemarin juga tidak terlepas dari pro-kontra loh!

Kita lihat apa saja dampak juga pro kontra dari IPO Bukalapak beberapa waktu lalu!

Dampak Terhadap IHSG

Bagaimana dampaknya bagi IHSG?

Ternyata dengan IPO unicorn juga bisa berdampak negatif pada IHSG lantaran IHSD merupakan indeks gabungan dari seluruh emiten yang melantai di BEI dimana bobotnya berasal dari kapitalisasi pasar. Di sisi lain, kepitalisasi pasar unicorn biasanya sangat luar biasa besarnya. Dengan begitu level IHSG sangat mungkin terdistorsi.

Hubungannya dengan Value Investing

Selain jumlah investor yang meningkat tajam sektor teknologi setelah IPOnya Bukalapak dan GoTo, justru pernyataan mengejutkan datang dari investor legendari Lo Kheng Hong yang notabene merupakan seorang value investing.

Jika di lihat dari konsep value investing maka hal ini akan bertolak belakang. Sebab kebanyakan startup yang melakukan IPO memiliki valuasi yang besar, namun labanya kecil. Bahkan Lo Kheng Hong mengaku enggan untuk berinvestasi di perusahaan startup. Mengapa?

Berikut adalah pernyataan Lo Kheng Hong di Instagram @Lukas_Setiaatmaja pada Kamis 20 Mei 2021.

“Setahu saya, perusahaan startup itu untungnya kecil-kecil. Gak ada yang besar. Setahu saya. Saya ini kan orang gaptek, jadi jangan tanya startup sama saya. Saya gak ngerti startup”

Selain itu Lo Kheng Hong mengungkapkan kalau banyak juga perusahaan yang mengalami kerugian. Ia juga menyoroti soal valuasi startup yang sangat mahal. Sehingga dari sini bisa kita melihat bagaimana opini investasi di perusahaan startup dari kacamata value investing.

Adanya Fenomena Investor yang FOMO dan Pihak yang Memanfaatkan Momentum

Nah ternyata, IPOnya kedua unicorn Indonesia di BEI melahirkan fenomena investor yang FOMO (Fear Of Missing Out). Mereka yang takut ketinggalan seustu yang sedang happening dan ingin untung dalam waktu singkat. Padahal sebenarnya, dunia investasi saham adalah tempat yang tidak kenal ampun bagi siapapun yang memasukinya apalagi membeli hanya karena ikut-ikutan saja.

Banyak pula pihak-pihak yang memanfaat momentum untuk menyetir harga saham BUKA. Contohnya pada tanggal 17 Agustus yang lalu, tercatat banyak sekali sekuritas maupun pihak asing yang melepas saham BUKA sehingga menyebabkan nilai sahamnya masuk ke auto reject. Tentu saja banyak komplain dari para investor ritel karena hal ini. Namun pihak Bukalapak mengaku bahwa ini adalah mekanisme alamiah pasar saja.

Baca juga, Tiga Faktor Utama Tingginya Minat IPO Bukalapak

Pengaruh Startup Secara Lebih Makro

Selain pengaruhnya terhadap bursa, pada dasarnya perusahaan startup unicorn juga sudah mempengaruhi hidup jutaan orang di Indonesia. Misalnya saja Tokopedia dan Gojek yang sudah memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi negara. Jika negara menghilangkan kesempatan startup-startup ini untuk melantai di BEI begitu saja maka negara pasti akan merugi.

Sebagai cerminan, Singapura yang dulunya pernah melarang startup melantai di bursa sahamnya. SEA limited malah IPO di Bursa Amerika dan sahamnya meroket tajam pada tahun 2017. Karena hal itu yang harus kehilangan pencatatan saham SEA Limited sebesar $ 885 juta. Akhirnya Singapura mengatur ulang regulasinya dan mengizinkan startup IPO di bursa efek Singapura (SGX).

Indonesiapun sedang beradapsi dengan regulasi serupa. Supaya startup-startup Indonesia bisa melantai di BEI dan tidak perlu lari ke bursa saham asing.

Daftar Startup Indonesia yang Akan IPO

Sumber gambar : pixabay.com/ garalt

Nampaknya BEI hendak mendorong perusahaan-perusahaan rintisan untuk melakukan IPO di dalam negeri. Sebab, pembicaran mengenai regulasi listing bagi startup terus di golakan secara pro aktif. Di sisi lain, antusiasme investor di pasar modal Indonesia pun sangat tinggi dalam menyambut saham-saham startup.

Berdasarkan informasi per 26 Sepetember 2021 pihak BEI telah mencatat setidaknya ada 26 perusahaan yang masuk dalam pipeline dan beberapa merupakan perusahaan rintisan. Salah satu startup tersebut merupakan hasil binaan dari IDX Incubator yang fokus di bidang Software & IT Services.

Nah, setelah BUKA dan GOTO kira-kira siapa sajakah starup selanjutnya yang akan melakukan? Berikut adalah rangkuman informasi beberapa startup yang di kabarkan akan IPO di penghabisan tahun 2021-2022!

1. GoTo Group (Gojek-Tokopedia)

GoTo Group merupakan perusahaan gabungan dari startup besar Indonesia yakni Gojek dan Tokopedia. Kedua startup ini resmi menggabungkan diri sejak Mei 2021 yang lalu. GoTo berencana akan melakukan IPO pada tahun 2022 mendatang. Namun euforia nya sudah terasa dari beberapa bulan yang lalu hingga saat ini.

Info terbarunya, ADIA (Abu Dhabi Investment Authority) akan memimpin pre-IPO dengan menandatangani perjanjian investasi sebesar US$ 400 juta. Tersiar kabar, para investor global lainnya juga akan masuk daftar antre IPO GoTo. Kapan tepatnya startup ini akan listing di Bursa Efek Indonesia? Belum ada kabar pasti, namun di prediksi sekitar Januari 2022. Bagi Anda yang tertarik dengan calon emiten yang satu ini, mari tunggu jadwal pastinya ya!

2. PT Global Digital Niaga (Blibli)

Kabarnya PT Global Digital Niaga atau Blibli akan melakukan IPO di tahun 2022 nanti. Kabar ini menyebar pasca penandatanganan Perjanjian Pengikatan Pembelian Saham (PPPS) karena Blibli berencana mengakuisisi PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) yakni pihak yang selama ini mengelola Ranch Market. Saham RANC akan di beli oleh Blibli sebesar 797.888.628 saham atau sekitar 51%.

3. PT Global Jet Express (J&T express)

J&T Express adalah perusahaan startup di bidang jasa kurir (ekspedisi logistik) di Indonesia yang di kabarkan akan melakukan Intial Public Offering. Walaupun mungkin terbilang masih baru, tapi ternyata valuasi J&T Express masuk dalam posisi kedua unicorn setelah Gojek dan sudah berkembang di luar negeri, terutama di negara-negara Asia. Berdasarkan riset yang di lakukan oleh CBinsight, nilai valuasi J&T Express lebih dari US$ 1 miliar atau Rp 14,5 triliun. Namun sayangnya, J&T Express berencana melakukan IPO di bursa efek luar negeri.

Baca yuk, Bingung Pilih Saham IPO atau Saham Lama? Ini Resiko dan Tipsnya!

Penutup

Selain GoTo, Blibli dan J&T Express, startup lainnya seperti Traveloka, Dekoruma, Tiketcom dan Tanihub juga di kabarkan akan melakukan IPO. Namun keterangan hendak IPO di mana masih belum di ketahui. Kita tunggu saja kabar terbarunya, jika salah satunya merupakan perusahaan favorit yang Anda incar.

Baiklah, setelah mengetahui serba-serbi trend IPO startup diatas, apakah Anda berminat menjadi salah satu investornya? Atau justru hal ini membuat Anda berpikir ulang untuk berinvestasi di perusahaan startup?

Sebagai investor tentu saja kita menyadari, bahwa keputusan pembelian maupun penjualan kembali saham adalah 100% tanggung jawab kita sendiri. Oleh karena itu, jika ada beberapa startup incaran di dalam daftar di atas jangan lupa untuk mencari tahu prospektusnya terlebih dahulu. Lakukan riset dan analisis fundamental sebelum membeli sahamnya, baik itu startup yang listing di dalam maupun di luar negeri. Semoga informasi di atas bermanfaat dan menambah wawasan Anda dalam dunia saham.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar