BAB 1. Value Investing, Strategi Investasi Ala Warren Buffett

Perekonomian yang kurang menentu akibat Pandemi Covid-19 memang membuat banyak orang harus benar-benar berpikir bijak dalam mengatur keuangannya. Bahkan kendati masih ada THR (Tunjangan Hari Raya) tersisa, orang-orang tampaknya tidak ingin sembrono dalam mengalokasikan dana yang dimiliki.

Banyak orang memilih jalur aman seperti menabungkan dana yang ada di deposito berjangka hingga investasi ke emas dan properti.

Namun tahukah Anda, saham rupanya termasuk salah satu jenis instrumen yang terbukti mampu bertahan dalam gempuran wabah corona.

Kendati sempat remuk redam di bulan Maret-April, instrumen saham saat ini mulai bangkit di masa new normal.

Dilaporkan di Amerika Serikat sana yang mencatat kasus positif Covid-19 terbesar di dunia dan ancaman resesi ekonomi, pasar saham mereka justru mulai pulih.

Membuka pekan kedua bulan Juni 2020, secara berturut-turut mulai S&P 500, Nasdaq Composite dan Indeks Dow Jones Industrial Average mencatat kenaikan dan raihan positif.

Baca juga: Sejarah dan Perkembangan INDF Dari Awal Sampai Saat Ini

Tak berbeda jauh, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) juga semakin melaju kuat, didukung sejumlah kebijakan dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Kabar-kabar gembira ini sudah pasti menjadi fakta bahwa pasar modal tidak ambruk sepenuhnya. Hal ini pulalah yang lagi-lagi membuat saham semakin seksi, dan tetap jadi instrumen investasi unggulan.

Bagaimana? Tertarik untuk melakukan investasi di pasar saham? Hmm, mungkin ada baiknya Anda mulai mengenal yang namanya value investing, strategi investasi yang juga dilakukan oleh Warren Buffet, salah satu orang terkaya di planet ini.

Benjamin Graham, The Father of Value Investing

Warren Buffett – Benjamin Graham © Business Insider

Dalam dunia saham, analisa fundamental adalah teknik yang digunakan investor saat hendak melakukan transaksi saham.

Ada salah satu strategi yang populer dalam analisa fundamental yakni value investing. Tentu bukan sekadar pola teknik investasi biasa, karena strategi ini merupakan alasan bagaimana Warren Buffett memperoleh pundi-pundi dolar sehingga total kekayaannya menembus US$68,9 miliar (sekitar Rp979 triliun)!

Bukan tanpa alasan jika Buffett memilih value investing sebagai strateginya dalam investasi saham. Karena ternyata penemu dari metode ini investor legendaris sekaligus guru dari Buffett, Benjamin Graham.

Pakar ekonomi yang terlahir pada 1894 ini memang bukan cuma sekadar investor saja. Graham bahkan merilis dua buah buku yang dianggap sebagai ‘kitab suci’ dunia investasi.

Kedua buku itu adalah Security Analysis (1934) dan The Intelligent Investor (1949). Dalam berinvestasi, Graham memang lebih menekankan pada sisi psikologi sang investor lalu kemudian melakukan investasi dengan analisa fundamental, lewat gaya buy and hold.

Filosofi investasi Graham juga bicara soal proses diversifikasi secara terkonsentrasi, margin of safety (MoS) dan tentunya contrarian mindset.

Tak berlebihan kalau akhirnya investasi disebut sebagai urat nadi kehidupan Graham. Pria yang meninggal di usia 82 tahun ini bahkan sudah memulai karier di Wall Street saat berumur 20 tahun, setelah lulus dari Columbia University.

Melalui Graham-Newman Partnership yang dia dirikan itulah, Graham berjumpa dengan sang murid Buffett.

Namun sebetulnya, bukan hanya Buffett saja yang menjadi murid dari pria yang sempat menjadi manajer di Columbia University, Andersen School of Management dan University of California ini.

Baca juga : 11 Daftar Saham Blue Chip Indonesia Tahun 2020

Nama-nama besar seperti William J.Ruane, Irving Khan dan Waiter J.Schloss, adalah murid-murid Graham yang juga memilih value investing dalam strategi berinvestasi. Bahkan pemikiran Graham ini juga turut mempengaruhi Seth Klarman dan Bill Ackman, dua investor populer asal Amerika.

Mengenal Value Investing Lebih Jauh

Selama ini, ada banyak sekali persepsi yang keliru soal dunia saham. Seperti pasar saham sangatlah berbahaya karena bisa membuat orang kehilangan kekayaan dalam sekejap, hingga tudingan sebagai kegiatan judi.

Bahkan ada yang bilang bahwa 85% orang kehilangan uang di pasar saham! Mengerikan? Memang. Namun itu ditujukan untuk trading, alih-alih investasi saham.

Trading sendiri merupakan kegiatan jual-beli saham dalam jangka sangat pendek entah hitungan menit, jam, hari atau minggu.

Sementara itu investasi adalah kegiatan jual-beli saham jangka panjang dengan waktu minimal enam bulan, 1 tahun atau dua tahun.

Karena itulah orang-orang yang melakukan kegiatan trading biasanya mudah tergoda membeli saham gorengan, lantaran kabar burung kalau harga saham itu bakal melonjak.

Baca juga: Jenis Saham Farmasi yang Menjanjikan di Indonesia, Apa saja?

Berbeda dengan trading, investasi haruslah dilakukan dengan perhitungan fundamental yang benar-benar teliti.

Termasuk bagaimana Anda memilih perusahaan dengan kinerja keuangan bagus. Dalam hal ini, mengenal value investing adalah sebuah modal terbaik untuk para investor-investor pemula.

Apa Itu Value Investing?

Bagi investor-investor pemula, value investing mungkin tidak terlalu familiar. Namun sebetulnya, value investing adalah salah satu strategi yang sangat terkenal di dunia investasi.

Strategi ini sendiri dilakukan dengan cara menganalisa rasio pada fundamental perusahaan, nilai intrinsik saham serta MoS, dalam mencari saham yang tergolong undervalued.

Sehingga jika dijabarkan, strategi value investing membuat Anda menemukan saham yang harganya dalam kondisi ‘keliru’, lalu dijual lagi ketika pasar dan harga saham itu telah kembali ke level normal.

Hanya saja kondisi ‘keliru’ ini bukan cuma dalam hal nominal harga saja, tapi juga dari sisi value saham kalau dibandingkan dengan berbagai indikator seperti nilai buku perusahaan serta laba.

Supaya lebih paham, perhatikan gambar di bawah ini:

grafik Value Investing

Dari gambar di atas, ada garis yang disebut sebagai Market Price. Market Price sendiri merupakan harga saham yang sedang diperdagangkan sehingga garis itu bergerak fluktuatif dalam jangka pendek.

Namun ingat, Market Price tidaklah menjadi pedoman informasi bisnis. Tidak selalu harga saham yang sedang naik itu berarti bisnisnya bagus, pun demikian saat harganya turun maka bisnisnya memburuk.

Karena melalui Market Price, Anda sebagai investor hanya akan memperoleh informasi kalau harga sahamnya sedang naik, turun dan sideways.

Lantaran pasar saham bergerak tidak efisien, Anda akan menemukan kondisi di mana harga saham begitu melonjak dan ambles secara signifikan.

Begitu pula ketika bisnis perusahaan dilaporkan memburuk, justru harga sahamnya naik.

Lantaran benar-benar tak efisien inilah, investor butuh yang indikator lain sebagai pembanding Market Price. Indikator itu disebut dengan Intristic Value (nilai intristik).

Tidak seperti Market Price, Intristic Value ini adalah harga wajar saham. Sehingga jika Market Price ada di bawah Intristic Value, maka harga wajar saham itu masihlah murah. Sementara kalau di atas Intristic Value, harga wajar saham itu cukup mahal.

Namun bagaimana jika sebuah kondisi terjadi ketika harga sahamnya menjadi sangat murah karena faktor fundamental non-ekonomi, sehingga berada jauh di bawah Intristic Value? Maka bakal muncul gap antara Market Price dan Intristic Value, yang disebut sebagai MoS.

Di dalam metode value investing sendiri, semakin besar MoS yang terjadi, maka makin kecil pula risiko untuk berinvestasi pada saham itu.

Analisa seperti inilah yang akhirnya membuat value investing tetap menjadi strategi ampuh dalam mencari cuan di pasar modal, karena seluruh risiko yang kemungkinan terjadi bisa dipaparkan dengan cukup jelas.

Baca juga: Sejarah Saham JSMR Dari Awal Sampai Sekarang

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, tak heran kalau akhirnya seorang Warren Buffett memilih value investing dalam strateginya berinvestasi. Karena metode ini sendiri memang lebih fokus pada upaya membeli saham yang bisa dihargai murah, dari perusahaan dengan fundamental kuat. Dengan value investing, Anda sebagai investor tentu bisa mengetahui nilai wajar sebuah perusahaan.

Lantaran jauh lebih santai dan tidak bikin stres, value investing tidak mengharuskan Anda harus berada di depan layar secara terus-menerus, sambil gelisah memantau pergerakan harga saham setiap waktu. Untuk itulah bagi Anda investor pemula yang memang mengedepankan kesabaran dan keuntungan jangka panjang tanpa stres, value investing sangat layak dipilih.

Bagikan ;