Pasar Modal

Tiga Faktor Utama Tingginya Minat IPO Bukalapak

Siapa nih yang sudah menunggu IPO Bukalapak selama berbulan – bulan? Akhirnya sejak 6 Agustus 2021 lalu saham Bukalapak sudah melantai di BEI dengan kode saham BUKA.

Bukalapak memulai harga saham BUKA dengan Rp 850 per lembar saham per 6 Agustus. Ketika kami menyusun artikel ini tiga hari setelahnya, harganya sudah naik 24% ke Rp 1.060.

Selama dua hari, BUKA sudah mencatat transaksi sebanyak 983 kali dengan volume saham yang sudah terjual sebanyak 223 juta unit. Dengan transaksi sebanyak itu, BUKA sudah meraih nilai transaksi sebanyak Rp236 miliar.

Menurut beberapa pengamat saham, kenaikan 24% setelah 2 hari IPO perdana saham Bukalapak menandakan kepercayaan tinggi dari para investor.

Ada sebanyak 25,76 miliar lembar saham dari BUKA yang ditawarkan kepada publik. Ini mencapai  25 persen dari total modal keseluruhan milik Bukalapak.

Jika semua lembar saham ini terjual, maka Bukalapak bisa meraih dana segar mencapai Rp21,9 triliun dari IPO.

Ini merupakan angka yang fantastis dan akan menjadi dana hasil penghimpunan terbesar sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia.

Selain kepercayaan investor, ada juga faktor FOMO (Fear Of Missing Out) dari sudut pandang para investor. Karena rencana ini sudah muncul ke publik sejak beberapa bulan lalu, sehingga banyak investor yang penasaran.

Menurut Lo Kheng Hong, Investor senior yang sering mendapat julukan Warren Buffet nya Indonesia, mengatakan bahwa investor harus lebih menganalisa lebih dalam sebelum membeli saham.

Kami melansir dari bisnis.com bahwa Lo Kheng Hong mengingatkan bahaya dari kurangnya menganalisa kondisi perusahaan sebelum membeli saham.

Jika selama ini kita hanya tahu influencer itu mempromosikan produk kecantikan atau fashion, ternyata ada juga lho influencer saham.

Influencer saham merupakan orang – orang yang aktif di media sosial dan mempunyai banyak pengikut. Mereka fokus pada konten yang memberi pengetahuan dasar tentang investasi saham.

Namun kemudian mereka memanfaatkan banyak pengikut untuk menggiring opini tentang sebuah produk saham tujuannya agar mengangkat harga saham tersebut.

Caranya adalah dengan membangun narasi tentang prospek saham sebuah perusahaan dan mengakhirinya dengan sebuah tagar. Tagar ini kemudian menjadi semacam kampanye di media sosial dan dilihat oleh banyak orang.

Saham yang dipromosikan melalui media sosial ini kemudian disebut dengan Saham pompom. Ini merupakan istilah untuk saham yang harganya dipompa dengan cara menggiring opini investor melalui media sosial.

Tujuan dari kampanye melalui media sosial ini untuk mempengaruhi para investor pemula yang jumlahnya kian bertambah. Kerapkali mereka terjun ke pasar modal dengan pengetahuan minim.

Selain fenomena saham pompom yang baru beberapa tahun ini muncul, sebelumnya ada juga model saham yang tiba-tiba harganya melejit.

Itu adalah saham gorengan yang pergerakannya direkayasa lewat mekanisme jual beli. Jauh sebelum media sosial menjadi media menggiring opini, mekanisme gorengan ini adalah yang sering terjadi dalam praktek penjualan saham.

Namun apakah animo masyarakat mengenai Bukalapak adalah karena opini dari Influencer? Kami pikir tidak.

Karena Bukalapak merupakan perusahaan yang sangat dikenal publik dan perkembangannya tidak pernah luput dari liputan media.

Pertimbangan lain mengapa Bukalapak adalah perusahaan yang sudah mapan adalah ekosistem digital yang mendukung kinerja.

Dengan adanya kerjasama Grab, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK), dan Bukalapak, sinergi ini membentuk pola yang mirip dengan GoTo (Gojek-Tokopedia). Sebuah sinergi yang meliputi efisiensi logistik, e-wallet, dan kemampuan teknologi.

Tiga Faktor Utama

Pada ulasan kontan.co.id, setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan melejitnya penjualan IPO Bukalapak pada 3 hari pertama.

Yang pertama adalah adanya perintah eksekutif dari pemerintah AS agar para investor AS mencabut investasi pada 59 perusahaan China.

Ini sebagai cara AS untuk menghambat laju pertumbuhan ekonomi China, dengan itu AS bisa lebih nyaman dalam mengembangkan penguasaan mereka atas ekonomi global.

Perintah eksekutif ini membawa sentimen negatif ke sejumlah negara emerging market yang mempunyai hubungan dagang dengan China, salah satunya adalah Indonesia.

Karena banyak hedge fund yang semula berinvestasi di perusahaan-perusahaan China tersebut, terpaksa harus menjual investasinya dan mencari alternatif investasi lain.

Namun di sisi lain, cabutnya para investor AS memberi peluang lebih besar bagi banyak perusahaan Indonesia untuk mendapatkan investasi dari mereka.

Kabarnya, beberapa investor AS merupakan salah satu faktor dari tingginya jumlah pembelian saham IPO milik Bukalapak dalam beberapa hari ini.

Faktor kedua adalah ekspektasi dari investor bahwa Bukalapak memiliki pertumbuhan yang tinggi dalam untuk waktu yang akan datang karena ada di bisnis e-commerce.

Sehingga harga awal Rp 850 masih sebagai sebuah valuasi yang premium karena ekspektasi pertumbuhan tadi.

Bahkan ketika berada di harga Rp 1.060, rasio harga dasar saham Bukalapak masih berada di level 4,6x. Ini masih lebih rendah dibandingkan rasio PBV rata-rata emiten sektor teknologi 9,4x.

Untuk kawan – kawan yang belum tahu, rasio PBV atau Price to Book Value adalah hal yang paling mendasar dalam indikator sebuah saham.

Rasio price to book value  akan membantu Anda melihat seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai terhadap jumlah modal yang diinvestasikan perusahaan.

Lanjut ke faktor ketiga tentang tingginya minat investor pada saham BUKA. Ini karena Bukalapak merupakan emiten e-commerce pertama yang melantai di bursa dengan nilai IPO terbesar yang pernah ada.

Bisnis Bukalapak sudah memiliki customer based ritel sehingga membuat animo investor untuk membeli saham BUKA lebih besar dibandingkan emiten IPO sebelumnya.

Bahkan beberapa pialang mengatakn bahwa pembeli saham IPO buka di pasar perdana didominasi oleh investor milenial sebanyak 70%.

Ini menunjukkan trend investor bursa saat ini banyak mengincar saham-saham sektor teknologi atau yang punya exposure ke bisnis digital.

Profil Perusahaan

Biar tidak penasaran bagaimana tentang profil perusahaan Bukalapak yang katanya e-commerce asli Indonesia, kita akan membahas sedikit profil perusahaan.

Bukalapak merupakan salah satu Start-up bidang teknologi yang kini sudah mencapai level unicorn. Sebagai salah satu platform e-commerce besar di Indonesia, Bukalapak kini sudah melayani 6 juta pelapak dan 5 juta Mitra Bukalapak.

Kalian tahu kan apa itu Unicorn? Bukan kuda putih yang memiliki tanduk lho ya.

Unicorn adalah predikat bagi sebuah Start-up  atau perusahaan rintisan yang telah memiliki valuasi lebih dari US$1 miliar.

Hingga Agustus 2021, baru ada 7 perusahaan rintisan Indonesia yang mencapai level unicorn, salah satunya adalah Bukalapak.

Fokus utama dari Bukalapak adalah memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) nasional.

Jika kita selama ini hanya mengenal Achmad Zaky sebagai CEO Bukalapak, namun dia tidak mendirikan ini sendiri.

Bersama Muhammad Fajrin Rasyid dan Nugroho Herucahyono mereka menggagas bisnis ini ketika menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Jika Apple dimulai dari sebuah garasi, maka mereka bertiga membangun Bukalapak dari kamar kos yang sederhana pada tahun 2010.

Bukalapak mulai melejit dan dikenal oleh masyarakat saat permintaan untuk sepeda lipat meningkat tajam pada tahun yang sama.

Saat itu ramai komunitas sepeda yang menjual beragam jenis sepeda lipat dan aksesorisnya secara online. Mereka memanfaatkan aplikasi Bukalapak untuk transaksi.

Tahun berganti tahun, Bukalapak terus membesar menjadi salah satu marketplace terbesar di Indonesia. Dalam perjalanannya, Bukalapak mengidentifikasikan dirinya sebagai marketplace yang berusaha memberdayakan UMKM di Indonesia. 

Butuh waktu sepuluh tahun  untuk Bukalapakbisa  menempati posisi kelima sebagai perusahaan dengan predikat unicorn yang memiliki valuasi lebih dari US$1 miliar di Indonesia.

 Pada bulan Oktober 2020, Bukalapak mencatatkan valuasi sebesar US$2,5 miliar. Bukalapak berada di bawah valuasi perusahaan teknologi Indonesia lainnya yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan OVO.

Sebelum IPO, jumlah investor Bukalapak mencapai 17 investor dengan total pendanaan sekitar US$384,1 juta. Salah satu investor awal Bukalapak adalah Batavia Incubator.

Beberapa investor lain yang pernah terlibat dalam pendanaan Bukalapak adalah GREE Ventures, Aucfan, IREP 500 Startup.

 Kemudian ada juga PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) mengucurkan investasi di Bukalapak melalui anak usahanya, Kreatif Media Karya.

Ada satu hal yang tidak banyak orang tahu, bahwa  Bukalapak pernah mendapat pendanaan dari Microsoft senilai US$234 juta atau setara Rp3,4 triliun dengan kurs Rp14.600.

Setelah kini berhasil melantai di BEI, Bukalapak sedang berencana untuk melantai di bursa Amerika Serikat melaui merger dengan special purpose acquisition company (SPAC).

Rencana dual listing saham ini untuk membuka akses permodalan yang lebih lebar. Jika ini benar terjadi, Anda harus bersiap dari sekarang karena pasti harga sahamnya akan melambung tinggi.

Satu hal yang salut dari Bukalapak adalah, mereka mau turun ke bawah untuk mengelola komunitas.

Bukalapak menyediakan program komunitas bagi para pelapak. Ini merupakan program rutin untuk kopi darat para pelapak di satu daerah untuk berbagi pengalaman dan wawasan dalam meningkatkan penjualan para pelapak.

Anggota komunitas kini sudah lebih dari 100.000 pelapak di 142 kabupaten/kota. Mereka saling belajar untuk bertukar pikiran, berbagi pengalaman, serta belajar mengenai tips dan trik jual beli online di Bukalapak.

Dengan profil ini, tentu kita semua tahu bahwa ketertarikan tinggi para investor bukan sekedar hasil pompoman para influencer. Tapi berkat rekam jejak Bukalapak yang menawarkan inovasi bisnis bagi masa depan.

Bagikan ;
Share
Published by
Alfian Ihsan

Recent Posts

Profil 8 Emiten Perusahaan yang Listing IPO Pada Bulan September

Pada awal September 2021, ada 8 emiten perusahaan yang baru listing IPO di Bursa Efek…

5 hari ago

Mengkilapnya 6 Emiten Saham Perusahaan Tambang Nikel

Semakin meningkatny pasar ponsel dan laptop membuat permintaan terhadap nikel semakin tinggi. Karena baterai lithium…

2 minggu ago

7 Keunggulan Superapp Investasi Saham IPOT dari Indo Premier

Apa aplikasi favorit Anda untuk investasi saham? Tahan diri Anda untuk menyebutnya, karena kita sekarang…

2 minggu ago

Hal-Hal yang Wajib Diketahui Investor Soal Tapering Off dari The Fed

Pekan-pekan terakhir bulan Agustus 2021 ini, pelaku ekonomi global tampaknya sedang memusatkan perhatiannya pada Bank…

3 minggu ago

Ustadz Yusuf Mansur Borong 3 Emiten Saham Ini, Simak Profil Perusahannya.

Apakah Anda pernah dengar istilah Mansurmology? Ini adalah ilmu investasi yang sering dibagikan oleh penceramah…

3 minggu ago

10 Pilihan Saham Berpotensi Cuan di Akhir Agustus 2021

Bulan Agustus 2021 tanpa terasa tinggal menyisakan satu hari saja. Tentu berbagai gejolak di pasar…

3 minggu ago