Bursa Efek Terbesar di Dunia dan Keuntungan Beli Saham Luar Negeri

Ada dimana ya bursa efek terbesar di dunia?

Bursa efek mirip dengan pasar tradisional pada umumnya. Di dalamnya terjadi transaksi jual-beli. Namun yang di perjual belikan bukanlah barang, melainkan aset efek yang berupa saham, reksadana, dan obligasi.

Jika di tarik ke sejarahnya, bursa efek pertama kalinya di dirikan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1602 di Amsterdam. Lalu di susul oleh negara lainnya seperti Amerika dengan NYSE dan Inggris LSE. Di Indonesia sendiri pasar modal baru di buka pada tahun 1921 di Batavia saat bangsa kita masih di kuasai Belanda. Sehingga bursa efek ini tentunya di inisiasi oleh pihak Belanda yang ingin mengembangkan pasar modal di Indonesia.

Saat ini setidaknya ada 60 bursa efek di seluruh dunia yang masing-masing memiliki ribuan perusahaan terdaftar di dalamnnya. Beberapa diantaranya merupakan bursa efek terbesar di dunia dengan nilai kapitaliasi lebih dari Rp 54 kuadriliun!

Nah, apakah negara-negara peioneer pasar modal kini masuk dalam daftar bursa efek terbesar saat ini? Yuk langsung saja kita bahas satu- persatu, inilah 10 bursa efek terbesar di dunia !

1. NYSE (New York Stock Exchange)

Dari namanya saja kita sudah tahu kalau NYSE adalah bursa efek milik Amerika yang berlokasi di New York City. NYSE merupakan bursa efek terbesar di dunia, tempat orang-orang di seluruh dunia ‘sudah biasa’ memperjual belikan efek. Bahkan NYSE juga di kenal dengan sebutan The Big Board !

NYSE didirikan sekitar 1 abad setelah VOC membuat bursa efek pertama. Tepatnya pada tahun 1792. Jadi usianya sudah lebih dari 200 tahun. Sat ini kapitalisasi NYSE lebih dari USD 30 triliun dengan 2400 emiten terdaftar di dalamnya.

2. NASDAQ (Nasdaq Stock Market)

Nasdaq merupakan bursa efek terbesar di dunia selain NYSE yang sama-sama bermarkas di New York, Amerika Serikat. Sama-sama ada di Amerika, lalu bedanya apa?

Nasdaq adalah bursa efek yang di dirikan oleh Nasdaq Inc (perusahaan penyedia jasa keuangan) pada tahun 1971. Perbedaannya dengan NYSE ada pada jenis ekuitas yang diperdagangkan dan cara mereka beroperasi. Nasdaq merupakan pasar dealer yang melakukan transaksi langsung dengan investor. Semua transaksi di lakukan dengan sistem terkomputerisasi.

Bisa di bilang, Nasdaq adalah ‘rumah’ untuk perusahaan rintisan di bidang teknologi (atau yang baru IPO) dan memiliki potensi pertumbuhan yang besar. Nasdaq memiliki kapitalisasi sebesar USD19,34 triliun, lokasinya berpusat di One Liberty Plaza, New York.

3. TSX (Toronto Stock Exchange)

Sekarang kita pindah ke Kanada. TSX adalah salah satu bursa efek terbesar yang di dirikan pada tahun 1852 dan bermarkas di Toronto, Ontario, Kanada oleh TSX Group. Kapitalisasi pasar TSX mencapai $2,1 triliun dengan 2207 perusahaan yang terdaftar, termasuk The Big Five atau bank komersial terbesar di Kanada. Sementara itu, volume perdagangannya mencapai $ 97 miliar.

Pada tahun 2011 lalu, TSK pernah mengajukan untuk bergabung dengan LSE (London Stock Exchange), namun gagal karena tidak disetujui oleh para pemegang saham.

4. Euronext

Bursa efek terbesar lainnya berada di Amsterdam, Belanda dengan Euronext. Euronext ini adalah bursa saham pan-Eropa yang memiliki anak perusahaan di berbagai belahan negara eropa seperti Belgia, Perancis, Belanda, Portugal dan Britania Raya. Walaupun masih tergolong muda karena baru di bentuk pada tahun 2000, Euronext sudah memiliki kapitalisasi gabungan sebesar $ 2,92 triliun (pada tahun 2010).

Ada sekitar 1.176 perusahaan yang melantai di Euronext. Sahamnya di perjual belikan dengan mata uang Euro dan memiliki volume perdagangan kurang lebih $174 miliar setiap bulannya.

5. LSE (London Stock Exchange)

Masih di kawasan Eropa, kini kita ke London. Didirikan pada tahun 1698 dan di resmikan tahun 1801, menjadikan LSE sebagai salah satu bursa efek tertua dan terbesar sejak perang dunia I hingga saat ini. Pada tahu 2007 LSE melakukan merge dengan Borsa Italiana dan membentuk London Stock Exchange Group (LSEG).

Ada sekitar 3000 perusahaan yang terdaftar di LSE dengan berbagai bidang. Per-Februari 2021 lalu, kapitalisasi pasarnya mencapai GBP £ 39 miliar atau setara dengan US $ 46,54 miliar.

6. SSE (Shanghai Stock Exchange)

Sekarang kita pindah ke Asia, karena bursa efek terbesar berada di Cina. Transaksi jual beli saham di China mulai dilakukan pada awal 1860-an. Lalu pada tahun 1891 SSE di dirikan dan berbasis di Shanghai, Cina.

Namun tidak seperti bursa efek lainnya, tidak semua saham di SSE terbuka untuk investor secara umum (negara lain). Kapitalisasi pasar SSE mencapai US $ 4,026 trilun.

7. JPX (Japan Exchange Group)

Bursa efek raksasa lainnya masih ada di Asia, tepatnya di Jepang dengan JPX (Japan Exchange Group). Japan Exchange Group adalah perusahaan jasa keuangan yang mengoperasikan beberapa bursa efek di Jepang.  JPX sendiri merupakan hasil penggabungan Tokyo Stock Exchange dan Osaka Securities Exchange (bursa yang di opersikan oleh Japan Exchange Group) pada tahun 2001 dan kini bermarkas di Tokyo.

Walaupun masih baru, tapi JPX sudah menjadi salah satu bursa terbesar setelah NYSE, NASDAQ dan SSE dengan kapitalisasi pasar sebesar US $5,679 triliun. Ada sekitar 3500 perusahaan yang tergabung dalam bursa efek JPX. Tentunya brand-brand besar asal Jepang seperti Honda, Suzuki, Toyota, Mitsubishi dan lainnya juga menjadi emiten JPX.

8. Shenzhen Stock Exchange

Shenzen Stock Exchange adalah bursa efek independen yang berpusat di Tiongkok. Shenzen Stock Exchange di dirikan tahun 1990 dan mayoritas perusahaan yang melantai juga berbasis di Tiongkok. Mereka bertransaksi dengan menggunakan mata uang Yuan.

Pada tahun 2009, Shenzen Stock Exchange meluncurkan ChiNext board yang di dalamnya adalah perusahaan-perusahaan startup yang berkembang seperti halnya NASDAQ. Salah satu alasan mengapa Shenzen menjadi salah satu yang terbesar di dunia adalah karena pertahun 2018 kapitalisasi pasarnya mencapai $ 2,5 triliun.

9. HKEX (Hong Kong Stock Exchange)

Bursa efek terbesar di dunia selanjutnya adalah HKEX dari Hong Kong. Bukan hanya menjadi bursa efek terbesar, HKEX juga termasuk yang terua loh! Sebab sebenarnya HKEX sudah mulai di rintis pada tahun 1891. Waktu itu namanya masih Association of Stockbrokers in Hong Kong.

Kapitalisasi pasarnya mencapai US $3,936 triliun. Namun ketika situasi politik antara Hong Kong dan Tiongkok menegang, SEHK sempat tergoncang.

10. BSE (Bombay Stock Exchange)

Terakhir, ada Bombay Stock Exchange atau BSE yang masuk ke dalam 10 besar bursa efek terbesar di dunia. Sudah bisa Anda tebak dimana markas BSE?

Markasnya ada di Mumbai, Maharashtra, India. BSE adalah salah satu bursa efek tertua yang sudah di dirikan sejak tahun 1875 dan merupakan pasar modal pertama di Asia loh! Dulu namanya ‘The Native Share & Stock Brokers Association’.

Per tahun 2018 kapitalisasi pasarnya mencapai $ 2,05 triliun. Di dalamnya ada 5.749 perusahaan yang melantai. Dari yang kapitalisasinya sangat besar hingga yang sangat kecil.

Baca juga, Alasan Saham Teknologi USA Naik Selama Pandemi dan Tips Investasinya!

Keuntungan Beli Saham Luar Negeri

Bagi Anda yang masih mempertimbangkan dan mencari tahu apa sih keuntungan beli saham luar negeri, bisa menyimak pembahasan di bawah ini!

1. Potensinya Besar

Alsan pertama membeli saham luar negeri adalah karena potensinya yang besar sebab perusahaannya sudah go internasional dan memiliki kapitalisasi yang sangat besar. Dengan begitu tidak perlu di ragukan lagi dalam kemampuan meraup pasar global.

Anda pasti tahu brand-brand seperti Starbucks, Nike, Apple, Facebook yang ada di bursa Amerika. Kapitalisasi perusahaan Apple saja bisa mencapai gabungan bursa di Indonesia. Bukan hanya di NYSE atau Nasdaq, bahkan Anda juga bisa menjadi bagian dari pemilik perusahaan-perusahaan di bursa efek negara lainnya.

2. Peluang Diversifikasi Portofolio

Diversifikasi atau pembagian instrumen investasi adalah cara untuk meminimalisir kerugian dalam berinvestasi. Bukan hanya emtiennya saja, tapi apakah sebaiknya dana investasi di pasar efek dalam negeri saja 100%? Atau di sebar di bursa efek luar negeri juga?

Nah menurut ahli keuangan, salah satu cara yang bisa di ambil dalam diversifikasi adalah dengan menempatkan investasi pada saham luar negeri yang memiliki kapitalisasi besar. Tempatkan dana yang paling besar di perusahaan yang kapitalisasinya paling besar. Hal ini karena perusahaan dnegn amarket cap besar biasanya merupakan perusahaan yang memiliki kualitas yang baik.

3. Banyak Pilihan Produk

Alasan ketiga membeli saham luar negeri karena banyak pilihan produknya. Misalnya saja saham, indeks, ETF, bond sampai dengan derivatif. Lebih banyak variasi instrumen investasi sangat menguntungkan investor karena bisa memilih sesuai kebutuhan dan lebih maksimal dalam diversifikasi portofolio.

4. Bisa Membeli 1 Lembar Saham Saja

Di Indonesia kita punya minimum pembelian saham yakni sebanyak 1 Lot atau 100 lembar saham. Tapi pembelian saham di luar negeri seperti halnya di NYSE, Anda cukup membeli minimum 1 lembar saham saja. Bahkan jika memungkinan, Anda juga bisa membeli saham secara patungan. Semisal saham Amazon yang sangat mahal itu di split oleh beberap orang, sehingga Anda memiliki 0, persen saham Amazon.

5. Akses Informasi Luas dan Mudah

Banyak jenis saham yang melantai di bursa luar negeri merupakan perusahaan global. Sehingga mendapat sorotan dunia dan informasinya mudah di akses. Dengan banyaknya media yang meliput, maka akses informasi untuk memantau saham incaran lebih luas dan juga mudah. Bahkan media-media besar biasanya memberikan pendapat atau analisis dari para ahli untuk para pembaca atau audiensnya.

Penutup

Jadi pasar modal itu sangat luas, tidak hanya terbatas di bursa efek Indonesia saja. Kita bisa menjadi salah satu pemilik dari perusahaan-peruahaan besar asing dimanapun kita berada. Bahkan seperti yang sudah di ulas diatas, ada 10 bursa efek terbesar yang memperlihatkan kalau masyarakat global pun sudah melek dengan investasi.

Bagaimana dengan Anda?

Takut untuk berinvestasi memang di perlukan, sebab ini membuat kita lebih berhati-hati dalam memilih instrumen investasi dan strategi. Namun yang perlu di pikirkan kembali adalah jika ketakutan itu membuat kita enggan memulai dan mengulur-ngulur waktu saja untuk belajar berinvestasi.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar