Analisis

Hal-Hal yang Bisa Menyebabkan Harga Emas Anjlok

Tergelincirnya puluhan negara di dunia ini karena resesi, memang membuat perekonomian global limbung. Tak hanya negara-negara berkembang, negara-negara maju yang selama dini dianggap punya ketahanan ekonomi pun harus bertekuk lutut di hadapan pandemi Covid-19.

Sejak pertama kali terdeteksi di Wuhan, China pada awal tahun 2020 ini, kini wabah corona sudah menjadi momok dunia selama delapan bulan terakhir. Hingga Sabtu (12/9) pagi, sudah ada lebih adi 28,3 juta kasus Covid-19 di seluruh dunia, dengan 211 ribu di antaranya terdeteksi di Indonesia.

Masih belum terkendalinya Covid-19, membuat banyak negara bertahan semampunya supaya perekonomian tak jadi terpuruk. Mereka yang mempunyai banyak uang tentu sangat waspada dalam mengelola keuangan, termasuk memilih investasi. Namun dalam kondisi perekonomian tak menentu, aset yang dianggap sangat aman alias safe haven adalah emas.

Baca juga: Mengenal Konsep Dasar Keuangan Time Value of Money

Logam mulia satu ini bahkan mencatat kenaikkan signifikan dalam kurun waktu tiga bulan terakhir. Di saat banyak harga saham anjlok dan PDB (Produk Domestik Bruto) berbagai negara di dunia melorot, emas justru perkasa. Bahkan pada 19 Agustus silam, emas mencatat harga tertinggi sepanjang sejarah yakni Rp1,058 juta per gram!

Harga Emas Bakal Terus Meningkat Selama Pandemi?

© techbullion

Jika diamati secara seksama, harga emas mulai menanjak ketika dunia tengah memasuki fase new normal. Yap, setelah memutuskan lockdown di awal pandemi termasuk PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Indonesia, masa new normal dimana masyarakat melakukan kegiatan sehari-hari sambil patuh protokol kesehatan pun dimulai.

Kala itu Goldman Sachs yang merupakan salah satu bank investasi populer di Amerika Serikat, melakukan prediksi pada Juni 2020 mengenai harga emas. CNBC International melaporkan kalau setidaknya hingga September 2020, emas akan menyentuh level US$1.800/troy ons. Lalu sampai Desember 2020, harga emas bakal ada pada level US$1.900/troy ons dan mampu menembus US$2.000/troy ons di 2021 nanti.

Namun belum sampai September, emas sudah mencapai titik tertinggi di pekan ketiga Agustus 2020 yakni mendekati level US$1.950/troy ons. Prediksi lain juga dipaparkan oleh Ole Hansen selaku Kepala Ahli Strategi Komoditas bank investasi Denmar, Saxo Bank. Menurut Hansen, emas bisa saja menyentuh level US$4.000/troy ons.

Menguatkan prediksi Hansen, Dan Olivier yang adalah pendiri Myrmikan Capital justru tak menampik kalau emas akan menembus level US$10 ribu/troy ons, alias sekitar Rp4,5 juta per gram, seperti dilansir CNBC. Kendati tak ada yang memastikan kebenaran prediksi itu, emas pun menjadi aset yang sangat diburu. Banyak orang yakin kalau dalam kondisi serba tak pasti seperti sekarang, emas adalah satu-satunya instrumen finansial terbaik.

Inilah Hal-Hal yang Memicu Turunnya Harga Emas

Tak bisa disalahkan kalau dari penjelasan di atas, Anda akan menilai jika harga emas bakal terus meningkat. Namun sekadar informasi, setelah mencapai titik puncaknya di pekan ketiga Agustus 2020, kini harga emas justru melorot. Bahkan sehari setelah menembus Rp1,058 juta per gram, harga emas turun jadi Rp1,030 juta per gram (20/8).

Baca juga: Negara-Negara yang Alami Resesi Ekonomi Akibat Covid-19

Seolah tak mampu bertahan, emas terus melorot di pekan terakhir Agustus 2020 hingga berada pada level Rp1,011 juta per gram (26/8). Emas sempat menguat jadi Rp1,030 per gram juta (31/8), tapi lagi-lagi melemah hingga Rp1,015 juta per gram (8/9). Terakhir pada Jumat (11/9) sore kemarin, emas ditutup pada harga Rp1,028 juta per gram.

Kondisi turunnya emas ini sempat diungkapkan oleh Denny Ardhiyanto, CEO Sehati Gold. Kepada blockchainmedia, Denny bahkan menghimbau akan adanya penurunan harga emas di bulan November 2020 nanti. Memang apa sih yang sebetulnya membuat harga emas nanti bisa merosot? Supaya Anda dapat bersiap diri, beberapa hal berikut ini wajib dipelajari:

1. Meningkatnya Persediaan Emas

© The Economic Times

Dalam prinsip fundamental ekonomi, dikenal yang namanya hukum permintaan. Hukum permintaan itu berbunyi ‘Semakin tinggi harga barang maka artinya jumlah pasokan sedikit. Sebaliknya jika pasokan barang itu begitu banyak hingga membludak, harganya jelas turun’.

Kondisi ini jelas berlaku juga pada emas, karena saat pasokan logam mulia ini melimpah, harganya jelas akan merendah. Apalagi kalau permintaannya juga turun maka harga emas semakin anjlok. Lantaran itu pula banyak investor dan produsen emas yang cemas jika emas akan memasuki musim permintaan rendah,

Sekadar informasi, saat ini produksi emas per tahun mencapai 2.500 metric ton sementara perkiraan permintaan emas di dunia mencapai 165 ribu metric ton. Kalau para produsen emas di dunia saling berlomba-lomba menghasilkan emas, harganya jelas akan terkoreksi.

Namun kendati ada risiko harga emas turun jika perusahaan emas bergeliat memproduksi logam mulia itu, investor terkaya di dunia yakni Warren Buffett justru membeli 21 juta lembar saham tambang emas Barrick Gold di Kanada, pada April-Juni 2020. Jika aksi pembelian saham bernilai total Rp8,2 triliun itu membuat Barrick Gold meningkatkan produksi demi meraup untung saat harga emas melambung, bukan tak mungkin akan berdampak sebaliknya yakni harga emas terkoreksi.

2. Perubahan Nilai Kurs

© katusaresearch

Tak ada yang bisa memungkiri betapa digdayanya dolar AS. Mata uang resmi Amerika Serikat ini bahkan menjadi cadangan dominan di dunia, yang membuatnya terpilih sebagai mata uang utama dalam perdagangan global. Lantaran begitu berpengaruh, pergerakan dolar AS juga memicu naik-turunnya harga emas.

Pada umumnya kaitan harga emas dan mata uang dolar AS ini adalah negatif. Dimana saat nilai tukar dolar AS menguat, harga emas justru menurun. Sebaliknya saat mata uang Negeri Paman Sam itu anjlok, harga emas cenderung meningkat.

Baca juga: Perjalanan Harga Emas Tahun 2020, Bakal Rp4,5 Juta Per Gram?

Kenapa bisa begitu korelasinya? Karena saat dolar AS menguat, artinya perekonomian dunia semakin membaik serta berdampak positif di pasar saham dan forex (foreign exchange atau valuta asing). Saat pasar saham membaik inilah, saham-saham unggulan diburu investor dan mereka memilih menjual emas. Ketika ini terjadi, harga emas akan ambruk.

3. Besaran Suku Bunga Bank Sentral

Dalam sebuah sistem perekonomian negara, ada yang namanya bank sentral. Sebagai pemegang otoritas pelaksanaan kebijakan moneter negara, bank sentral sangatlah independen dalam mengawasi penambahan atau pengurangan jumlah uang. Tak heran kalau mereka akhirnya berhak mengendalikan tingkat suku bunga acuan.

Meskipun memang emas tidak berkaitan dengan bunga bank seperti halnya obligasi atau deposito, tetap saja pergerakan harganya sedikit banyak terpengaruh suku bunga itu sendiri. Dimana saat suku bunga meningkat, harga emas cenderung bakal turun.

Kenapa bisa begitu? Karena saat suku bunga meningkat, orang-orang bakal menjual emas dan mengalihkan uang mereka ke dalam tabungan deposito agar lebih untung. Emas yang jumlahnya banyak di pasaran, akan membuat harganya menurun.

4. Pergolakan Politik Dunia

© axisbank

Gejolak ekonomi jelas tak bisa dipungkiri sebagai salah satu faktor utama yang membuat harga emas begitu fluktuatif. Apalagi ketika pandemi Covid-19 terjadi, bank-bank sentral terpaksa mengeluarkan kebijakan moneter tak biasa alias Quantitative Easing (QE).

Saat QE diluncurkan, terjadi pembelian obligasi dan surat berharga sehingga harga emas melambung. Namun kondisi ini bakal berubah saat Pemilu Presiden AS di bulan November 2020 nanti. Kalau partai Republik yang mendukung Donald Trump kalah sehingga partai Demokrat menang, artinya ketegangan politik dunia mereda sehingga perekonomian membaik.

Dalam kondisi perekonomian yang baik itulah, inflasi jadi terkendali sehingga investor tak lagi memburu emas. Kondisi perekonomian yang sehat ini juga memicu hubungan dagang AS-China yang kembali mesra dan membuat daya beli masyarakat stabil. Perusahaan-perusahaan beroperasi normal dan aset investasi lain bergairah, memicu harga emas menurun.

5. Tingkat Risiko Membaik

© americangoldllc

Meskipun saat ini prospek emas dianggap masih bergerak positif, bukan tak mungkin kalau harganya sewaktu-waktu bisa terkoreksi. Sebagai aset yang diperdagangkan setiap harinya baik di pasar spot atau pasar berjangka, CNBC menyebutkan kalau harga emas bisa berubah begitu cepat.

Baca juga: Apa Itu Analisa Teknikal dan Analisa Fundamental?

Dalam kondisi inilah, setiap investor harus paham betul yang namanya risk appetite

alias tingkat risiko. Dalam kondisi risk appetite, individu atau organisasi akan memilih perilaku menerima, memantau, memaksimalkan atau mempertahankan diri sembari mempertimbangkan peluang yang ada.

Sehingga saat risk appetite ini menjadi makin baik, emas akan ditinggalkan lantaran investor memilih beralih ke aset investasi lain yang lebih berisiko. Sekadar informasi, risk appetite ini sendiri biasanya dipengaruhi oleh kondisi fundamental makro-ekonomi serta sentimen pasar. Contohnya jika nanti vaksin Covid-19 ditemukan, perekonomian bakal bergairah dan risk appetite membaik. Yang akhirnya, harga emas berangsur-angsur turun.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, tentu bisa ditarik kesimpulan yang cukup kontradiktif. Dimana kalau ingin harga emas terus meningkat, maka artinya perekonomian global terus tidak membaik. Namun kalau ingin perekonomian global membaik, siapapun harus menerima fakta bahwa harga emas bakal terkoreksi tajam.

Kendati begitu, emas tak bisa dibantah sebagai salah satu portofolio investasi terbaik dalam langkah diversifikasi, lantaran dapat meminimalisir risiko. Apalagi sampai kapanpun, emas tetaplah jadi simbol kekayaan yang membuat minatnya terus terjaga sampai kapanpun. Sehingga dalam jangka panjang, harga emas masihlah stabil dan berpeluang menguat.

Bagikan ;
Share
Published by
Arai Amelya

Recent Posts

Kenapa Saham UNVR Anjlok, Saatnya Beli atau Jual Rugi?

Saham UNVR (Unilever) adalah salah satu saham bluehip yang sering juga menjadi list saham yang…

1 hari ago

10 Saham Rekomendasi Saat PPKM Darurat Diperpanjang

Jika sesuai dengan jadwal, PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat di Jawa - Bali akan…

5 hari ago

Hal-Hal Penting Bagi Investor Saham Jika PPKM Darurat Diperpanjang

Terus bergerak melaju hingga akhirnya menembus 2,73 juta kasus per hari Jumat (16/7) sore, pandemi…

6 hari ago

10 Rekomendasi Perusahaan Farmasi Yang Cocok Untuk Investasi

Industri kesehatan merupakan industri yang masih bisa mencatat kenaikan pendapatan ketika pandemi. Karena pandemi memaksa…

7 hari ago

Ingin Beli Saham BBCA? Coba Pertimbangkan 6 Hal Ini Dulu!

Saham BBCA merupakan salah satu saham bluechip perbankan yang harganya mahal. Walaupun mahal, saham ini…

7 hari ago

10 Perusahaan Bakrie Group Untuk Pilihan Investasi Saham

Beberapa hari ini banyak muncul pemberitaan mengenai Ardi Bakrie sebagai pimpinan di beberapa perusahaan Bakrie…

1 minggu ago