Perjalanan Harga Emas Tahun 2020, Bakal Rp4,5 Juta Per Gram?

Tak ada yang bisa membantah betapa besar dampak pandemi Covid-19 di seluruh dunia. Bahkan hingga Jumat (21/8) pagi ini, pasien dengan positif virus SARS-CoV-2 secara global sudah menembus 22,4 juta orang.

Dengan 14,3 juta di antaranya sembuh dan 788 ribu meninggal dunia, Covid-19 sepertinya masih belum akan usai dalam waktu dekat.

Lantaran jumlahnya terus bertambah secara cepat, ada banyak hal yang akhirnya berubah di era pandemi ini. Salah satunya mengenai pembatasan sosial yang memberikan pengaruh negatif ke berbagai sektor terutama ekonomi.

Kondisi seperti ini membuat banyak negara harus bersiap-siap terhadap kemungkinan resesi global.

Setidaknya hingga bulan ke delapan di tahun 2020 ini, dilaporkan sudah ada 22 negara yang mengumumkan kondisi resesi. Tak hanya negara berkembang, negara-negara maju pun sudah memasuki resesi ekonomi.

Beberapa di antaranya ialah Austria, Belgia, Finlandia, Italia, Meksiko, Belanda, Spanyol, Inggris, Hong Kong, Jepang, Jerman, Thailand, Singapura, dan Filipina.

Baca juga: Cara Belajar Investasi Reksadana dengan Modal Rp100 Ribu!

Seperti yang diketahui, resesi ekonomi jelas memicu kondisi inflasi atau deflasi. Di mana daya beli masyarakat bakal menurun, harga-harga anjlok sampai pengangguran meningkat yang tentunya memang dipicu oleh penurunan aktivitas sosial akibat pandemi Covid-19.

Dalam kondisi seperti ini, setiap orang harus lebih bijak dalam mengelola keuangannya termasuk kebutuhan investasi.

Dan ketika kondisi perekonomian dunia serba tak menentu seperti ini, aset-aset safe haven jelas menjadi buruan banyak orang dalam hal investasi seperti emas. Bahkan di tahun 2020, emas diproyeksi bakal bullish yang terbukti sudah menembus Rp1 juta per gram, titik tertingginya sepanjang sejarah.

Perjalanan Emas Tahun 2020, Aset Safe Haven Idaman

© americangoldllc
© americangoldllc

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, melihat pergerakan harga emas hingga semester kedua tahun 2020 ini memang sesuai dengan prediksi bullish. Menurut Bloomberg Intelligence, emas mempunyai titik support di level US$1.400/troy ons dan titik resisten US$1.700/troy ons.

Dengan fakta itu, bukan tak mungkin emas bakal terus bergerak karena memang penguatan harga emas ini disebabkan oleh volatilitas yang terjadi di pasar saham. Namun jika menilik perjalanan emas di tahun 2020 ini, sebelum akhirnya menembus Rp1 juta per gram pada awal Agustus kemarin, harga emas memang cukup fluktuatif.

Tempo melaporkan bahwa harga pertama emas di tahun 2020 tercatat di kisaran Rp771 ribu per gram yakni pada 2 Januari. Seminggu kemudian, emas langsung menanjak hingga Rp808 ribu per gram. Kemudian sepanjang bulan Februari, logam mulia yang satu ini terus meningkat hingga mencapai titik Rp860 ribu per gram pada 9 Maret 2020.

Baca juga: Hal-Hal yang Wajib Dipelajari Mahasiswa Jika Mau Investasi Saham

Melambungnya harga emas awal tahun 2020 memang dipicu oleh eskalasi ketegangan Timur Tengah. Dimulai pada aksi serangan Iran ke dua pangkalan militer AS di Irak dengan rudal pada bulan Januari 2020, ambisi Iran untuk menciptakan mimpi buruk bagi negara adikuasa itu terlihat dari limbungnya perekonomian Amerika Serikat.

Fluktuatif di Awal Pandemi, Emas Kini Terus Meroket

© The Star
© The Star

Setelah cukup digdaya di dua bulan pertama tahun 2020, harga emas mulai menurun pada Maret yang akhirnya anjlok ke Rp810 ribu per gram pada 17 Maret 2020. Di momen inilah, wabah corona yang aslinya berasal dari Wuhan, China akhirnya mulai menyebar di seluruh dunia.

Banyak negara-negara Eropa yang kolaps karena pandemi sehingga membuat pasar modal rontok. Investor ramai-ramai menjual saham dan membeli emas yang membuat harga logam mulia ini melambung sampai Rp972 ribu per gram pada 7 April 2020.

Kondisi ini terjadi karena memang banyak negara memilih lockdown total sehingga perekonomian mereka memburuk. Termasuk juga Indonesia yang mengambil opsi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Dua bulan luluh lantak karena pandemi Covid-19, beberapa negara pun mulai bangkit kembali dan melakukan relaksasi di berbagai sektor kehidupan termasuk ekonomi.

Perekonomian yang mulai berjalan dan pasar modal yang berangsur hidup lagi membuat emas mengalami sedikit penurunan yakni menjadi Rp876 ribu per gram pada 8 Juni 2020.

Namun ketika dunia berangsur kembali ‘hidup’, tampaknya tidak semua orang cukup yakin dengan berakhirnya wabah corona. Apalagi dengan fakta banyak negara yang mengaku sudah bebas dari Covid-19 dan kembali menghadapi ‘serangan kedua’, menjadikan investor lebih bijak dalam memilih aset investasi.

Dan sebagai aset safe haven yang nilainya terbukti tetap sekalipun pasar bergejolak, emas lagi-lagi jadi incaran utama. Emas yang cocok dalam kondisi inflasi, karena tak terpengaruh kebijakan suku bunga pemerintah ini pun akhirnya terus merangkak sejak bulan Juni 2020.

Setelah menembus Rp1 juta per gram pada 3 Agustus 2020, emas hingga Kamis (20/8) kemarin ada di level Rp1,1 juta per gram.

Ramalan Gila Emas Tembus Rp4,5 Juta Per Gram

© goldfutureinvesting
© goldfutureinvesting

Merangkaknya harga emas di masa new normal ini sebetulnya pernah diprediksi oleh bank investasi populer, Goldman Sachs pada Juni 2020. Seperti dilansir CNBC International, Goldman Sachs menyebutkan kalau dalam tiga bulan ke depan emas akan ada di level US$1.800/troy ons. Lalu enam bulan ke depan menjadi US$1.900/troy ons dan puncaknya menembus US$2.000/troy ons dalam waktu setahun.

Baca juga: Emas, Investasi Primadona di Tengah Pandemi

Namun tampaknya prediksi Goldman Sachs itu bakal terbukti lebih cepat karena hingga pekan ketiga Agustus 2020, emas justru sudah mendekati level US$1.950/troy ons.

Menurut riset yang dilakukan Fitch Solutions, penguatan harga emas masih terjadi dalam beberapa waktu ke depan karena situasi geopolitik dan problem ekonomi dunia.

Situasi suram dunia akibat pandemi Covid-19, serta likuiditas pasar keuangan yang meningkat akibat rendahnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, disebut akan membuat emas terus melambung.

Bahkan Kepala Ahli Strategi Komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen, sampai menyebutkan kalau bukan tak mungkin, emas bakal menyentuh US$4.000/troy ons secara jangka panjang.

Berbeda dengan Hansen, ramalan yang cukup gila justru diungkapkan oleh Dan Olivier selaku pendiri Myrmikan Capita. Olivier berseloroh kalau bisa saja emas menembus level US$10 ribu/troy ons, lantaran aksi bank sentral AS yang melakukan pembelian aset uang secara gila-gilaan di tengah pandemi Covid-19, seperti dilansir Kitco.

Jika satu troy ons setara dengan 31,1 gram, maka kalau US$10 ribu/troy ons dikonversi dengan perhitungan nilai tukar Rp14 ribu per dolar AS, emas bisa menembus Rp4,5 juta per gram seperti dilansir CNBC.

Waspada, Harga Emas Bisa Anjlok Pada November 2020?

© techbullion
© techbullion

Merosotnya perekonomian global akibat wabah corona membuat bank-bank sentral di seluruh dunia mengambil kebijakan moneter tak biasa. Kebijakan ini dikenal dengan nama Quantitative Easing (QE), yakni program pembelian obligasi dan surat berharga. QE inilah yang dianggap sebagai pemicu terus melambungnya harga emas hingga mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah.

Sekadar informasi, pasca krisis finansial global tahun 2008 terjadi, The Fed (Federal Reserve) selaku bank sentral AS menerapkan QE yang membuat emas menembus US$1.920,3/troy ons pada September 2011. Namun meskipun harga emas terus berkilau, Denny Ardhiyanto selaku CEO Sehati Gold justru menghimbau agar mewaspadai penurunan emas di bulan November 2020.

Seperti dilansir blockchainmedia, Denny tak menampik kalau emas memang bakal terus bullish. Bahkan bisa saja emas menembus US$3.000/troy ons sesuai prediksi banyak ekonom di bulan April 2020, atau sekitar Rp1,4 juta per gram.

Namun pergerakan harga emas tidak akan selancar harapan, karena banyak pelaku pasar yang akan melakukan profit taking di semua sektor keuangan termasuk saham dan forex.

Bahkan peristiwa pemilu Amerika Serikat di bulan November 2020 nanti dianggap Denny bisa menjadi sinyal waspada untuk harga emas.

Karena dalam pemilu nanti, hubungan China dengan negara-negara Barat bisa saja sangat terpengaruh. Jika partai Republik yang sebelumnya mendukung Donald Trump kalah sehingga partai Demokrat menang, ketegangan dunia akan mereda yang membuat harga emas akan berangsur menurun.

Jual Saham Perbankan, Warren Buffett Belanja Tambang Emas

Warren Buffett © Reuters
Warren Buffett © Reuters

Lepas dari prediksi harga emas ke depannya, investor terkaya di dunia yakni Warren Buffett justru dilaporkan baru saja menjual saham-saham di bank-bank raksasa AS yang dia miliki.

Dalam laporan SEC (Securities and Exchange Commission) alias OJK (Otoritas Jasa Keuangan)-nya AS, penjualan saham perbankan ini dilakukan oleh Berkshire Hathaway, perusahaan investasi milik Buffett.

Beberapa saham emiten perbankan yang dijual Buffett seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs dan Wells Fargo. Bahkan untuk Goldman Sachs, investor yang menggunakan strategi value investing ini menjual seluruh sahamnya.

Jika di bank terbesar kelima di AS itu Buffett menjual seluruh sahamnya, untuk JPMorgan, ada lebih dari 60% (22 juta lembar saham) dijual Buffett. Sementara untuk Wells Fargo, yang dijual Buffett ada lebih dari 25% (238 juta lembar saham).

Baca juga: 10 Tanda Anda Harus Melepaskan Investasi Sebelum Terlambat

Selain saham perbankan, Buffett dilaporkan juga memilih melepas kepemilikan sahamnya di beberapa institusi keuangan seperti Bank of New York, MasterCard, PNC Financial dan Visa.

Dilansir CNBC per akhir Juni 2020, nilai wajar kepemilikan saham Berkshire Hathaway di sektor perbankan, institusi finansial dan asuransi anjlok jadi US$59,24 juta. Padahal pada akhir Desember 2019 lalu, masih di angka US$102,39 juta.

Dari penelusuran Business Insider, terungkap kalau hasil penjualan saham institusi keuangan tersebut dibuat Buffett untuk belanja saham tambang emas Barrick Gold.

Pembelian saham tambang emas ini dilakukan Buffett pada April-Juni 2020, tepat di saat harga logam mulia itu mulai melambung.

Tak main-main, Buffett menggelontorkan US$563 juta (sekitar Rp8,2 triliun) untuk 21 juta lembar saham perusahaan tambang emas yang berpusat di Kanada tersebut.

Bukan tanpa alasan kenapa akhirnya Buffett mengalihkan keuangannya ke tambang emas, mengingat saham-saham Berkshire Hathaway cukup mengecewakan pada tahun 2020 ini.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar