Sejarah Saham BRIS dan Perkembangannya Saat ini

Pada akhir Agustus 2020 yang lalu, saham BRIS tiba-tiba banyak di perbincangkan oleh banyak pemerhati saham. BRIS adalah kode saham milik PT Bank Rakyat Indonesia Syariah Tbk.

Saham yang dulunya 100% milik Bank BRI ini, dikabarkan meroket hingga 50% dalam satu minggu. Hal ini tentu menarik perhatian para investor. Apakah Anda salah satu yang tertarik dengan saham ini?

Namun sebelum memutuskan untuk membeli saham BRIS, pertanyaannya apakah saham BRIS akan tetap terus naik ataukah ini hanya bertahan sesaat saja? Apakah BRIS secemerlang induknya, yakni BRI yang merupakan salah satu bank dengan aset terbesar di Indonesia?

Sebelum memilih sebuah produk saham, tentunya Anda perlu mengenali lebih dalam mengenai identitas dan juga track record emiten serta hal-hal terkait lainnya.

Karena ternyata, penyebab naiknya saham BRIS kemarin dikaitkan dengan isu bahwa bank syariah milik BUMN ini akan digabungkan dengan bank-bank lainnya.

Menurut Menteri BUMN yakni Erick Tochir, sebagai negara dengan mayoritas umat muslim terbanyak seharusnya memiliki bank syariah yang maju, dan ini adalah salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut.

Sebab ternyata aset bank-bank syariah di Indonesia hanya sebesar 6% saja di bandingkan dengan bank-bank konvensional di Indonesia. Sehingga untuk menandinginya, aset bank-bank syariah yang ada perlu di satukan.

Selain isu tersebut, sebenarnya kinerja BRI Syariah juga di nilai cukup bagus. Karena BRIS mampu menaikan laba bersih 2,5 kali lipat dalam periode 3 bulanan dari Rp. 30,5 M menjadi 78,29 M pada kuartal I 2020.

Hal ini berasal dari pendapatan jual beli, bagi hasil, usaha utama yang meningkat. Namun untuk lebih mengenal lebih jauh emiten BRIS mungkin kita bisa mulai dengan profil perusahaannya terlebih dahulu!

Profil Perusahaan

PT Bank Rakyat Indonesia Syariah Tbk (BRIS) adalah salah satu perusahaan perbankan syariah milik negara (BUMN). Bank ini adalah bank syariah dengan aset mikro terbesar di Indonesia.

Sesuai dengan anggaran dasar perusahaannya, BRIS menyelenggarakan usaha perbankan dengan prinsip Syariah sebagai ruang lingkup usahanya.

Perbedaannya dengan bank konvensional adalah akad transaksinya yang menggunakan asas syariah sehingga tidak mengenal bunga floating.

Bidang usahanya seperti perbankan pada umumnya yakni pembiayaan ada sektor komersil, ritel kemitraan, konsumer, mikro, dan lainnya (non piutang).

Sedangkan pada bidang usaha simpanan ada giro, tabungan dan deposito. Komponen deposito BRISyariah merupakan komponen terbesar yakni 55,8%.

Ini merupakan jumlah yang kebi besar di banding BRI. Artinya kemungkinan biaya pembiayaan BRISyariah akan lebih besar.

Produknya mulai dari :

  1. Perbankan personal, seperti Tabungan Faedah yang merupakan produk simpanan basic perorangan untuk transaksi sehari-hari, ada juga Tabungan Faedah Haji untuk memenuhi kebutuhan biaya ibadah haji, Simpel (Simpanan Pelajar) yang khusus di tujukan untuk tabungan siswa, dll. Selain tabungan personal, ada juga pembiayaan personal seperti KPR Sejarah, Oto Faedah, Pembiayaan Umrah BRISyariah iB dll.
  2. Perbankan Bisnis, seperti Deposito Faedah, Giro Faedah Wa’diah. Sementara bentuk pembiayaan bisnis meliputi Ritel Faedah, Mitra Faedah dll.
  3. Jasa Perbankan lainnya, seperti EMBP (Employee Benefit Program) BRISyaiah iB, Sukuk Negara Tabungan, Sukuk Negara Ritel dll.

Berdasarkan laporan tahunan 2019, Per-tahun 2020, BRISyariah di pimpin oleh Ngatari sebagai Direktur Utama, Kokok Alun Akbar sebagai Direktur Bisnis Komersil, Fidri Arnaldy sebagai Direktur Bisnis Ritel, Fahmi Subandi sebagai Direktur Operasional dan Yana Soeprianan sebagai Direktur Kepatuhan.

Berdasarkan laporan tahunan 2019, BRIS telah memiliki 57 kantor cabang (KC), 215 kantor cabang pembantu (KCP), 10 Kantor Kas, 12 Unit mikro syariah, 2.209 kantor layanan syariah, dengan total 5.932 karyawan.

Sebagai informasi, Aceh merupakan pangsa terbesar BRISyariah dimana potensi portfolionya yakni potensi rekening lebih dari 2,8 juta, pembiayaan Rp. 11 T dan DPK sebesar Rp. 8T.

Sementara itu saat ini Bank BRI Syariah memiliki kantor pusat yang berada di Jalan Abdul Muis No. 2-4 Jakarta Pusat.

Sejarah BRIS

Sebenarnya, bank BRI Syariah merupakan bank yang termasuk cukup lama berdiri di Indonesia. Karena dulunya bank ini di dirikan pada tanggal 3 April 1969 dengan nama PT Bank Djasa Arta, lalu di akuisisi oleh PT Bank Rakyat Indonesia pada 17 Desember 2007.

Satu tahun kemudian tepatnya pada 17 November 2008 BRISyariah resmi beroperasi dengan nama PT Bank BRISyariah. Sebuah bank yang sistem dan kegiatan usahanya di lakukan berdasarkan prinsip-prinsip Islam.

Pada tahun 2009 unit usaha syariah PT Bank Rakyat Indonesia secara resmi melebur (spin off) ke dalam PT Bank BRISyariah.

Perlahan, BRI Syariah berkembang di penjuru Indonesia dengan fokus pada berbagai segmen pasar di masyarakat. Kemudian pada tahun 2013 BRISyariah menjadi Bank devisa.

IPO dan Listing di BEI

Akhirnya BRISyariah menjadi perusahaan terbuka dan mendapatkan pernyataan efektif dari OJK pada tanggal 30 April 2018. Saat itu BRIS menawarkan sahamnya kepada masyarakat sejumlah 2.623.350.600 lembar saham dengan nominal Rp. 500/lembar saham.

Kemudian 1 minggu kemudian yakni pada tanggal 9 Mei 2018, BRIS mencatatkan sahamnya di BEI dengan harga penawaran Rp. 510/ lembar saham. Dengan ini, BRISyariah menjadi BUMN di bidang syariah pertama yang melakukan IPO (Initial Public Offering).

Historis Pencatatan Saham

TanggalTindakan KorporasiSaham
9 Mei 2018IPO Saham perdana @Rp 5102.623.350.600
9 Mei 2018Pencatatan Saham Pendiri 6.995.601.763

Fundamental BRIS

undamental BRIS

Sebagai calon investor, tentunya kita perlu tahu hal-hal yang berkaitan dengan fundamental emiten yang kita minati sahamnya.

Beberapa aspek fundamental yang bisa kita perhatikan misalnya di sisi laba rugi, posisi keuangan perusahaan hingga rasio-rasio keuangan lainnya.

Baca juga : Mengenal Konsep Dasar Keuangan Time Value of Money

Hal ini untuk membantu kita menilai prospek saham berdasarkan bagaimana kinerja perusahaan tersebut. Jadi, jangan sampai melewatkannya!

1. Aset, Hutang dan Modal

Pertama, hal yang bisa kita perhatikan adalah segi aset hutang dan juga modal BRIS. Ternyata dari segi aset, BRIS cenderung meningkat setiap tahunnya begitupun dengan hutang dan modalnya.

Anda bisa melihat detail peningkatan aset, hutang dan modal BRIS selama 2015-2019 pada tabel di bawah ini!

TahunAset
(Rupiah)
Hutang
(Rupiah)
Modal
(Rupiah)
201943,12 T
(+ 13,74%)
38,04 T
(+ 15,65%)
5,09 T
(+ 1,22%)
201837,92 T
(+ 20,20%)
32,89 T
(+ 13,64%)
5,03 T
(+ 93,12%)
201731,54 T
(+ 13,93%)
28,94 T
(+ 14,95%)
2,60 T
(+ 3,70%)
201627,69 T
(+ 14,27%)
25,18 T
(+ 15,01%)
2,51 T
(+ 7,27%)
201524,23 T
(+ 19,12%)
21,89 T
(+ 17,52%)
2,34 T
(+ 36,47%)

2. Pendapatan, Beban Pokok dan Laba Bersih

Kedua, hal yang perlu kita perhatikan selanjutnya adalah mengenai kinerja operasional BRIS.

Dalam hal ini kita bisa melihat data pendapatan, beban pokok dan laba bersihnya berdasarkan laporan laba rugi BRIS per-Desember 2019 yang tersaji selama 5 tahun terakhir yakni dari tahun 2015 hingga 2019.

Jika kita perhatikan, laba bersih BRIS cenderung tidak stabil bahkan turun cukup besar pada tahun 2019 yang lalu. Berikut adalah data selengkapnya!

TahunPendapatan
(Rupiah)
Beban Pokok
(Rupiah)
Laba Bersih
(Rupiah)
20192,30 T1,33 T74,02 M
(- 30,57%)
20181,97 T1,2 T106,60 M
(+ 5,45%)
20171,77 T1,17 T101,09 M
(- 40,61%)
20161,72 T1,16 T170,21 M
(+ 38,79%)
20151,52 T1,13 T122,64 M

Berdasarkan data di atas, Growth pada sisi pendapatan BRIS selama 2015-2019 adalah sebesar 16,54%. Sedangkan Growth pada sisi beban pokoknya adalah sebesar10,97%. Terakhir, pada sisi laba bersihnya Growth sebesar 30,57%.

3. Arus Kas Operasi, Pembiayaan dan Investasi

TahunOperasi
(Rupiah)
Pembiayaan
(Rupiah)
Investasi
(Rupiah)
2019-200,22 M
(- 131,04%)
-10,66 M
(- 100,46%)
-1,19 T
(+ 31,92%)
2018644,98 M
(- 83,85%)
2,31 T
(+ 2.412,19%)
-1,75 T
(+ 36,85%)
20173,99 T
(+ 512,36%)
-100,00 M
(- 110,00%)
-2,77 T
(- 8,79%)
2016652,13 M
(- 64,50%)
1,00 T
(- 13,77%)
-2,55 T
(- 62,89%)
20151,84 T
(+ 343,43%)
1,16 T
(+ 37,25%)
-1,56 T
(- 188,34%)

4. ROA dan ROE

Terakhir, tentang rasio. Ada banyak rasio keuangan yang bisa Anda perhatikan untuk menilai kinerja suatu perbankan. Beberapa diantaranya seperti ROA (Return of Assets) dan ROE (Return of Equity).

Rasio ROA dan ROE BRIS pada tahun 2015 hingga 2019 cukup rendah, berikut adalah data yang dikutip dari laporan BRIS!

TahunROA
(Rupiah)
ROE
(Rupiah)
20190,31%1,57%
20180,43%2,49%
20170,51%4,1%
20160,95%7,40%
20150,77%6,33%

Perkembangan BRIS

perkembangan BRIS

Pemegang Saham

Pada tahun 2019 lalu komposisi pemegang saham BRIS terbesar dimiliki oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 73%, kemudian 18,33% dimiliki masyarakat dan sisanya 8,67% dimiliki oleh DPLK Bank Rakyat Indonesia-Saham Syariah.

Bagaimana dengan saat ini? Berikut adalah daftar pemegang saham beserta persentase saham yang dimiliki masing-masing pemegang saham!

NamaJenisJumlahPersentase
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) TbkLebih dari 5%7.092.761.65573 %
DPLK Bank Rakyat Indonesia-Saham SyariahLebih dari 5%834.096.0008,585 %
MasyarakatKurang dari 5%1.789.255.84318,415 %

Pergerakan Harga Saham

Sejak IPO pada tahun 2018 lalu, berarti saham BRIS sudah 2 tahun melantai di Bursa Efek Indonesia. Bagi Anda yang telah membeli saham BRIS pada awal IPO nya hingga 4 september 2020 kemarin, mungkin sudah mengantongi keuntungan hampir 100%.

Atau bagi Anda yang baru membeli sahamnya pada pertengahan bulan agustus, kini sudah bisa mendapatkan keuntungan sebesar hingga 50%.

Sebagai orang yang tertarik dengan saham BRIS, tentunya Anda ingin tahu bagaimana pergerakan saham BRIS akhir-akhir ini. Apakah dalam rentang waktu satu bulan terakhir harga saham BRIS tetap menanjak naik, ataukah terjadi perubahan?

Baca juga : Belajar Saham, Mengenal Pasar Modal Syariah di Indonesia

Berikut adalah grafik pergerakan saham BRIS dari 11 Agustus 2020 hingga 11 September 2020!

Pergerakan Harga Saham BRIS

Penutup

Saham BRIS adalah salah satu saham perbankan syariah yang baru saja listing pada tahun 2018 yang lalu, sehingga belum terlalu lama melantai di BEI. Saham BRIS sempat naik cukup pesat beberapa waktu lalu. Namun jika melihat selama 5 tahun terakhir, laba bersih BRIS belum bisa secara konsisten naik seperti BRI. Inilah perbedaan antara BRIS dengan BRI dimana aset, ekuitas, pendapatan dan laba bersih BRI terus naik. Jadi, kondisi fundamental BRIS mungkin masih jauh berbeda dengan BRI.

Baca juga : Sejarah dan Perkembangan Saham ANTM Hingga Saat Ini

Demikian ulasan mengenai sejarah dan perkembangan emiten BRIS. Semoga dapat membantu Anda menentukan keputusan yang terbaik karena keputusan pembelian amaupun penjualan saham tetap berada di tangan Anda.

Bagikan ;