BAB 3. Inilah Senjata Utama Value Investor

Terbukti mampu membuat Warren Buffett memperoleh pundi-pundi Dolar AS yang tidak sedikit, value investing memang dalam perkembangannya makin digemari investor. Bahkan kalau dibandingkan strategi investasi saham lainnya, keuntungan yang diraih value investing jauh lebih menjanjikan dan mampu meminimalisir risiko yang ada di pasar modal.

Bukan hanya Buffett, salah satu investor ternama di Indonesia yakni Lo Kheng Hong, sudah sangat setia dengan value investing sejak dulu. Pria yang dijuluki Raja Investasi Saham di Indonesia ini bahkan memiliki aset lebih dari Rp2,5 triliun (per 2018) berkat value investing. Kisah sukses Lo Kheng Hong dimulai saat dirinya membeli saham MBAI (PT Multi Breeder Adirama Indonesia) di tahun 2005 dengan harga Rp250 per lembar.

Kala itu, saham perusahaan yang bergerak di bidang peternakan ayam itu sangat tidak menarik investor. Namun enam tahun kemudian, saham MBAI melambung hingga Rp31.250 yang pastinya membuat keuntungan Lo Kheng Hong langsung melimpah. Tentu melihat pola kesuksesan Lo Kheng Hong dan Buffett sangatlah mirip. Di mana mereka memperoleh cuan berkat kesabaran yang memang jadi kunci value investing.

Baca juga: BAB 1. Value Investing, Strategi Investasi Ala Warren Buffett

Hanya saja untuk bisa menjadi seorang value investor dan menerapkan value investing dengan benar, bukanlah hal mudah. Selain wajib sabar, Anda juga harus memiliki pemikiran dan senjata yang tepat. Senjata? Benar. Senjata yang berkaitan dengan menganalisa saham di pasar modal, akan menjadi modal ampuh untuk jadi value investor yang sukses.

Inilah 4 Senjata Utama Jadi Value Investor Sukses

1. Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan

Seperti yang sudah kami bahas sebelumnya, bahwa salah satu mindset wajib value investor adalah berpikir selayaknya sang pemilik bisnis, bukan hanya sekadar membeli lembaran kertas saham. Karena tak bisa dipungkiri, saat ini banyak investor yang bersikap acuh atas perusahaan yang sahamnya dibeli, dan cuma memperhatikan naik-turunnya angka di platform trading online.

Tentu untuk bersikap layaknya business owner, value investor wajib melengkapi diri dengan senjata utama yakni Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan perusahaan. Dari kedua jenis laporan ini, seorang value investor bisa melihat kinerja perusahaan dan memperoleh gambaran atas bisnis mereka.

Bersyukurlah pada perkembangan teknologi, saat ini Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan perusahaan emiten bisa dilihat di website resmi BEI (Bursa Efek Indonesia) dan diakses masyarakat umum. Berikut adalah tata cara untuk mendapatkan Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan perusahaan emiten:

tampilan website BEI
  1. Buka situs resmi BEI di www.idx.co.id, lalu pilih menu Laporan Keuangan Perusahaan Tercatat di kolom bagian kanan pada website
  2. Anda diminta untuk memilih laporan yang hendak dilihat antara Laporan Keuangan atau Laporan Tahunan
  3. Kemudian pilih jenis efek yang hendak dicek apakah saham atau obligasi
  4. Terakhir tulis kode emiten seperti misalnya kalau ingin melihat kinerja bisnis BCA, tulis kode emiten BBCA
  5. Jangan lupa juga untuk menentukan tahun dan periode laporan supaya memperoleh hasil yang diinginkan

Sekadar informasi, Laporan Keuangan diterbitkan perusahaan setiap tiga bulan sekali alias per kuartal. Khusus untuk Laporan Keuangan Kuartal IV, akan melaporkan kinerja selama setahun dan biasanya dirilis bulan Maret tahun berikutnya, dikarenakan harus melewati proses audit terlebih dulu. Dalam Laporan Keuangan ini, akan berisi angka-angka yang memperlihatkan kinerja keuangan perusahaan.

Sementara untuk Laporan Tahunan yang terbit tiap tahun sekali, tidak cuma menampilkan angka-angka saja. Anda akan memperoleh penjelasan kualitatif dari manajemen, mengenai hal-hal yang dialami perusahan dalam kurun waktu setahun terakhir. Tak hanya itu saja, investor juga akan memperoleh informasi prospek bisnis perusahaan ke depannya. Hal inilah yang membuat Laporan Tahunan lebih tebal dan lengkap daripada Laporan Keuangan.

2. Laporan Neraca (Balance Sheet)

Ketika Anda memperoleh Laporan Keuangan, ada tiga hal yang jadi perhatian seorang value investor. Di mana yang pertama adalah Laporan Neraca alias balance sheet. Melalui Laporan Neraca, Anda bisa mendapat informasi soal nilai kekayaan perusahaan sekaligus dari mana kekayaan itu didapat. Untuk memahami Laporan Neraca, perhatikan tiga komponen utama yaitu Aset, Liabilitas dan Ekuitas.

ASET = LIABILITAS + EKUITAS

Persamaan di atas merupakan dasar pemahaman seorang value investor. Di mana Aset sebuah perusahaan diperoleh dari investasi awal pemilik dan saldo laba/laba ditahan. Namun Aset juga bisa mendapat tambahan dari kreditur (Liabilitas atau hutang).

Contoh termudah ketika Anda hendak membuka katering bersama saudara. Di mana Anda dan saudara dianggap sebagai pemilik dan berhasil mengumpulkan modal dana Rp40 juta. Kemudian pemilik mendapat pinjaman dari pihak ketiga yang disebut sebagai Liabilitas sebesar Rp10 juta. Artinya Aset bisnis katering itu menjadi:

ASET = LIABILITAS + EKUITAS
Rp50 juta = Rp10 juta + Rp40 juta

Dalam perjalanan bisnis perusahaan, antara Aset dengan Liabilitas dan Ekuitas akan terus bergerak bersama dan saling terkait. Jika pihak perusahaan mengambil kredit dari bank demi pengembangan bisnis, misalnya Rp20 juta, maka kas akan meningkat sehingga Aset dan Liabilitas bertambah. Contoh dari bisnis katering tadi, maka asetnya akan berubah jadi:

ASET = LIABILITAS + EKUITAS
Rp70 juta = Rp30 juta + Rp40 juta

Baca juga: BAB 2. Memahami Mindset Sang Value Investor

Kemudian saat bisnis katering sudah berkembang dalam waktu 1-2 tahun, pastinya akan menghasilkan profit. Di mana dalam kasus bisnis katering tadi, perusahaan memperoleh profit sebesar Rp30 juta. Pemilik kemudian memutuskan agar profit itu dijadikan laba tertahan alias Ekuitas. Sehingga penambahan dana ini membuat Aset perusahaan pun berubah lagi seperti ini:

ASET = LIABILITAS + EKUITAS
Rp100 juta = Rp30 juta + Rp70 juta

Dalam membaca Laporan Neraca ini, investor juga harus paham kalau ada dua jenis Aset yakni Aset Lancar dan Aset Tidak Lancar. Aset Lancar bisa dicairkan dalam waktu di bawah setahun, seperti Kas, setara Kas, Piutang Usaha hingga Persediaan. Sementara Aset Tidak Lancar, pencairannya di atas setahun. Lalu ada juga Liabilitas yang dibagi dalam Liabilitas Jangka Pendek (jatuh tempo di bawah setahun) dan Liabilitas Jangka Panjang (jatuh tempo di atas setahun).

3. Laporan Laba Rugi (Income Statement)

Kalau Laporan Neraca membuat Anda bisa melihat nilai kekayaan perusahaan, maka Laporan Laba Rugi akan menampilkan kinerja perusahaan. Karena memperlihatkan informasi kinerja perusahaan, Laporan Laba Rugi merupakan senjata yang sangat penting bagi seorang value investor. Ada beberapa komponen dalam Laporan Laba Rugi yang harus Anda ketahui dan perhatikan berikut ini:

a. Pendapatan (Revenue)

Secara mudahnya, pendapatan adalah total penjualan barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Bukan itu saja, bunga investasi dan royalti juga bisa dianggap sebagai sumber revenue perusahaan. Namun tidak semua perusahaan langsung memperoleh pendapatan saat konsumen membayar sejumlah uang. Karena ada juga perusahaan yang baru memperoleh pendapatan ketika barang atau jasa diterima konsumen.

Begitu pula ada pendapatan yang tidak bisa langsung dikonversi jadi uang kas. Namun ada juga bisnis yang langsung memperoleh revenue uang kas seperti toko ritel. Kondisi berbeda lagi justru dialami penjualan B2B (Business-to-Business) yang butuh waktu lebih lama untuk memperoleh pendapatan.

b. Beban Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold)

Dalam setiap proses produksi barang dan jasa ada biaya yang dikeluarkan oleh pemilik bisnis, namanya beban pokok penjualan yang bersifat variable cost. Semakin besar pendapatan sebuah perusahaan, beban pokok penjualan jelas makin tinggi juga. Namun yang patut digarisbawahi adalah, mana yang lebih besar antara pendapatan dan beban pokok penjualan.

Contohnya seperti bisnis katering di atas, jika Anda ingin meraup penghasilan lebih besar, tentunya akan belanja bahan makanan lebih banyak pula untuk dimasak dan dijual ke konsumen. Besaran pendapatan yang dikurangi dengan beban pokok penjualan, disebut sebagai laba bruto.

c. Laba Bruto (Gross Profit)

Sesuai dengan namanya, laba bruto ini memperlihatkan besaran untung yang didapat perusahaan. Namun karena masih laba bruto, perhitungannya belum dikurangi pengeluaran lain seperti biaya operasional, beban bunga, beban pajak dan lain-lain. Saat laba bruto sebuah perusahaan berkurang, ada beberapa faktor penyebabnya seperti anjloknya penjualan, harga jual yang tak sesuai hingga biaya produksi tak efisien.

d. Beban Operasional (Operating Expenses)

Beban operasional muncul dari kegiatan operasional perusahaan, tapi di luar dari biaya produksi. Kalau mengambil contoh bisnis katering di atas, maka beban operasional ini mencakup biaya promosi untuk mengenalkan katering baik di media online atau media-media konvensional. Bahkan gaji karyawan juga termasuk dalam beban operasional yang harus ditanggung perusahaan. Tidak seperti beban pokok penjualan, beban operasional tak berkaitan dengan peningkatan penjualan.

e. Laba Operasional (Operating Profit)

Perhitungan untuk laba operasional didapat dari besaran laba bruto yang dikurangi beban operasional. Berbeda dengan laba bruto, laba operasional sudah memperhitungkan beban pokok penjualan dan beban operasional. Namun laba operasional masih belum dikurangi beban bunga dan beban pajak. Jika laba operasional menurun, biasanya disebabkan oleh biaya operasional yang kurang efisien seperti pemasaran yang salah kaprah dan gaji karyawan terlalu tinggi.

f. Beban Bunga (Interest Expense)

Dari Laporan Neraca di atas, Anda tentu tahu kalau Liabilitas alias hutang adalah hal normal dalam sebuah bisnis. Jika perusahaan mempunyai hutang, maka sudah pasti akan memiliki beban bunga yang memang jadi tanggung jawab kreditur ke debitur. Beban bunga ini biasanya juga dikaitkan dengan beban pajak yang wajib dibayarkan kepada pemerintah.

g. Laba Bersih (Net Profit)

Tidak seperti laba bruto atau laba operasional, laba bersih benar-benar merupakan hasil keuntungan akhir. Karena laba bersih diperoleh setelah dikurangi berbagai macam biaya termasuk beban bunga dan beban pajak. Laba bersih inilah yang jadi salah satu indikator utama jika investor hendak memilih sebuah perusahaan. Karena naik-turunnya laba bersih, bakal langsung mempengaruhi spekulasi pasar dan harga saham emiten.

Baca juga: Apa itu Cum Date, Ex Date, Recording Date, dan Payment Date Dividen?

4. Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement)

Dalam sebuah bisnis, sukses tidaknya perusahaan dipengaruhi betul oleh laba dan kas. Jika perusahaan tak memperoleh laba, jelas akan membuat investor bersikap negatif. Namun kalau kas perusahaan dianggap cukup sekalipun merugi bertahun-tahun, investor tetap bisa bertahan. Hal inilah yang dialami raksasa e-commerce asal Amerika Serikat, Amazon. Sempat rugi selama delapan tahun, Amazon akhirnya mampu meraup untung besar berkat kas perusahaan yang solid.

Tak heran kalau akhirnya banyak yang sepakat jika Cash is King. Karena saat perusahaan kehilangan kas, maka cepat atau lambat bakal bangkrut karena tak bisa membayar operasional dan produksi perusahaan. Salah satu pilihan yang kerap dilakukan pemilik perusahaan agar bisnisnya bertahan di saat kas menipis adalah dengan menjual aset, meminjam uang hingga menagih piutang konsumen.

Namun bak simalakama, karena saat perusahaan menjual aset, sekalipun memperoleh tambahan kas, kemampuan produksi bakal berkurang. Sementara jika ngotot berhutang tanpa mempertimbangkan kemampuan perusahaan melunasinya, kebangkrutan bakal datang lebih cepat. Sementara kalau menagih piutang dari konsumen, khawatir pihak konsumen akan tersinggung karena merasa bisnis yang Anda tawarkan tidak efisien dalam hal pembayaran.

Untuk itulah sebagai seorang value investor yang cerdas, ada baiknya kalau memang lebih fokus pada kas perusahaan daripada laba. Kenapa begitu? Berikut beberapa alasannya:

  1. Keuntungan bisa dipenuhi sesuai target di kemudian hari, asalkan fondasi perusahaan dan uang kasnya lancar serta kuat.
  2. Besaran kas sangat sulit dimanipulasi baik sengaja atau tidak disengaja. Kok bisa demikian? Karena kas bisa dilihat langsung lewat rekening bank perusahaan

Berangkat dari penjelasan di atas itulah, Laporan Arus Kas memang wajib jadi perhatian khusus seorang value investor. Setidaknya ada tiga bagian utama yang memang wajib dipahami kalau Anda ingin cuan besar di pasar modal:

Arus Kas Operasional (Operating Cash Flow)

Arus kas operasional memperlihatkan laporan arus kas yang digunakan dalam proses produksi barang atau jasa perusahaan. Beberapa contoh item masuk dalam arus kas operasional seperti penjualan produk kepada konsumen dan penjualan surat berharga. Sementara itu contoh arus kas operasional yang keluar seperti bayar bahan baku produksi, bayar bunga sampai kebutuhan riset promosi.

Arus Kas Investasi (Investing Cash Flow)

Sebuah perusahaan yang sudah berjalan profesional, tentu akan memiliki perhitungan aset jangka panjang yang dicatat dalam arus kas investasi. Beberapa contoh untuk arus kas investasi yang masuk seperti penjualan investasi jangka panjang atau pendek hingga penjualan properti. Sementara untuk arus kas investasi keluar, bisa mencakup pembelian mesin baru, pendirian pabrik baru sampai biaya akuisisi perusahaan.

Arus Kas Pendanaan (Financing Cash Flow)

Seperti namanya, arus kas pendanaan ini mencakup peminjaman uang oleh perusahaan. Beberapa contoh arus kas masuk untuk jenis pendanaan seperti hutang bank, penerbitan obligasi sampai penjualan saham treasury. Lalu untuk contoh arus kas pendanaan yang keluar seperti buyback saham treasury, bayar dividen dan tentunya bayar hutang ke bank.

Baca juga: 11 Daftar Saham Blue Chip Indonesia Tahun 2020

Kesimpulan

Tentunya dibutuhkan pembelajaran terus-menerus sehingga akhirnya Anda bisa menjadi seorang value investor yang berpengalaman. Tenang saja, tak perlu harus jadi lulusan ilmu ekonomi untuk mencoba membaca laporan-laporan perusahaan di atas, tapi yang dibutuhkan adalah semangat untuk mencoba memahami perusahaan. Karena semakin kenal Anda dengan kondisi finansial perusahaan, maka Anda bisa menerapkan strategi value investing secara tepat.

Bagikan ;