Categories: Pasar Modal

BAB 2. Memahami Mindset Sang Value Investor

Sebagai instrumen investasi yang hingga saat ini dianggap paling menguntungkan, saham memang masih memiliki daya tarik yang luar biasa tinggi. Setelah banyak bursa-bursa saham di dunia terpuruk karena pandemi Covid-19, kini sejak awal Juni 2020 semuanya sudah mulai bangkit kembali.

Saham-saham dengan fundamental oke tetap mampu bertahan dan bahkan ada banyak investor yang tetap memperoleh cuan. Cuan ini pula lah yang membuat orang tetap memilih saham sebagai investasi andalan. Banyak yang berpikir bahwa dengan saham, bisa memperoleh uang tanpa harus bekerja. Saham pun dianggap mampu memberikan keuntungan jauh lebih besar daripada properti, emas atau deposito.

Apakah memang benar begitu? Apakah memang saham hanya memiliki keuntungan saja?

Jawabannya adalah tidak. Saham juga berpeluang membuat seseorang kehilangan uang dalam waktu singkat. Apalagi untuk investor pemula yang tidak cukup sabar dan kurang memahami pasar modal, kerugian dan kehilangan dana dalam jumlah besar adalah risikonya. Tentu Anda jelas tak ingin mengalami hal itu, bukan? Untuk itulah sebagai investor, patut memiliki strategi yang tepat.

Baca juga: BAB 1. Value Investing, Strategi Investasi Ala Warren Buffett

Dari banyaknya strategi investasi saham terutama dalam pendekatan fundamental, value investing muncul sebagai salah satu yang paling populer. Bahkan karena sangat populer dan terpercaya, salah satu orang terkaya di dunia yang juga investor legendaris, Warren Buffett, adalah seorang value investor.

4 Mindset Utama Seorang Value Investor

© ijeab / Freepik

Ada yang bilang bahwa investasi sangat mengandalkan keberuntungan. Tidak sepenuhnya benar, karena keberuntungan itu juga bukan kebetulan semata. Ada banyak hal yang menjadi faktor pemicu keberuntungan seperti kondisi pasar, analisa yang tepat hingga modal yang digelontorkan. Wah kalau begitu, apakah harus jadi orang yang kaya dan pintar akademik untuk bisa jadi investor sukses? Tidak juga.

You don’t need to be a rocket scientist. Investing is not a game where the guy with the 160 IQ beats the guy with 130 IQ

Warren Buffett

Menurut Buffett, agar bisa sukses berinvestasi tak harus jadi orang dengan IQ super tinggi,. Murid dari investor legendaris Benjamin Graham sekaligus penemu value investing ini pun menambahkan bahwa seorang investor tak wajib mempunyai latar belakang dunia ekonomi finansial. Karena 60% keberhasilan yang dialami investor di pasar saham, ternyata tidak ditentukan oleh kecanggihan analisa atau besar modal yang ditanamkan.

Lantas apa yang mempengaruhi kesuksesan investor? Pola pikir alias mindset yang tepat. Sekalipun Anda mempunyai analisa dan tools yang sangat sempurna, tapi kalau mindset dalam investasi itu sudah salah, maka jelas percuma saja. Nah, untuk menjadi seorang value investor, berikut adalah beberapa mindset yang wajib dimiliki:

1. Jadilah Sang Pemilik Bisnis

Hakikat investasi saham adalah Anda ‘membeli’ bagian dari sebuah perusahaan dalam jumlah tertentu. Tentu semakin banyak uang yang dikeluarkan untuk membeli, makin besar pula lembaran saham yang dimiliki sehingga membuat portofolio di smartphone terlihat ‘seksi’. Apakah dalam kondisi ini Anda hanya berpikir sebagai pemilik saham saja lalu tak peduli pada kinerja bisnis perusahaan?

Seorang value investor tentu tidak demikian. Karena ketika Anda membeli saham di sebuah perusahaan, mindset mereka adalah bertindak bak sang CEO atau pemilik bisnis. Yap, jika Anda memilih jadi value investor, harus mengetahui bagaimana cara perusahaan itu menghasilkan uang, apa penghalang kinerja bisnis perusahaan sampai seperti apa kompetitor perusahaan.

Lantaran pola pikir inilah, value investor biasanya hanya mau berinvestasi di perusahaan yang memang benar-benar Anda pahami dan minati, serta tentunya mempunyai fundamental bisnis kuat. Alih-alih berinvestasi di perusahaan yang tidak disukai, investasi di perusahaan yang dipahami akan membuat Anda lebih merasa memiliki perusahaan tersebut.

Baca juga: Apa itu Cum Date, Ex Date, Recording Date, dan Payment Date Dividen?

2. Orientasi Jangka Panjang

Masih mengharapkan untung besar dalam waktu singkat lewat investasi saham? Maka itu sudah pasti bukan dasar pemikiran seorang value investor. Ketika Anda memilih strategi value investing, tentu tahu bahwa dalam jangka pendek, harga saham jelas sangat tidak stabil dan naik turun. Namun seiring berjalannya waktu dalam jangka panjang, harga saham tentu akan mengikuti fundamental perusahaan.

Hal inilah yang menjadi tolak ukur seorang value investor saat hendak berinvestasi. Di mana sebelum membeli saham sebuah perusahaan, mereka akan berpikir dan melakukan analisa, ‘apakah perusahaan ini bakal memiliki kinerja bisnis baik dalam waktu 5-10 tahun?’ Kalau memang tidak bisa mendapat jawaban sesuai harapan, maka si value investor jelas tidak akan jadi berinvestasi.

3. Berpikir Rasional

Warren Buffett – Benjamin Graham

Ada yang mengatakan bahwa investasi saham itu selayaknya judi karena terlalu banyak spekulasi dan prediksi. Tentunya seorang value investor bisa menolak mentah-mentah pendapat ini. Karena dalam melakukan keputusan di pasar modal, value investor justru adalah orang yang benar-benar rasional. Jika banyak orang berharap memperoleh untung besar dengan modal kecil dan mengandalkan hoki, tidak dengan value investor.

Di tengah ramainya spekulan di pasar saham yang melakukan transaksi berdasarkan feeling, rumor atau informasi orang lain, hal itu tidak akan pernah dilakukan oleh seorang value investor. Karena bagi value investor, semua hal bisa diperhitungkan, diprediksi berdasarkan data di pasar modal dan kinerja perusahaan.

4. Sabar

Nah inilah yang paling membedakan value investor dengan investor-investor lain dan merupakan hal yang sangat penting, yakni kesabaran. Seorang value investor haruslah memiliki mindset yang sabar dalam melihat harga sahamnya tumbuh. Di saat banyak orang mengeluh karena harga sahamnya tidak naik-naik meskipun pandai melakukan analisa, tidak dengan value investor.

Stock Market is a device for transferring money from the impatient to the patient

Warren Buffett

Bahkan ada pula investor yang tidak sabaran, buru-buru memilih pindah dan memborong saham yang tengah berharga tinggi, dengan harapan akan ikut memperoleh cuan besar. Alih-alih untung, tak sedikit dari investor yang bersikap spekulan ini malah merugi dan terpaksa menjual saham di harga rendah. Tentu kondisi seperti ini jelas tak akan mungkin dilakukan oleh seorang value investor. Karena bagi mereka, kesabaran adalah kunci utama.

Value Investor Harus Bisa Mengendalikan Fear dan Greed

Semua orang sudah tahu bahwa bursa saham sangatlah tidak rasional. Di dalam pasar yang sangat likuid ini, Anda akan berjumpa dengan investor dari seluruh dunia dengan berbagai macam pemikiran. Banyak di antara mereka yang begitu serakah (greed) ketika ada saham yang bergerak naik, sehingga memicu harganya meningkat gila-gilaan (euphoria).

Begitu pula banyak yang sangat takut (fear) saat sahamnya mulai turun yang kalau tidak dikendalikan, akan memicu penurunan harga saham tak masuk akal (depression). Kedua sifat inilah yang sangat sering ditemukan di pasar saham dan bisa membuat seorang investor tak bisa berpikir logis.

Contohnya ketika kondisi pasar bergerak ke arah euphoria, tentu banyak investor yang begitu rakus sampai menggunakan segala cara. Misalkan saja memakai fasilitas margin dari perusahaan sekuritas hingga menggadaikan harta benda. Kondisi ini jelas sangat tidak dianjurkan, karena justru bisa berdampak buruk. Kok bisa? Karena ketika pasar sedang euphoria, harga saham bakal tidak wajar dan jauh melampaui Intrinsic Value.

Baca juga: 11 Daftar Saham Blue Chip Indonesia Tahun 2020

Begitu pula sebaliknya ketika pasar anjlok menuju depression, banyak yang berlomba-lomba menjual saham dengan harga berapapun bahkan sampai merugi dan jauh di bawah harga beli. Kondisi depression yang dipicu oleh fear berlebih ini justru akan membuat harga saham makin terjun bebas dan jatuh di bawah Intrinsic Value.

Value Investor Sang Contrarian

Di tengah kondisi pasar tak rasional karena perilaku greed dan fear itulah, value investor hadir sebagai contrarian alias sang pelawan. Hal ini disebabkan ketika banyak investor jadi greedy saat pasar tengah euphoria, value investor justru merasa cemas. Sementara di saat investor begitu fear waktu market depression, value investor malah yakin dan sangat antusias.

Setidaknya, inilah grafik yang sangat memperlihatkan perilaku value investor yang begitu contrarian itu:

Greed and Fear cycle

Dari grafik di atas, bisa disimpulkan kalau tidak masalah jika seorang value investor bersifat greedy, asalkan memang dalam kondisi yang tepat. Sebagai manusia, mempunyai sifat serakah bukanlah hal yang keliru. Normal bahwa jika Anda yang tengah mempunyai uang Rp20 juta, tentu akan berharap kalau dunia bakal terasa lebih indah jika memiliki uang Rp500 juta. Bahkan tak perlu malu mengakui kalau Anda tidak akan puas sampai uang itu berjumlah Rp1 miliar.

Berangkat dari situlah, value investor bebas-bebas saja menjadi serakah, terutama saat harga-harga saham menjadi sangat murah. Ketika banyak orang merasa menjadi investor adalah langkah terburuk dan memilih menjual saham dengan harga sangat murah hanya sebuah rumor tidak jelas, di sinilah waktunya value investor menjadi sangat greedy dan membeli saham-saham bluechip yang dihargai tidak sesuai fundamental perusahaan.

Dengan bersikap serakah dan cemas di waktu yang tepat, maka itulah saat di mana Anda sudah menjadi seorang value investor sejati seperti Buffett. Karena bukankah seseorang yang sukses itu adalah mereka yang berani melawan keadaan? Untuk itulah, terapkan betul pemikiran sebagai value investor, jika Anda memang ingin sukses di dunia saham.

Be Fearful when others are greedy, and be greedy when others are fearful”

Warren Buffett

Bagikan ;
Share
Published by
Arai Amelya

Recent Posts

Ini 8 Investasi Modal Kecil Mulai dari 100 Ribuan, Cocok Bagi Pemula!

Jika mendengar kata investasi maka yang akan terpikirkan adalah sesuatu yang memiliki nilai keuntungan. Hal…

2 minggu ago

HERO Tutup Semua Giant, Begini Kinerja 8 Saham Emiten Ritel Modern

Kabar mengejutkan datang dari sektor ritel modern. Terbaru, PT Hero Supermarket Tbk (HERO), mengumumkan bakal…

3 minggu ago

Merger Gojek – Tokopedia, 8 Emiten Saham Teknologi Langsung Cuan?

Setelah begitu ramai berhembus sejak April kemarin, akhirnya dua raksasa startup asal Indonesia takni Gojek…

3 minggu ago

Penting! Ini Cara Membedakan Saham Likuid dan Tidak Likuid

Bagi Anda para investor pemula yang ingin memulai investasi saham, pasti sudah pernah mendapatkan saran…

4 minggu ago

Investor Wanita dan Bagaimana Perkembangannya Saat Ini ?

Pada tanggal 21 April 2021 yang lalu adalah hari peringatan nasional yang kita kenal sebagai…

4 minggu ago

Mau Investasi Saham? Pahami Dulu Apa itu Bid dan Ask Serta Istilah Lain

Sebenarnya, pada saat kita bertransaksi saham di pasar sekunder (setelah IPO) kita bukan lagi hanya…

1 bulan ago