BAB 4. Rasio Dasar Fundamental yang Wajib Diperhatikan Value Investor

Dalam artikel sebelumnya, kami sudah membahas mengenai ‘senjata-senjata’ yang jadi modal ampuh seorang value investor ‘berperang’ di pasar modal. Beberapa senjata itu mulai dari Laporan Keuangan, Laporan Tahunan, Laporan Neraca, Laporan Laba Rugi dan Laporan Arus Kas.

Namun ternyata, bukan hanya sederet laporan itu saja yang menjadi amunisi wajib seorang value investor. Kalau memang Anda hendak menerapkan strategi value investor secara tepat, ada beberapa rasio dasar fundamental yang harus jadi perhatian dalam setiap laporan keuangan. Penasaran? Berikut akan kami bahas satu-persatu untuk Anda.

Rasio Fundamental dalam Laporan Neraca

Melalui Laporan Neraca, investor akan mengetahui posisi keuangan perusahaan termasuk informasi hutang. Dengan membaca Laporan Neraca, investor akan tahu berapa banyak hutang perusahaan termasuk, berapa kas yang dimiliki untuk membayar hutang perusahaan hingga apakah perusahaan mampu melunasi Liabilitas (hutang) yang dimiliki.

Baca juga: BAB 1. Value Investing, Strategi Investasi Ala Warren Buffett

Supaya lebih jelas lagi, berikut contoh Laporan Neraca yang bisa dipelajari:

contoh Laporan Neraca
contoh Laporan Neraca

1. Rasio Lancar (Current Ratio)

Jika Anda ingin tahu berapa kali yang dibutuhkan perusahaan untuk membayar hutang jangka pendek dengan menggunakan Aset Lancar seperti kas, piutang dagang hingga persediaan, maka rumus Rasio Lancar adalah jawabannya. Dengan Rasio Lancar pula, Anda tak perlu menghitung Aset Tetap seperti pabrik, properti dan peralatan. Berikut rumusnya:

Sehingga kalau menyesuaikan dengan Laporan Neraca di atas, maka Rasio Lancar didapat dari 60.000.000:40.000.000 = 1,5. Artinya, dalam setiap satu Rupiah hutang, perusahaan mempunyai 1,5 Rupiah untuk membayarnya. Makin besar angka Rasio Lancar, maka makin baik pula kondisi keuangan perusahaan.

Jika nantinya perusahaan yang Anda pilih mempunyai Rasio Lancar kurang dari 1, bisa disimpulkan jika perusahaan itu tak punya sumber daya untuk melunasi Liabilitas-nya. Tak hanya Rasio Lancar, ada juga yang namanya Rasio Cepat (Quick Ratio) dan Rasio Kas (Cash Ratio) yang juga bisa menghitung kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendek dengan Aset Lancar. Berikut rumusnya:

Dari rumus-rumus di atas bisa disimpulkan bahwa:

  • Rasio Lancar yang baik adalah lebih dari 1.0
  • Rasio Cepat yang baik adalah lebih dari 1.0
  • Rasio Kas yang baik ada di antara 0.5-1.0

2. Rasio Hutang Terhadap Modal (Debt to Equity Ratio)

Nah, kalau Anda dihadapkan pada pertanyaan apakah hutang atau Liabilitas yang dimiliki perusahaan baik jangka panjang atau jangka pendek bisa dibayar dengan Ekuitas (modal), maka menggunakan perhitungan Debt to Equity Ratio. Berikut rumusnya:

Rasio Hutang Terhadap Modal (Debt to Equity Ratio)

Sehingga jika berdasarkan rumus tersebut, maka Rasio Hutang Terhadap Modal dari Laporan Neraca di atas adalah 100.000.000/200.000.000 = 0,5. Arti 0,5 ini menunjukan bahwa total Liabilitas perusahaan hanya 0,5 kali atau 50% dari total Ekuitas perusahaan. Berbanding terbalik dengan Rasio Lancar, semakin kecil angka Rasio Hutang Terhadap Modal, maka makin baik kondisi keuangan perusahaan.

Baca juga: BAB 2. Memahami Mindset Sang Value Investor

Jadi kalau perusahaan yang Anda pilih memiliki jumlah Rasio Hutang Terhadap Modal yang lebih besar jika dibandingkan dengan Ekuitas, artinya finansial emiten tidak terlalu baik. Hanya saja, ada beberapa industri yang masuk dalam pengecualian dalam perhitungan rasio seperti sektor konstruksi, perusahaan investasi hingga perbankan.

Rasio Fundamental dalam Laporan Laba Rugi

Jika Laporan Neraca membuat value investor mengetahui informasi hutang perusahaan, maka Laporan Laba Rugi akan memperlihatkan keuntungan perusahaan. Namun bagi seorang value investor, jumlah profit bukanlah jadi pertimbangan utama. Di mana dalam melihat kesehatan finansial perusahaan, ada faktor pendapatan, biaya hingga laba rugi itu sendiri.

Agar makin paham, berikut contoh Laporan Laba Rugi dan perhitungan rasio fundamental yang bisa Anda pelajari:

contoh Laporan Laba Rugi dan perhitungan rasio fundamental
contoh Laporan Laba Rugi

1. Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)

Seperti namanya, Gross Profit Margin akan memperlihatkan keuntungan perusahaan jika dilihat dari laba kotor yang didapat. Sehingga seperti ini rumusnya:

Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)

Kalau menggunakan data dari Laporan Laba Rugi di atas, maka besaran Margin Laba Kotor menjadi (50.000.000/80.000.000)x100% = 62,5%. Sehingga berarti, perusahaan memperoleh profit sebesar 62,5% dari total pendapatan setelah dikurangi beban pokok penjualan. Namun laba kotornya belum dikurangi beban operasional.

2. Margin Laba Operasional (Operating Profit Margin)

Sedang jika Anda ingin mengukur besar profitabilitas perusahaan dari Laba Operasional, maka menggunakan rumus Operating Profit Margin seperti berikut ini:

Margin Laba Operasional (Operating Profit Margin)

Dengan data dari contoh Laporan Laba Rugi di atas, maka akan memperoleh perhitungan (30.000.000/80.000.000)x100% = 37,5%. Dari hasil ini disimpulkan bahwa Operating Profit Margin yang dinikmati perusahaan sebesar 37,5% dari total pendapatan setelah dikurangi beban pokok penjualan dan biaya operasional, tapi belum termasuk beban pajak dan beban bunga.

3. Net Profit Margin

Jika sudah diketahui cara perhitungan profitabilitas dari besaran Laba Kotor dan Laba Operasional, maka Net Profit Margin akan menghitung keuntungan dari Laba Bersih. Seperti inilah rumusnya:

Net Profit Margin

Baca juga: BAB 3. Inilah Senjata Utama Value Investor

Dengan menggunakan informasi Laporan Laba Rugi yang ada di atas, maka Net Profit Margin perusahaan sebesar (20.000.000/80.000.000)x100% = 25%. Bisa disimpulkan kalau perusahaan mendapatkan keuntungan sebesar 25% dari total pendapatan setelah dikurangi seluruh beban termasuk beban pokok penjualan, biaya operasional, beban pajak dan tentunya beban bunga.

Rasio Fundamental dalam Laporan Arus Kas

Nah, rasio fundamental terakhir yang harus dipelajari betul dalam strategi value investing diperoleh dari Laporan Arus Kas. Bisa dibilang kalau Laporan Arus Kas memiliki sifat yang sangat krusial karena jika perusahaan tak bisa menjaga kesehatan arus kas-nya, maka cepat atau lambat bakal bangkrut.

Namun bagi seorang value investor, dalam melakukan analisa fundamental terhadap Laporan Arus Kas, tidaklah semata bisa disimpulkan jika arus kas perusahaan meningkat, maka finansial perusahaan dalam kondisi baik. Kok begitu? Karena ada beberapa hal lain yang wajib dicek seperti apakah peningkatan itu disebabkan dari Operating Cash Flow atau Financing Cash Flow?

Sehingga kalau nominal arus kas meningkat karena Financing Cash Flow, artinya perusahaan melakukan pinjaman. Sedangkan jika Operating Cash Flow yang malah negatif, bisa disimpulkan kalau kondisi keuangan perusahaan bisa bermasalah. Supaya makin yakin, berikut penjelasannya:

1. Operating Cash Flow

Seperti yang disinggung sebelumnya, finansial perusahaan bisa dikatakan dalam kondisi baik jika Operating Cash Flow memiliki nilai positif. Sehingga artinya, uang kas masuk lebih besar daripada keluar. Operating Cash Flow yang besar membuat perusahaan bisa membayar berbagai kebutuhan operasional. Namun kalau nilainya negatif, perusahaan bakal mengalami keuangan yang sulit karena tak bisa bayar gaji karyawan atau membeli bahan baku produksi.

2. Investing Cash Flow

Berbanding terbalik dengan kondisi Operating Cash Flow, finansial perusahaan justru dianggap baik jika Investing Cash Flow mencatat nilai negatif. Lhoh kok begitu? Karena artinya perusahaan melakukan ekspansi entah membeli peralatan, pabrik atau melakukan akuisisi perusahaan lain. Sehingga bisa disimpulkan kalau masa depan bisnis perusahaan sangat baik.

Namun kalau Investing Cash Flow bernilai positif, artinya perusahaan tidak mempunyai prospek bisnis ke depannya. Bahkan bisa makin buruk kalau perusahaan malah melakukan penjualan aset yang memicu turunnya kapasitas produksi dan revenue.

3. Financing Cash Flow

Khusus untuk kondisi Financing Cash Flow, rupanya dilihat dari selisih antara Operating Cash Flow dan Investing Cash Flow. Jika jumlah Operating dan Investing Cash Flow bernilai positif, maka Financing Cash Flow yang baik bernilai negatif. Kenapa begitu? Karena artinya Operating Cash Flow bisa menutupi Investing Cash Flow, sehingga kelebihan kas bisa digunakan untuk membayar hutang.

Namun kalau jumlah Operating dan Investing Cash Flow bernilai negatif, maka Financing Cash Flow haruslah positif. Dengan begitu perusahaan harus bisa melakukan pinjaman untuk bayar hutang di saat Operating Cash Flow tak bisa menutupi Investing Cash Flow. Agar lebih paham, seperti ini contohnya:

Laporan Arus Kas beberapa perusahaan

Perusahaan A mempunyai Operating Cash Flow positif Rp65 juta, sehingga mampu menutupi Investing Cash Flow yang negatif Rp25 juta, dan akhirnya tersisa Free Cash Flow sebesar Rp40 juta. Free Cash Flow yang positif bisa digunakan untuk membayar pinjaman dari Financing Cash Flow negatif sebesar Rp20 juta. Sehingga perusahaan A mencatat arus kas positif Rp20 juta yang artinya kondisi finansialnya baik.

Baca juga: Apa itu Cum Date, Ex Date, Recording Date, dan Payment Date Dividen?

Lalu ada perusahaan B dengan Operating Cash Flow yang meskipun positif Rp30 juta, tidak bisa menutupi dana Investing Cash Flow yang negatif Rp50 juta. Sehingga perusahaan B mempunyai Free Cash Flow -Rp20 juta. Beruntung, perusahaan memperoleh pinjaman sebesar Rp40 juta yang membuat Financing Cash Flow positif. Jadi sama seperti perusahaan A, perusahaan B juga mencatat arus kas positif Rp20 juta, kendati tak sebaik perusahaan A.

Terakhir untuk perusahaan C, mencatat Operating Cash Flow yang negatif Rp10 juta. Namun karena melakukan penjualan aset, akhirnya Investing Cash Flow bernilai positif sebesar Rp20 juta. Meskipun masih ada Free Cash Flow positif Rp10 juta, perusahaan C juga memperoleh pinjaman yang menjadikan Financing Cash Flow positif Rp10 juta. Dan lagi-lagi, arus kas perusahaan C juga mencatat positif Rp20 juta. Tetapi jika dibandiingkan perusahaan A dan perusahaan B, kondisi finansial perusahaan C yang paling kurang baik.

Kesimpulan

Bagaimana? Merasa cukup pusing untuk menjadi seorang value investor? Tenang saja, Anda tak perlu cemas. Karena meskipun ada banyak sekali hal-hal terkait fundamental yang harus dipahami, value investing sebetulnya adalah salah satu strategi investasi teraman dan terbaik. Dengan kunci utamanya adalah ketelitian dan kesabaran, maka jika berhasil Anda bakal bisa meraup cuan besar seperti Warren Buffett.

Bagikan ;