Investasi

Pahami Perbedaan Antara ETF dan Reksa Dana

Baru – baru ini Bursa Efek mengeluarkan catatan transaksi investasi ETF yang mengalami peningkatan selama 2 kuartal pada tahun 2021.

ETF memang sedang menjadi perbincangan kalangan investor karena risiko investasinya yang lebih terukur dan transparan.

ETF merupakan kepanjangan dari Exchange Trade Fund, yaitu instrumen investasi berupa Reksa Dana terbuka yang mengambil bentuk kontrak investasi kolektif.

Namun si Manajer Investasi mencatat dan menyertakan perdagangan ETF pada bursa efek, layaknya saham. Sehingga proses jual – beli ETF lebih transparan daripada Reksa Dana.

ETF sebenarnya merupakan produk Reksa Dana, namun dikemas dalam bentuk kontrak investasi kolektif yang unitnya kemudian muncul pada bursa efek.

ETF berhasil memadukan dua karakteristik produk sekaligus, yaitu sistem pengelolaan dana yang meniru Reksa Dana dengan sifatnya yang open ended fund.

Kemudian transaksi jual belinya meniru pola dari saham yang lebih bersifat common stock. Sehingga ETF bisa membangun karakternya sendiri yang lebih fleksibel.

Kelebihan ETF dari Reksa Dana adalah dalam hal transaksi dan harga. Harganya tersedia secara real time dan metode ttransaksi layaknya jual-beli saham pada bursa efek.

Merujuk pada data dari Bursa Efek, transaksi ETF pada tahun ini cenderung mengalami kenaikan. Pada kuartal 1 – 2021, volume transaksi ETF mencapai 489,35 juta dengan nilai transaksi sebesar Rp 242 miliar.

Sementara pada kuartal II-2021, volume transaksi ETF kembali naik dari kuartal sebelumnya. Yaitu sebesar 543,31 juta dengan nilai transaksi sebanyak Rp 262 miliar.

Kategori ETF

Ada dua kategori pada instrument ETF, yaitu aktif dan pasif. Instrumen ETF aktif adalah yang pengelolaannya pada seorang Manajer Investasi dengan seluruh kinerja saham bergantung pada dia.

Sedangkan instrument ETF pasif adalah yang Anda bebas memilih instrument pada indeks yang spesifik dalan bursa efek. Kinerja saham pun bergantung pada indeks rujukan itu.

Mekanisme Transaksi

Ada dua cara dalam melakukan transaksi ETF, yaitu melalui pasar primer dan sekunder. Pasar primer dari ETF adalah melalui Manajer Investasi.

Anda melakukan transaksi jual – beli unit penyertaan pada Manajer Investasi dalam satuan unit kreasi. Satu unit kreasi biasanya setara dengan 100.000 unit penyertaan. Namun ada pula unit yang lebih kecil misal 100 atau 500 penyertaan.

Jika pada transaksi Reksa Dana, harga pertama adalah kisaran 1.000 rupiah, namun seorang MI bisa memulai penjualan ETF dalam harga berapapun.

Seorang Manajer Investasi akan membuat harga pertama Reksa Dana mengacu pada indeks acuan sehingga memudahkan pemantauan dan perbandingan dengan indeks acuan.

Seorang investor juga bisa melakukan pembelian ETF pada pasar sekunder, yaitu Bursa Efek. Dalam Bursa Efek, unit penyertaan ETF mempunyai satuan lot. 1 lot biasanya berisi 500 unit penyertaan.

Unit yang lebih kecil ini biasanya untuk menjaring investor retail perseorangan, karena mereka biasa bertransaksi dengan nilai yang relatif kecil.

Sedangkan pada pasar sekunder, investor dapat membeli dan menjual unit penyertaan ETF dalam satuan lot. 1 lot setara dengan 500 unit penyertaan melalui Bursa Efek Indonesia.

Kekurangan dari jual beli pada pasar sekunder adalah transaksi bergantung pada permintaan dan penawaran. Bisa saja sebuah ETF tidak ada yang menawar, karena belum banyak orang yang tahu.

Untuk mengantisipasi kosongnya penawaran, ada perusahaan yang kemudian berperan sebagai mediator yaitu dealer partisipan.

Dealer partisipan adalah perusahaan sekuritas yang memainkan peran sebagai penyedia likuiditas untuk ETF.

Mereka merupakan pihak yang bertindak sebagai pembeli dan penjual apabila tidak ada permintaan dan penawaran dari investor retail.

 Dealer partisipan akan memasukkan order permintaan dan penawaran pada harga pasar, dengan harapan bisa mengangkat harga ETF dari grafik dasar. Sehingga bisa dilihat oleh investor lain.

ETF VS Reksa Dana

Jika ada seorang bertanya mengenai ETF dan Reksa Dana, maka kami akan memberikan analogi tentang kendaraan umum dan mobil pribadi.

Reksa Dana itu seperti Anda naik kendaraan umum, dengan seorang Manajer Investasi sebagai supir bus Anda. Dia akan mengatur dan mengarahkan semua dana investasi Anda menurut pembacaan sang MI.

Anda akan menaruh kepercayaan kepada Manajer Investasi untuk mengelola uang Anda sambil mengharap keuntungan.

Seperti seorang penumpang yang pasrah dan tinggal duduk sambil menikmati dan akhirnya sampai ke tujuan.

Namun seorang penumpang tentu harus membayar ongkos kendaraan umum bukan? Begitu pula Anda harus memberikan fee atas keberhasilan Manajer Investasi melipatgandakan uang Anda.

Yang membuat Manajer Investasi bisa melipatgandakan uang Anda adalah karena dia memiliki super tim yang memang berpengalaman mengelola dana investasi.

Sehingga dana investasi Anda bisa menghasilkan return yang maksimal dengan resiko terukur.

Lalu bagaimana dengan ETF? Maka Anda seperti mengendarai mobil pribadi yang tentu sangat memiliki kebebasan dan keleluasaan.

Anda bebas memilih ETF pada indeks yang mana sekiranya bisa memberikan imbal balik yang banyak. Anda juga bisa leluasa memilih kapan harus melaju dan berhenti.

Mirip seperti cara kerja saham, tapi acuan dari ETF adalah indeks gabungan yang merupakan kumpulan banyak saham.

Keunggulan utama dari ETF adalah jadi lebih murah. Karena Anda tidak perlu membayar fee kepada Manajer Investasi, dan mendapatkan sifat likuiditas seperti saham.

Meskipun sejatinya ETF masih termasuk ke dalam jenis Reksa Dana. Namun keduanya memiliki karakter yang berbeda. Kita akan membahas beberapa perbedaan Antara ETF dan Reksa Dana di bawah ini.

Fleksibilitas

ETF menawarkan fleksibilitas yang lebih tinggi dalam hal proses jual – beli jika membandingkannya dengan Reksa Dana konvensional.

Sebagai seorang investor, Anda bisa langsung melakukan proses jual beli ETF baik itu kepada Manajer Investasi atau Bursa Efek.

Sedangkan ketika seorang investor akan menjual atau membeli Reksa Dana konvensional, Manajer Investasi merupakan perantara antara investor dengan pasar modal.

Harga

Pembukaan harga Reksa Dana biasanya mengacu pada penutupan akhir bulan kemarin. Yaitu ketika pasar sudah menetapkan nilai aktiva bersih atau NAB dari suatu Reksa Dana.

Namun penetapan harga ETF biasanya bergantung pada investor institusional, ada berapa lot yang mereka sediakan hari ini. Jika jumlah permintaan meningkat tentu akan mendorong harga.

Namun jika permintaan rendah biasanya mereka akan merendahkan harganya pula. Investor institusional memperdagangkan ETF selayaknya mekanisme saham biasa.

Likuiditas

Jika Anda membandingkan dengan Reksa Dana, maka ETF juga relatif likuid karena likuidasinya ditentukan oleh likuiditas dari saham-saham yang ada dalam produk ETF.

Parameter likuiditas biasanya berdasarkan volume transaksi perdagangan saham harian. Saham yang tidak begitu laku, dianggap tidak likuid, ada peningkatan selisih harga, dan volatilitas yang tinggi.

Biasanya, jika sebuah emiten saham hanya diminati oleh sedikit investor dan volumenya menurun. Kemudian mengalami selisih spread yang meningkat, kondisi ini memaksa seorang penjual memberi diskon untuk tetap mengamankan penjualan.

Ini tidak akan terjadi pada ETF, karena likuiditas ETF tidak berhubungan dengan volume perdagangan ETF harian. Namun lebih berdasarkan likuiditas saham yang termasuk dalam produk ETF tersebut.

Karena ETF bekerja layaknya saham biasa yang fokus pada pengembalian yang besar, maka Anda bisa kapan saja menarik uang Anda dengan menjual ETF yang Anda miliki.

Lalu bagaimana dengan Reksa Dana?

Reksa Dana adalah sebuah wadah besar yang menghimpun dana dari masyarakat pemodal. Dana yang telah terkumpul kemudian akan dikelola oleh Manajer Investasi dalam beberapa instrumen investasi.

Manajer Investasi biasanya akan membagi dana tersebut ke dalam beberapa instrument seperti saham, obligasi, atau deposito.

Baca yuk, Cara Beli Saham Netflix, Starbucks di Bursa Amerika

Reksa Dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal. Khususnya pemodal kecil yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Jika Anda melakukan investasi pada Reksa Dana, maka Anda tidak bisa sewaktu – waktu mengambil uang atau hasil investasinya.

Karena pada awal investasi, ada perjanjian antara Anda dan Manajer Investasi tentang jangka waktu sesuai kesepakatan awal. Tentu ini untuk acuan tentang investasi mana yang cocok untuk pengembalian pada Anda.

Resiko

Secara umum menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ETF memiliko resiko yang hampir sama dengan investasi Reksa Dana.

Yaitu, memiliki potensi penurunan nilai investasi dan berkurangnya nilai unit sebagai akibat dari kondisi pasar dan penurunan performa perusahaan.

Secara khusus, perbedaan ada pada siapa yang paling menanggung resiko. Jika Reksa Dana biasa yang pengelolaan investasinya dilakukan oleh Manajer Investasi, maka resiko paling besar ada pada MI.

Apakah dia benar  – benar mampu membaca pergerakan pasar dan lihai dalam membaca peluang buy and sell.

Dalam ETF, investor bisa memantau sendiri situasi investasi ETF mereka. Karena kedua transaksi, penjualan ataupun pembelian, dapat dilakukan sama saja selama bursa masih aktif.

Jika investor Reksa Dana, hanya dapat melihat informasi 10 saham top. Namun seorang investor ETF bisa mengetahui semua isi portofolio, bahkan sampai informasi bobot masing-masing setiap saham.

Sehingga para ahli investasi menyebut bahwa  ETF lebih transparan dan mereka menilai bahwa resiko pun bisa lebih minim daripada reksadana biasa.

Diversifikasi Portofolio

Meski Reksa Dana juga mengusung konsep diversifikasi yang diatur oleh Manajer Investasi, namun pada ETF sang investor bisa lebih memilih dan tahu pemetaan dari investasinya sendiri.

Jika Anda membeli indeks ETF LQ45, maka Anda memiliki sebuah portofolio yang mencakup semua emiten saham di 45 perusahaan tersebut.

LQ45 merupakan indeks yang berisi saham dari 45 perusahaan yang mampu memberikan imbal keuntungan yang besar karena sedang mendapat keuntungan yang besar.

Baca juga, Saham Saham Perusahaan Teknologi

Biasanya indeks LQ45 akan disesuaikan setiap enam bulan, yaitu bulan Februari dan Agustus. Jadi jika indeks saham LQ45 sedang mengalami penyesuaian, maka otomatis ETF Anda juga menyesuaikan.

Transparansi

Sudah banyak kita bicarakan sebelumnya bahwa ETF memiliki sifat seperti saham karena pergerakannya yang mengikuti indeks saham pada Bursa Efek.

Bahkan para pengamat investasi meletakkan kedudukan ETF sejajar dengan saham. Karena kesamaannya dalam hal transparansi.

Transparansi merupakan sifat yang sangat membantu para investor dan calon investor untuk menilai kinerja emiten dan indeks.

Tentu ini berbeda dengan kinerja Reksa Dana yang para investor bisa melakukan pemantauan hanya sebulan sekali pada awal bulan.

Penutup

Demikian penjelasan kami mengenai ETF dan bagaimana karakternya yang unik karena menggabungkan sifat Reksa Dana dan Saham. Semoga bisa menjadi referensi bagi para pembaca sahamtop.com. tetap jaga kesehatan ya gais!!

Bagikan ;
Share
Published by
Alfian Ihsan

Recent Posts

Ada Varian Baru Covid-19, Seperti Ini Performa Emiten Saham Minyak

Tanpa terasa pandemi Covid-19 sudah hampir dua tahun melanda Indonesia. Tentu jika melihat apa yang…

3 hari ago

Kenalan dengan NFT, Aset Digital yang Viral di 2021

Dalam beberapa bulan terakhir, nama NFT (Non-Fungible Token) tengah ramai diperbincangkan. Tidak hanya mereka yang…

2 minggu ago

Diborong Konglomerat, Intip Kinerja Saham Emiten Rumah Sakit

Tanpa terasa pandemi Covid-19 sudah hampir dua tahun lamanya melanda seluruh dunia. Perubahan jelas terjadi…

2 minggu ago

Horor Krisis Evergrande, Ada Properti China Gagal Bayar Lagi?

Sepanjang bulan Oktober 2021 kemarin, perekonomian China memang jadi sorotan dunia. Tak lain dan tak…

2 minggu ago

First Jobber Mau Beli Saham? Simak Hal-Hal Berikut Ini!

Lulus kuliah atau sekolah, lalu memperoleh penghasilan dari pekerjaan pertama. Sangat menyenangkan, bukan? Kondisi inilah…

3 minggu ago

Mengenal Berbagai Musim Saham, Kapan Waktu Terbaik Berinvestasi?

Investasi saham adalah salah satu jenis investasi yang beresiko tinggi. Namun bukan berarti kita tidak…

1 bulan ago