Penting! Ini 8 Faktor Mengakhiri Investasi Reksa Dana

Investasi reksa dana merupakan cara investasi jangka panjang, namun beberapa orang memilih untuk segera mengakhirinya. Ini dia 8 faktor mengakhiri investasi reksa dana bagi sebagian orang.

Ada pepatah Cina yang terkenal, “Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua adalah sekarang.”

Ini juga berlaku untuk sebuah aktifitas investasi, karena uang yang Anda investasikan lebih awal akan mendapat lebih banyak waktu untuk tumbuh dan menghasilkan pengembalian yang substansial.

Sisi lain dari pepatah tersebut adalah menarik investasi ketika waktunya tepat. Tapi kapan waktu yang tepat itu?

Jika Anda sedang berinvestasi pada reksa dana, apakah Anda berpikir itu adalah investasi jangka panjang atau Anda tiba-tiba ingin menarik semua uang Anda?

Skema reksa dana mempunyai sifat yang beragam dan investasi di dalamnya bergantung pada selera risiko investor dan kebutuhan untuk memanfaatkan pergerakan pasar.

Dalam hal reksa dana, investor yang rajin dapat menemukan banyak informasi di domain publik yang dapat membantu mereka membuat keputusan investasi.

Ada informasi tentang cara berinvestasi, kapan harus berinvestasi, dana mana yang harus dipilih, bagaimana memilih dana, risiko yang terlibat dalam reksa dana dan banyak lagi.

Namun Anda tidak akan menemukan banyak petunjuk mengenai bagaimana strategi keluar dari investasi reksa dana. Anehnya tidak banyak investor yang bertanya dan memahami hal ini.

Padahal sangat penting bagi seorang investor untuk memiliki pengetahuan seputar strategi keluar dari investasi, tentu dengan membawa keuntungan yang paling optimal.

Minimnya pengetahuan ini yang membuat setiap kali pasar bergejolak kemudian investor panik dan keluar berdasarkan sentimen daripada strategi yang terencana dengan baik.

Padahal mungkin saja gejolak pasar hanya terjadi selama beberapa hari dan setelahnya akan normal kembali.

Namun tidak adanya pengetahuan yang cukup menjadi penyebab kepanikan dan keputusan yang tidak strategis.

Kapan Sebaiknya Melakukan Divestasi

Mengetahui cara keluar dari reksa dana sama pentingnya dengan mengetahui kapan harus melakukan investasi. Jangan sampai ketidaktahuan kemudian menghancurkan proses pembangunan kekayaan Anda.

Keluar dari reksa dana tidak boleh dilakukan berdasarkan perubahan pasar, kecuali dalam keadaan darurat. Seseorang harus melakukannya dengan penuh pertimbangan dan dengan rencana tindakan.

Ada banyak investor mencoba mengatur market time dengan keluar dari investasi mereka dengan harapan untuk berinvestasi kembali pada tingkat yang lebih rendah. Ini adalah strategi klasik dari market time.

Juga, kadang-kadang, investor cenderung memperlakukan reksa dana seperti saham yang volatilitas atau kerentanannya lebih tinggi.

Sebuah saham bisa menjadi terlalu rendah atau terlalu mahal, kemudian si investor memandang reksa dana-nya seperti aktifitas saham.

Yang ketika memiliki nilai tinggi kemudian ingin cepat menarik uangnya karena takut tiba-tiba nilai investasinya akan turun lagi.

Reksa dana, pada hakikatnya, adalah sekeranjang produk investasi dan harga setiap unit mencerminkan nilai produk dalam keranjang.

Oleh karena itu, pertanyaan tentang penilaian yang berlebihan atau penilaian yang rendah tidak akan muncul.

Investasi dan divestasi adalah dua sisi mata uang yang sama, divestasi atau menarik uang dari proyek investasi diasumsikan sama pentingnya dengan yang pertama.

Faktor Mengakhiri Investasi Reksa Dana

Sebagaimana Anda memahami kapan dan berapa banyak uang yang Anda keluarkan untuk berinvestasi, Anda juga harus menyadari kapan Anda harus menyelesaikan investasi Anda.

Berikut adalah 8 faktor mengakhiri investasi reksa dana, jika Anda menemui salah satu faktor ini pada reksa dana Anda mungkin sebaiknya Anda melakukan divestasi segera.

1. Performa Buruk yang Berkelanjutan

Semua orang tentu berinvestasi dalam reksa dana dengan tujuan keuangan, tidak ada yang ingin merugi dalam aktifitas investasi.

8 faktor mengakhiri investasi reksa dana

Hanya dengan menyetorkan uang pada manajer investasi saja tidak cukup. Anda juga harus memantau investasi reksa dana Anda secara berkala.

Pemantauan ini untuk menilai kinerja MI berdasarkan kinerja kategori atau pengembalian dana indeks.

Dalam kebanyakan kasus, beberapa investor memeriksa kinerja reksa dana dalam lima tahun terakhir dan perbandingannya dengan indeks kinerja saat ini.

Anda juga dapat memeriksa ulasan pada situs web pihak ketiga, dan kinerja dana berdasarkan berbagai parameter.

Jika Anda mendapatkan reksa dana yang berkinerja buruk dalam waktu singkat atau reksa dana yang relatif baru tidak bergerak sesuai dengan tolok ukur, jangan segera menafsirkannya sebagai kegagalan.

Sebaiknya Anda jangan menjadikan itu sebagai alasan yang kuat untuk keluar dari Reksa Dana. Coba lihat pertimbangan lainnya.

Jika indeks prestasi lebih banyak dari indeks kegagalan, itu hal yang wajar dalam setiap proyek investasi manapun.

2. Perubahan Portofolio

Selera risiko Anda memiliki pengaruh langsung pada pilihan investasi Anda. Itulah sebabnya Anda harus memeriksa portofolio dana dan detail lainnya seperti rasio ekuitas terhadap utang, kinerja manajer dana, dan tujuan skema.

Adakah perubahan dalam tujuan investasi perusahaan manajemen aset atau kecenderungan beralih pada investasi lain yang lebih berisiko?

Misalnya, pergeseran mendadak dari saham berkapitalisasi kecil menuju saham yang kapitalnya besar tapi menunjukkan risiko yang lebih besar pula.

Jika iya, mungkin itu bisa menjadi alasan yang cukup bagi investor untuk menghindari risiko dan mempertimbangkan untuk beralih ke reksa dana lainnya.

Sebagian besar orang menginginkan stabilitas pendapatan investasi dalam reksa dana, karenanya mereka tidak suka mengambil resiko yang terlalu besar meski itu keuntungannya bisa lebih besar.

Baca juga: Merger Indosat dan Tri Indonesia Buat Geger Bursa Efek

3. Tumpang Tindih Saham

Investasi dalam reksa dana yang terlalu banyak dapat mengakibatkan tumpang tindih kepemilikan saham.

Ini kebanyakan terjadi ketika investor mengabaikan pengecekan portofolio berbagai dana sebelum berinvestasi.

Tumpang tindih dalam saham sebagian besar terjadi dengan dana berkapitalisasi besar atau blue-chip yang ada dalam investasi saham perusahaan berkapitalisasi besar.

Ini karena sedikitnya jumlah perusahaan berkapitalisasi besar, sehingga akan sia-sia untuk menyimpan dana dengan portofolio yang sama karena mereka akan menghasilkan pengembalian pasar yang sama.

Akan lebih baik untuk mengalokasikan investasi pada jenis saham lain yang menjanjikan pengembalian bersama dengan stabilitas.

Juga, hindari reksa dana dengan terlalu banyak eksposur ke saham tertentu karena ini meningkatkan risiko secara signifikan.

Periksa laporan semua dana dan putuskan mana yang harus Anda keluarkan untuk investasi lebih lanjut dalam dana lain, kepemilikan, atau efisiensi pajak yang lebih besar.

4. Perubahan Manajer Investasi

Keterampilan kepemimpinan penting sebagai seorang manajer investasi dan itulah sebabnya Anda harus memeriksa detail manajer dana, kinerja mereka sebelumnya, dan tugas mereka sebelumnya.

Budaya investasi setiap rumah reksa dana sangat bergantung pada kualitas pengelola dana. Jika keputusan manajer dana menghasilkan pengembalian yang buruk selama periode waktu tertentu dan dana berkinerja buruk, investor harus keluar.

5. Perubahan Alokasi Aset

Jika Anda telah menginvestasikan uang Anda pada reksa dana berbasis ekuitas, volatilitas pasar adalah salah satu risikonya.

Ini berarti Anda harus mengukur kinerja mereka setiap enam bulan untuk memeriksa alokasi aset.

Jika dana Anda telah menghasilkan pengembalian di atas normal, Anda dapat mempertimbangkan penebusan sebagian untuk membukukan keuntungan dan menginvestasikan kembali pada opsi lain.

Perubahan alokasi aset portofolio Anda terkadang terjadi karena pergerakan pasar

Pada sisi lain mungkin perubahan dalam situasi pribadi Anda, seperti perubahan profil usia, memerlukan perubahan dalam alokasi aset Anda.

Dalam kasus seperti itu, Anda dapat mempertimbangkan untuk menyeimbangkan kembali portofolio Anda.

Penyeimbangan kembali aset akan membantu Anda meratakan pengembalian investasi dan bahkan dapat memaksa Anda untuk “menjual tinggi” dan “membeli rendah”.

6. Tujuan Keuangan Tercapai

Membeli rumah, menabung untuk pendidikan tinggi anak atau tujuan pensiun adalah beberapa tujuan hidup utama yang banyak orang berinvestasi dalam reksa dana.

Setelah korpus target tercapai dan tujuan keuangan yang Anda perlukan sudah terpenuhi, investasi mungkin tidak perlu Anda lanjutkan.

Anda dapat menarik seluruhnya atau sebagian tergantung pada kebutuhan keuangan Anda untuk masa depan.

Jika tujuan keuangan sudah dekat, maka ada baiknya juga untuk keluar dari reksa dana yang sifatnya lebih berisiko.

Kemudian memanfaatkan uang dari aset pendapatan tetap untuk menjaga keuntungan terlindung dari volatilitas pasar.

7. Kebutuhan Darurat

Investasi reksa dana menjadi pilihan bagi orang yang ingin memanen hasilnya untuk jangka panjang.

8 faktor mengakhiri investasi reksa dana

Namun seringkali kita tidak bisa menduga kebutuhan keuangan, misalnya tiba-tiba ada keluarga yang sakit dan membutuhkan biaya operasi besar.

Jika satu-satunya cara mendapatkan uang adalah dengan menarik investasi, apakah kita keberatan untuk itu atau tidak?

Ini melibatkan pertimbangan moral dan keuangan, jika Anda merupakan orang dengan moralitas tinggi maka Anda tidak akan keberatan.

Sedangkan beberapa orang yang lebih suka dengan perhitungan matematis dan kalkulatif, akan menghitung dulu kemungkinan sembuh pasca operasi. Apakah besar uang yang dia keluarkan akan sebanding dengan kesembuhan yang didapatkan.

Kebutuhan darurat juga bisa datang dari force majour seperti bencana alam, tentu semua orang akan segera menarik uang yang masih dia miliki untuk bertahan hidup setelah menjadi korban bencana alam.

8. Mencoba Investasi Lain

Jika Anda merasa reksa dana begitu lambat dalam memberikan pengembalian dalam jumlah yang besar, Anda bisa beralih dari investasi reksa dana ke investasi saham atau kripto.

Beberapa orang kemudian mencoba untuk mengambil sebagian uang mereka dari reksa dana untuk bermain dalam model investasi yang lebih cepat memberikan imbal balik.

Namun sebelumnya Anda harus tahu model investasi dan pengetahuan untuk membaca pergerakan saham atau kripto.

Intinya adalah mempelajarinya lebih dahulu sebelum Anda memulainya, ini akan meminimalisir resiko kerugian berlebih.

Kesimpulan

Kerugian jangka pendek tidak boleh menjadi satu-satunya alasan untuk meninggalkan investasi. Ternyata masih ada 8 faktor mengakhiri investasi reksa dana lain yang bisa jadi pertimbangan.

Keuntungan yang naik turun tidak boleh  Anda tafsirkan begitu saja sebagai tolok ukur utama kinerja reksa dana.

Investasi dalam reksa dana dilakukan dengan mempertimbangkan tujuan keuangan, jadi Anda harus lebih fleksibel untuk keluar, temukan alasan yang kuat dan waktu yang tepat.

Ingatlah untuk menentukan investasi alternatif untuk memarkir uang Anda setelah Anda keluar dari reksa dana.

Apakah Anda ingin memainkan uang Anda pada investasi yang lebih cepat imbal baliknya semacam saham dan kripto atau investasi yang lebih aman seperti emas?

Bagikan ;