Merger Indosat dan Tri Indonesia Buat Geger Bursa Efek

Kesepakatan merger antara PT Indosat Tbk (Indosaat Ooredoo) dan PT Hutchison 3 Indonesia (H3I) akhirnya terlaksana pada awal tahun 2022 ini. Merger Indosat dan Tri Indonesia Buat Geger Investor Bursa Efek.

Merger Indosat dan Tri Indonesia

Merger Indosat dan Tri Indonesia adalah dalam rangka optimalisasi pengadaan layanan jaringan 5G yang akan direalisasikan segera setelah proses merger berjalan dengan lancar.

Proses merger akan membentuk perusahaan gabungan Bernama PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison).

Indosat Ooredoo akan memiliki 60 persen dari saham PT Hutchison 3 Indonesia. Kedua perusahaan sudah melakukan kesepakatan penggabungan pada Desember 2021 dan resmi diumumkan ke publik pada Januari 2022.

Namun penyelesaikan transaksi akan berjalan dengan beberapa tahapan antara lain persetujuan dari pemegang saham Ooredoo Group, CK Hutchison, dan Indosat Ooredoo. Juga persetujuan dari regulator, serta berbagai syarat dan ketentuan.

Jika semua pihak sepakat, maka proses merger akan rampung pada akhir tahun 2021. Kemudian PT Indosat Ooredo Hutchison bisa langsung tancap gas untuk membangun infrastruktur 5G.

Siap – siap nih ges, sudah beli smartphone 5G apa belum? Kalau mimin si…..belum. hehe.

Dampak Merger Bagi Bursa dan Bisnis

Satu hari setelah penandatangana kesepakatan, saham ISAT mengalami uptrend 20 persen dari , karena 6.000 rupiah menjadi 7.8.400 rupiah.

Sedangkan PT Hutchison 3 sahamnya tidak melantai di Bursa Efek, karena 100 persen kepemilikan saham ada pada perusahaan investasi CK Hutchison Holdings Limited.

CK Hutchison merupakan perusahaan asal Hong Kong yang bergerak pada bidang properti, listrik dan telekomunikasi.

Tidak tanggung – tanggung, CK Hutchison mengoperasikan unit usaha pada beberapa negara seperti Hong Kong, Inggris, Australia, Tiongok, dan Indonesia.

Sedangkan Indosat, mayoritas sahamnya adalah kepunyaan Ooredoo Group. Perusahaan memiliki 65 persen saham Indosat dan sisanya melantai pada Bursa Efek.

Ooredoo Group memang berasal dari Qatar sebagai salah satu perusahaan multi nasional yang fokus pada bisnis telekomunikasi. Selain mendanai tim sepak bola tentunya.

Apakah Anda pernah memperhatikan bagian belakang jersey tim sepakbola PSG? Ada logo Ooredoo Group di situ. Tidak heran PSG bisa membayar gaji banyak bintang mereka, karena sponsornya guedhe boss.

Jangkauan bisnis Ooredoo Group adalah di area wilayah Asia Tengah, Asia Selatan, Afrika Utara, dan Asia Tenggara. Memang ini salah satu perusahaan Sultan, atau kalau di Qatar panggilannya adalah Sheikh.

Karena memang CEO Ooredoo Group ini adalah Sheikh Saud Bin Nasser Al Thani.

Merger kedua perusahaan telekomunikasi ini, menurut William Hartanto seorang pakar investasi, akan memperkuat posisi kedua perusahaan dalam industri seluler di tanah air.

Potensi Jadi Perusahaan Telekomunikasi Terbesar di Indonesia

Gabungan keduanya akan membentuk sebuah perusahaan telekomunikasi swasta yang lebih besar dair PT Telkom. Yang kini merupakan BUMN sekaligus perusahaan telekomunikasi paling besar di Indonesia.

Indosat dan Tri memiliki sumber daya dan teknologi yang bisa saling mendukung untuk bisa berlari lebih kencang dalam persaingan industri telekomunikasi.

Dengan dukungan menara yang sudah pernah dibangun oleh perusahaan, maka akan mengoptimalkan kekuatan jaringan yang bisa memancar ke banyak pelanggan.

Apabila dua perusahaan ini bersatu, maka potensi perkiraan pendapatan tahunan akan mencapai 3 miliar dollar AS (Rp 42,8 triliun). Ini merupakan penggabungan pendapatan kedua perusahaan pada tahun lalu.

Merger antara Indosat Ooredoo dan Tri akan menyatukan dua bisnis yang saling melengkapi. Merger juga akan memberikan nilai tambah kepada seluruh pemegang saham, pelanggan, dan masyarakat Indonesia.

Indosat Ooredoo Hutchison akan menciptakan sebuah perusahaan telekomunikasi digital dan internet yang lebih besar dan lebih kuat secara komersial.

Pengalaman, keahlian dalam hal jaringan, teknologi, produk, serta layanan merupakan kekuatan yang mereka miliki untuk memimpin pasar telekomunikasi.

Tidak hanya potensi pasar dalam negeri, keduanya tentu akan mendapatkan keuntungan atas operasi multinasional Ooredoo Group dan CK Hutchison.

Ekspansi pasar Eropa, Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Timur, dan Asia Pasifik adalah dua hal yang sangat menggiurkan dan pasti akan menambah potensi Cuan.

Dalam mengadakan kesepakatan merger, kedua perusahaan mengandalkan jasa penasihat keuangan eksklusif. JP Morgan selaku penasehat untuk Ooredoo Group sedangkan CK Hutchison mengandalkan Goldman Sachs & Co. dan HSBC.

Pembagian Saham Antar Owner

Kabarnya, setelah merger Ooredoo Group akan memiliki 60 persen saham dan kendali atas Indosat Ooredoo lewat Ooredoo Asia, sebuah anak perusahaan dari Ooredoo Group.

Sedangkan CK Hutchison akan mempunyai kepemilikan saham Indosat Ooredoo hingga 22 persen dari Indosat Ooredoo Hutchison.

Lalu PT Tiga Telekomunikasi selaku operator produk Tri akan menerima saham baru Indosat Ooredoo hingga 10,8 persen dari Indosat Ooredoo Hutchison.

CK Hutchison juga berpotensi untuk mendapatkan 50 persen saham dari Ooredoo Asia. Apabila dia mau menukarnya dengan 21,8 persen sahamnya di Indosat Ooredoo Hutchison untuk 33 persen saham di Ooredoo Asia.

Apakah Anda agak bingung membacanya? Hehe, jangan diitung serius ges, bisnis kelas Sultan memang rumit seperti hubungan asmara. Ternyata ada lagi tambahan klausul lho.

CK Hutchison juga akan mendapatkan tambahan 16,7 persen kepemilikan di Ooredoo Group lewat transaksi senilai 387 juta dollar AS.

Sebagai hasil dari kesepakatan keuangan diatas, kedua perusahaan akan masing-masing memiliki 50 persen dari Ooredoo Asia, yang akan mempunyai nama baru yaitu Ooredoo Hutchison Asia.

Ooredoo Hutchison Asia akan memiliki 65,6 persen saham dan kendali atas Indosat Ooredoo Hutchison. Sedangkan operasional perusahaan Indosat Ooredoo Hutchison secara bersama-sama antara Ooredoo Group dan CK Hutchison.

Bagaimana? Apakah Anda sudah jelas dan memahami saling merger dan hitung – hitungan saham kedua perusahaan ini? Oke kita lanjut ke obrolan tentang saham perusahaan pada Bursa Efek.

Perusahaan gabungan akan tetap terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan kode yang sama yaitu ISAT. Dengan mayoritas saham masih milik Ooredo Asia, kemudian pemerintah Indonesia memiliki 9,6 persen saham.

Lalu ada PT Tiga Telekomunikasi Indonesia memiliki 10,8 persen saham, dan saham yang beredar untuk publik sebanyak 14 persen saham.

Dengan persetujuan pemegang saham Indosat Ooredoo, kedua perusahaan akan mengusulkan Vikram Sinha sebagai CEO dan Nicky Lee sebagai CFO Indosat Ooredoo Hutchison.

Lalu Ahmad Al-Neama masih akan berada di kursinya sebagai President Director dan CEO Indosat Ooredoo. Juga dengan Cliff Woo yang akan tetap bertugas sebagai CEO Hutchison 3 Indonesia hingga proses merger selesai.

Selanjutnya atas persetujuan Indosat Ooredoo, Ahmad Al-Neama dan Cliff Woo akan duduk pada Dewan Komisaris perusahaan gabungan.

Baca juga: 7 Emiten Rumah Sakit Dengan Potensi Keuntungan Berlipat

Mengintip Kinerja Kedua Perusahaan

Untuk melihat apakah Merger Indosat dan Tri Indonesia ini potensial bagi investor publik, tentu kita harus tahu bagaimana performa perusahaan setidaknya selama kuartal pertama 2021.

Merger Indosat dan Tri Indonesia

Hampir semua perusahaan telekomunikasi mencatat keuntungan selama masa pandemi. Ini karena intensitas komunikasi melonjak seiring pembatasan kegiatan ke luar rumah.

Begitu pula dengan PT Indosat Tbk (ISAT) yang berhasil mencetak laba bersih selama kuartal kedua pada tahun 2021.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, PT Indosat Tbk meraup keuntungan sebesar Rp 2 triliun pada akhir Desember 2021.

Keberhasilan Indosat mencetak laba bukan hanya dari penjualan kuota internet tetapi juga berasal dari keuntungan bersih dari jual dan sewa balik menara pemancar sinyal.

Bisnis menara milik Indosat tahun ini memang lagi moncer banget dengan mendapatkan omzet sebesar Rp 6,17 triliun. Dengan modal operasional yang hanya 1 Triliun, maka laba bersih adalah 5 Triliun.

Pendapatan Indosat juga atas kenaikan 11 persen atas pertumbuhan seluler sebesar Rp 12,4 triliun.

Segmen bisnis B2B Enterprise dari Indosat juga turut menunjukkan kinerja yang kuat. Bisnis B2B ini mencakup pengembangan teknologi IoT, IT Services, Cloud, dan Security.

B2B Enterprise ini mampu menyumbang pertumbuhan pendapatan hingga 16,5% menjadi Rp 2,65 triliun.

Meningkatnya keuntungan Indosat merupakan imbas dari meningkatnya jumlah pelanggan. Pada semester pertama ini saja, total jumlah pelanggan mencapai 60,3 juta pelanggan.

Jumlah ini meningkat 5,3% dari tahun lalu. Kontribusi pelanggan paling banyak adalah pertumbuhan pelanggan data 4G yang tumbuh menjadi 40 juta atau meningkat 29,5% dari tahun lalu.

Dari 60 juta pelanggan, mereka mencatatkan konsumsi penggunaan jasa komunikasi sebesar 34 ribu rupiah setiap bulannya.

Lalu lintas data mendominasi kenaikan ini hingga 40 persen dari tahun lalu, khususnya pada jaringan 4G menyumbang prosentase sebanyak 19 persen. Memang pandemi memaksa kita lebih banyak menggunakan operator seluler.

Mungkin satu hal ini belum banyak pelanggan yang tahu, ternyata Indosat Ooredoo baru saja mengumumkan peluncuran layanan 5G komersial pertama di kota Solo.

Ini semacam pilot project untuk para pelanggan Indosat menjajal layanan 5G. Sebuah one step forward dari Indosat untuk menghadirkan pengalaman digital kelas dunia kepada masyarakat Indonesia.

Performa Bisnis Tri Indonesia

Setelah kita membahas tentang Indosat dengan layanan 5G perdananya di kota Solo, sekarang kita akan mengupas sedikit mengenai Tri Indonesia.

Secara garis besar, CK Hutchison mendapatkan pendapatan yang gemilang pada kuartal 2 tahun 2021. Namun sebagian besarnya berasal dari sektor pelabuhan dan properti.

Sedangkan Tri Indonesia sebagai anak perusahaan dari perusahaan milik Taipan Hong Kong Li Ka-shing ini sedang tidak baik – baik saja.

Meski masih mencatat pendapatan sebesar 6,93 triliun pada kuartal 2 tahun ini, namun nilai ini turun 6 persen dari kuartal 2 tahun 2020.

Dengan jumlah pelanggan yang hanya 44 juta pelanggan dan harga layanan yang lebih murah dari Indosat, tentu bisa sedikit ada pemakluman bagi rendahnya pendapatan Tri Indonesia.

Meski begitu, Tri Indonesia hanyalah satu dari unit usaha milik CK Hutchison. Kami merasa bahwa merger kedua perusahaan multi nasional ini bukan sekedar tentang unit usaha yang ada di Indonesia.

Kita bisa melihat dari beberapa kesepakatan kepemilikan saham diatas, bahwa mereka berbicara dalam kerangka dua perusahaan lintas negara.

Tentu dengan mempertimbangkan akumulasi dan situasi bisnis di setiap negara yang mereka miliki. Maka mereka bisa menguasai Asia, Eropa, hingga Afrika.

Meski Indonesia hanya entitas kecil dari kesepakatan merger ini, namun pasar tampaknya menyambut baik penguatan perusahaan. Dengan sentimen harga emiten ISAT yang mengalami tren kenaikan.

Juga beberapa pengamat telekomunikasi mengatakan bahwa merger kedua perusahaan akan menyederhanakan kompetisi pasar operator seluler.

Juga pelanggan tidak terlalu pusing dalam memilih aneka produk seluler yang beredar.

Yang paling penting adalah bagaimana perusahaan mampu membawa pelayanan operator hingga ke tempat yang paling jauh dan terpencil wilayah Indonesia setelah Merger Indosat dan Tri Indonesia.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar