Metode Investasi DCA : Cara Menabung Saham Gaji UMR Untuk Pemula

Banyak investor pemula yang tertarik dengan pasar modal bertanya tentang kapan saat yang tepat membeli saham? Kapan pula harus menjual saham? Di harga berapa? Sebenarnya ada salah satu metode investasi yang lebih mudah dan bisa di terapkan oleh pemula, yakni metode DCA atau Dollar Cost Averaging.

Sebagian dari Anda yang membaca artikel ini pastinya pernah mendengar apa itu metode DCA, dan hendak mencari tahu lebih dalam untuk mulai menabung saham. Namun mungkin juga ada yang masih bertanya-tanya, apa itu metode DCA? Kok ada dollar-dollarnya? Maka dari itu, kita akan membahas lebih jelas tentang apa yang di maksud dengan metode yang satu ini.

Mengenal Apa itu Metode DCA (Dollar Cost Averaging)

Mengenal Apa itu Metode DCA (Dollar Cost Averaging)

Metode DCA (Dollar Cost Averaging) adalah cara berinvestasi dengan jumlah uang yang sama secara rutin dalam periode tertentu. Misalnya 1 juta setiap bulannya selama 1 tahun pada suatu saham atau portofolio investasi. Dengan kata lain, kita akan berinvestasi dengan cara mencicilnya.

Metode berinvestasi yang di kenal lebih mudah dan aman (resiko lebih rendah) di banding dengan membeli saham dalam jumlah besar sekaligus. Dengan metode DCA seorang investor justru akan tetap membeli saham di saat harga saham sedang merosot dan lebih sedikit membeli saham saat harga naik. Terlebih lagi, mereka tidak khawatir jika nilai sahamnya sedang ikut turun.

Walaupun nama metodenya mengandung unsur mata uang Dollar mengingat strategi ini memang di populerkan di Amerika. Tapi sebenarnya metode ini bisa di gunakan dalam jenis mata uang apapun, termasuk Rupiah. Karena bersifat rutin, metode DCA juga mendorong investor agar lebih disiplin dalam berinvestasi.

Dengan metode ini, kita mencicil suatu saham namun dengan catatan bahwa saham yang kita beli adalah saham yang bagus dengan periode yang sama. Misalnya setiap tanggal 1 atau 2 setiap bulannya selama 5 tahun.

Anda pasti tahu tentang dividen bukan? Salah satu keuntungan yang bisa di dapatkan dari saham adalah dengan dividen saham. Jika Anda menggunakan DCA, bisa jadi Anda juga mengabaikan dividen. Namun metode DCA ini tentu lebih baik dan menguntungkan di bandingkan dengan metode spekulatif yang tidak berdasar.

Siapa yang Cocok Menggunakan Metode DCA

Metode Investasi DCA Doolar Cost Averaging Cara Menabung Saham Gaji UMR Untuk Pemula

Sudah mulai tergambar kan apa itu metode investasi Dollar Cost Averaging? Lalu investor seperti apa sih yang cocok menggunakan metode ini?

1. Investor Pasif

Benjamin Graham, seorang ekonomi atau yang di kenal sebagai bapak investasi menyarankan metode investasi ini bisa digunakan untuk investor cerdas yang ingin melakukan investasi secara pasif. Pasif disini artinya tanpa susah payah riset, memantau, dan mengontrol investasinya secara ketat dalam jangka waktu yang berdekatan seperti halnya trading.

Jadi metode ini tentu sangat cocok untuk Anda yang ingin mengamankan nilai investasi tapi tidak memiliki kemampuan, waktu, atau energi untuk terjun dalam jual beli saham dengan memberikan effort terlalu besar. Walaupun terdengar mudah namun yang namanya investasi tentu tetap di lakukan dengan perhitungan.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa metode DCA ini lebih baik di banding dengan spekulasi karena saham-saham yang kita pilih adalah saham-saham bagus.

Sehingga pastinya sebelum melakukan pembelian saham dengan metode ini, kita wajib meneliti dulu fundamental perusahaannya dan melakukan analisis value saham. Hal ini agar kita lebih yakin bahwa perusahaan yang kita beli sahamnya akan bertahan dan berkembang selama periode investasi yang kita tentukan (5-10 tahun ke depan).

2. Investor yang Sudah Memiliki Perencanaan Keuangan

Meskipun terdengar lebih mudah dan ringan karena di lakukan dengan cara di cicil, saham tetaplah produk investasi yang beresiko.

Oleh karena itu metode ini cocok untuk orang-orang yang sudah memiliki perencanaan maupun pengelolaan keuangan yang lebih matang. Jika hal tersebut masih kacau, metode mencicil saham pun akan berbahaya di bandingkan menguntungkan.

Bayangkan saja, ketika kita menempatkan uang gaji untuk mencicil saham dan ternyata beberapa bulan kemudian kita membutuhkan uang tersebut untuk kebutuhan lain namun harga saham sedang anjlok drastis! Alih-alih mendapatkan keuntungan seperti yang di dambakan, tentunya kita malah rugi besar.

Ingat, dalam jangka pendek apapun bisa terjadi di dunia pasar modal khususnya saham. Namun hal tersebut tidak akan terjadi jika kita sudah punya perencanaan dan pengelolaan keuangan yang cukup baik.

Sebab jika beberapa bulan kemudian harga saham anjlok kita bisa berkata, “tidak apa-apa harga saham anjlok, toh uangnya akan di pakai 5-10 tahun lagi. Justru inilah kesempatan bagus membeli lebih banyak saham”.

Ciri-cirinya jika kita sudah cukup baik dari segi perencanaan maupun pengelolaan keuangan kurang lebih seperti ini :

  • Kita sudah memiliki penghasilan (berapapun nilainya), memiliki alokasi anggaran yang jelas
  • Memiliki dana surplus atau menganggur setelah memenuhi kebutuhan-kebutuhan rutin tiap bulannya. Dana itulah yang digunakan untuk berinvestasi.
  • Cashflownya lancar
  • Sudah punya dana darurat yang cukup
  • Sudah punya asuransi (proteksi yang cukup layak)
  • Kita sudah tahu untuk apa uang yang kita tabung pada saham dengan metode DCA ini (pada jangka panjang 5-10 tahun)

Simulasi Metode Investasi DCA dalam Menabung Saham

Simulasi Metode Investasi DCA dalam Menabung Saham

Berdasarkan penjelasan mengenai apa itu metode DCA dalam berinvestasi saham, salah satu syarat melakukan metode ini adalah perusahaan yang akan kita beli sahamnya adalah perusahaan yang bagus.

Artinya ia harus merupakan perusahaan yang sudah besar dan juga likuid agar kita mudah melakukan transaksi saham sesuai kebutuhan kita. Selain itu, usahakan untuk membeli saham yang produknya Anda tahu betul sehingga Anda bisa lebih mudah memperhitungkan potensi emiten di masa depan.

Menabung saham dengan metode DCA bisa di lakukan oleh siapapun bahkan jika gaji kita masih UMR. Sebagai gambaran, sekarang kita coba melakukan simulasi penggunaan metode DCA dalam menabung saham.

Simulasi Pembelian Saham BBRI Tahun 2005

Misalnya, menabung di saham bluechip BBRI di tahun 2005 karena Anda dan keluarga adalah nasabah Bank BRI. Anda juga tahu bahwa nasabah Bank BRI jumlahnya sangat banyak dan kemungkinan perusahaan ini bisa bertahan serta berkembang hingga 5-10 tahun mendatang.

Nah, anggaplah Anda menabung saham BBRI selama 12 bulan setiap tanggal 3-5 (1 tahun) dengan 30% uang gajian Anda sebesar Rp. 200.000/ bulannya. Berarti Anda akan melakuakn 12 kali pembelian saham BBRI.

Lalu Anda berhasil menabung saham selama 12x dalam satu tahun dengan nominal Rp 200.000 setiap bulannya dengan data transaksi tahun 2005 sebagai berikut :

BulanTanggalHarga beli Per-lembarLot (per Rp 200 ribu)Total Harga Beli
(Tidak termasuk biaya sekuritas)
Sisa
Januari5/01/2005Rp 282,507Rp 197.750Rp 2250
Februari4/02/2005Rp 2857Rp 197.750Rp 2250
Maret4/03/2005Rp 322,506Rp 193.500Rp 6500
April5/04/2005Rp 292,506Rp 193.500Rp 6500
Mei4/05/2005Rp 267,507Rp 197.750Rp 2250
Juni3/06/2005Rp 287,506Rp 193.500Rp 6500
Juli5/07/2005Rp 302,506Rp 193.500Rp 6500
Agustus5/08/2005Rp 312,506Rp 193.500Rp 6500
September5/09/2005Rp 257,507Rp 197.750Rp 2250
Oktober5/10/2005Rp 2607Rp 197.750Rp 2250
November7/11/2005Rp 2458Rp 196.000Rp 4000
Desember5/12/2005Rp 2956Rp 193.500Rp 6500
TOTAL79Rp 2.345.750Rp 54.250
Data ini di ambil dari situs yahoo finance

Perhitungan Simulasi Menabung Saham

Data di atas menunjukan kalau kita memiliki 7900 lembar saham BBRI dengan nominal Rp 2.345.750. Nah, sekarang jika di hitung harga rata-rata saham yang kita miliki dari Januari hingga Desember 2005 adalah Rp. 267,5 / lembar saham.

Sedangkan pada saat akhir cicilan, harga saham BBRI adalah Rp 295/ lembar. Berarti saat itu saja kita sudah untung dari capital gain sebesar 9,3% (lebih dari bunga deposito).

Saham tersebut tentu bisa kita jual saat itu atau kapanpun kita mau.

  • Skenario 1 : Jual saat itu juga dengan harga total Rp 2.109.300 (Untung Rp 109.300 atau 9,3%)
  • Skenario 2 : Membiarkannya sampai 10 tahun kedepan yakni hingga tahun 2015. Harga saham BBRI saat itu adalah Rp 2.290/ saham. Jadi Anda jual dengan harga Rp 18.091.000 (Untung Rp 16.091.000 atau 800%)

Jadi, Anda mau pilih skenario yang mana kira-kira? Untuk mendapatkan keuntungan maksimal tentunya skenario 2 lebih baik. Inilah mengapa saham di sebut sebagai investasi jangka panjang, karena perusahaan memerlukan waktu yang cukup untuk bisa mengakumulasikan keuntungannya agar menjadi yang paling maksimal.

Tips Melakukan Metode DCA Untuk Membeli Saham

Berinvestasi saham menjadi hal yang memungkinkan dengan metode DCA bahkan bagi pemula yang bergaji UMR. Tinggal, bagaimana persiapan diri kita sebagai investor.

Karena tentu saja, metode DCA ini bukanlah spekulasi. Pemilihan saham yang menjadi tabungan saham Anda nantinya mesti di pilih dengan hati-hati.

Baca juga, 7 Emiten Saham Gocap yang Semakin Mahal, Layak Untuk Dibeli?

Dari semua penjelasan dan juga simulasi di atas, ada beberapa hal yang bisa di rangkum jika Anda hendak memilih metode DCA (Dollar Cost Averaging) sebagai berikut!

  • Pastikan tujuan dan pengelolaan keuangan Anda sudah cukup baik. Jika belum, maka lebih baik Anda fokus untuk memperbaikinya terlebih dahulu sebelum terjun ke investasi saham
  • Tentukan tujuan, periode dan jumlah uang ingin Anda tabung dalam saham
  • Anda termasuk investor dengan kriteria difensif
  • Buat list saham-saham bluechip familiar pilihan Anda dan cari tahu track record fundamentalnya
  • Selalu catat track record pembelian saham seperti tabel diatas (hanya referensi)
  • Evaluasi saham secara berkala dan perhatikan pemberitaan yang terjadi terkait emiten yang Anda pilih dan sentimen pasar

Kesimpulan

Metode DCA merupakan salah satu metode yang mirip dengan cicilan untuk memperkecil resiko, lebih mudah dan cocok digunakan jika Anda investor yang bersifat difensif. Bagi Anda yang ingin trading secara jangka pendek tentu akan berbeda lagi, baik secara metode dan ilmu yang di perlukan. Nah, apakah Anda cocok menggunakan metode yang satu ini? Hanya Anda yang dapat menjawabnya.

Baca juga, Harga Batu Bara Panas Lagi, Tertarik Beli 7 Saham Emiten Tambang Ini?

Berinvestasi bukanlah judi yang mendasarkan spekulasi dan untung-untungan. Namun, berinvestasi adalah langkah rasional yang penuh pertimbangan untuk meningkatkan keuntungan. Sehingga, selalu pahami resiko berinvestasi dan gunakan metode yang sesuai dengan kemampuan dan konteks diri kita masing-masing.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar