Berita

Tips Investasi Saham ala Lo Kheng Hong, Warren Buffetnya Indonesia

Anda tertarik berinvestasi saham? Investasi saham bukanlah merupakan hal yang aneh lagi saat ini. Pengusaha kelas atas hingga karyawan biasa bisa mulai berinvestasi saham dimana saja dan kapan saja.

Apalagi berkat kemajuan teknologi, kini Anda bukan hanya bisa bertransaksi saham online tapi juga bisa mendaftar secara online melalui verifikasi indentitas lewat videocall saja.

Dalam dunia saham, tokoh terkenal banyak menjadi panutan para investor salah satunya adalah Warren Buffet. Kesuksesannya dalam berinvestasi saham telah menginpirasi jutaan orang di dunia.

Nah, kalau Warren Buffet merupakan investor asal Amerika, Lo Kheng Hong adalah salah satu tokoh investor fenomenal asal Indonesia.

Mengenal Sosok Lo Kheng Hong

Lo Kheng Hong lahir darilam keluarga yang kurang berkecukupan kini telah memiliki sejumlah portofolio investasi yang berhasil memberinya keuntungan luar biasa.

Pada tahun 2012 saja, Lo Kheng Hong tercatat telah memiliki aset saham senilai Rp. 2,5 Trliun. Beberapa portofolio terbesarnya yakni berasal saham UNTR dan MBAI.

Gaya hidup hemat dan strategi dalam berinvestasi saham sudah berhasil membawanya pada kesuksesan. Jadi tidak heran jika banyak yang menyebut kalau Lo Kheng Hong sebagai Warren Buffet-nya Indonesia.

Setelah lulus SMA pada tahun 1979, pria keturunan Chinese yang lahir di Jakarta 20 Februari 1959 ini, tidak bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi dikarenakan masalah biaya. Sehingga ia memutuskan untuk bekerja.

Namun hal tersebut tidak membuatnya patah semangat. Untungnya, Lo Kheng Hong merndapatkan pekerjaan sebagai staff tata usaha di sebuah Bank dan kemudian melanjukan kuliah di malam hari.

Tak di sangka, pekerjaannya yang hanya mengurusi fotocopy faktur, surat jaminan, krerdit, kwitansi dll bisa mengantarkannya memahami sistem keuangan di bank.

Barulah pada tahun 1989 ketika usianya 30 tahun-an Lo Kheng Hong mulai mengenal dunia saham dan pasar modal. PT. Gajah Surya Multifinance adalah saaham pertamanya. Sayangnya investasi tersebut gagal dan ia mengalami kerugian.

Lo Kheng Hng tidak suka menginvestasikan uangnya melalui obligasi, emas dan dollar. Hal ini karena menurutnya, return obligasi tidak menarik, emas juga kurang produktif dan jika berinvestasi ke dollar maka ia merasa berkontribusi dalam pelemahan rupiah.

Ia hanya menyisihkan pendapatannya di bank dan mengambil secukupnya untuk kehidupan sehari-hari. Selama ini ia memiliki prinsip pengelolaan dananya dengan menyimpan 15% cash dan 85%.

Portofolio Lo Kheng Hong

Anda mungkin penasaran bagaimana portofolio saham Lo kHeng selama ini. Berikut adalah data beberapa portofolio Lo Kheng Hong yang sangat luar biasa!

Kode SahamHarga BeliHarga JualJangka Waktu InvestasiKeuntungan (%)Jumlah Saham
UNTRRp. 250Rp. 15.0001998-20045900%6.000.000
MBAIRp. 250Rp. 31.3502005-201112500%6.200.000
TINSRp. 290Rp. 2.9002002-2004900%24.000.000
JPFARp. 200Rp. 4.0002005-20111900%40.000.000
PNLFRp. 100Rp. 2602011-2013160%850.000.000

Memang, usia startnya kalah dengan Waffen Buffet yang sudah mulai berinvestasi saham sejak usia 11 tahun. Tapi di luar itu Lo Kheng Khong juga sosok yang mengagumkan, karena ia berhasil secara konsisten membeli saham setiap terima gaji.

Ia juga pernah mengalami kegagalan dalam berinvestasi saham, namun tidak pernah berhenti belajar melalui buku-buku yang ia baca. Inilah yang membuat banyak orang terinspirasi dan ingin mengetahui kunci sukses berinvestasi saham ala Lo Kheng Hong.

1. Membeli Saham Perusahaan dengan Manajemen yang Baik

Ketika menghadiri suatu acara, Lo Kheng Hong menyebutkan bahwa salah satu cara yang ia pilih dalam berinvestasi salah adalah membeli saham-saham perusahaan dengan manajemen yang baik. Yakni, perusahaan yang di kelola oleh orang-orang yang berintegritras dan memiliki memliki kapasitas.

Bahkan, ia menegaskan bahwa sebagai investor kita perlu menjadi seperti petugas KPK, harus tahu siapa yang mengelola dan terilibat.

Apakah orang-orang yang mengelola perusahaan adalah orang-orang yang jujur ataukah cenderung tidak jujur dan suka mengambil keuntungan untuk kepentingannya sendiri.

Jika memilih perusahaan yang pengelolaan yang buruk, maka sebagai investor kemungkinan merugi akan semakin tinggi.

Salah satu cara Lo Kheng Hong memilih sham dari emiten yang manajemen nya bagus adalah mencari perusahaan yang sedikit atau tidak ada transaksi afiliasi sama sekali.

Jika tidak ada transaski afiliasi, maka bisa berarti bahwa perusahaan tersebut merupakan perusahaan yang sangat independen.

2. Perhatikan Bidang Usaha Emiten

Tips ke dua, menurut Lo Kheng Hong untuk berinvestasi saham kita perlu mencermati bidang usaha perusahaan. Bidang perusahaan yang dipilih akan mempengaruhi karakteristik laba dan pola pergerakan harga saham kedepannya.

Ada banyak bidang usaha emitien yang terdaftar di Bursa Efek. Namun menurut Lo Kheng Hong, ada kategori bidang perusahaan yang baik dan juga tidak baik. Bidang perusahaan yang baik contohnya perbankan, batu bara, barang-barang konsumsi dll.

3. Memilih Perusahaan yang Labanya Besar

Lo Kheng Hong mengungkapkan, bahwa dalam berinvestasi saham adalah membeli saham yang labanya besar. Salah satu indikatornya, kita bisa melihat dari ROE (Return On Equity) yang rumusnya adalah Laba Bersih di bagi Ekuitas.

Untuk menilai ROE yang baik, bisa di lihat dari konsistensi pertumbuhannya minimal dalam 5 tahun terakhir sebesar 10%. Semakin besar nilainya maka akan semakin baik.

Di Bursa Efek kita akan menemukan perusahaan yang memiliki ROE kurang dari 1% dan ada pula perusahaan yang ROE-nya mencapai 125%.

Jika kita memiliki saham di perusahaan yang memiki keuntungan yang besar, sama halnya seperti memiliki mesin pencetak uang. Sebab, harga saham erat korelasinya dengan laba perusahaan.

Semakin besar laba perusahaan, harga sahamnya pun akna semakin naik. Begitupun sebaliknya, jika laba perusahaan kecil, harga sahamnya pun akan semakin rendah.

4. Memperhatikan Utang Perusahaan

Selain melihat laba, sebenarnya Lo Kheng Hong juga menilai utang perusahaan. Hal ini karena perusahaan yang memiliki utang yang banyak dan semakin tinggi, artinya perusahaan kemungkinan juga akan banyak menggunakan pendapatannya untuk membayar utang. Maka labanya juga akan semakin kecil dan resiko gagal bayar juga bisa terjadi.

Dalam menilai utang perusahaan Lo Kheng Hong menggunakan rasio DER (Debt to Equity Ratio). Rumusnya adalah total liabilitas di bagi total ekuitas. Rasio DER yang aman berkisar 0,8-1,5. Di atas itu maka perlu berhati-hati dan melihat faktor-faktor lainnya.

5. Pilihlah Perusahaan yang Labanya Terus Meningkat

Tips selanjutnya, masih berhubungan dengan laba perusahaan. Ketika memilih investasi saham pada perusahaan tertentu, perhatikan juga konsistensi peningkatan labanya setiap tahun. Minimal kita bisa melihat annual report selama 5 tahun terakhir.

Beberapa saham yang labanya secara konsisten terus meningkat misalnya, BBCA dan BMRI. Kedua perusahaan tersebut masuk dalam kategori perusahaan yang terus bertumbuh labanya.

6. Perhatikanlah Nilai Intrinsik Saham

Kemudian, sebelum Anda memutuskan membeli saham tertentu perhatikan juga nilai instrinsinya. Maksud dari nilai intrinsik adalah, perkiraan nilai saham/ harga wajar.

Jika nilai intrinsiknya lebih besar dari harga pasar kita perlu membeli sahamnya, dan jika nilai intrinsiknya lebih kecil dari harga pasar maka kita harus menjual sahamnya.

Untuk menghitung nilai wajar ini, kita perlu bisa mengestimasi arus kas yang akan di hasilkan perusahaan saat ini dan seterusnya. Salah satu metodenya bisa menggunakan metode dari Benjamin Graham.

Ia menyebutkan bahwa arus kas berasal dari laba bersih usaha. Kemudian koversikan arus kas berdasarkan nilai saat ini dan jumlahkanlah untuk mendapatkan nilai wajar.

7. Membeli Saham Under Value

Tips lainnya masih berhubungan dengan nilai saham. Carilah saham-saham yang salah harga (under value). Meskipun misalnya nilai sahamnya Rp. 100 namun bukan berarti saham tersebut murah.

Karena melihat harga wajar saham bukan hanya meilhat dari nominalnya yang kecil saja, tapi kita juga perlu membandingkannya dengan nilai perusahaan itu sendiri.

Untuk memahami nilai perusahaan artinya kita perlu mengulik laporan keuangan yang sangat tebal. Namun kini Anda tidak perlu khawatir, karena sudah banyak situs dan platform digital yang menyediakan data-data perusahan yang bisa kita butuhkan.

Ada 2 indikator yang bisa kita gunakan untuk menlia harga saham yakni PER (Price to Earning Ratio) dan juga PVB (Price to Book Ratio).

8. Jangan Gunakan Uang Panas Untuk Berinvestasi Saham

Investasi saham merupakan investasi jangka panjang, sehingga sebaiknya jangan menggunakan uang panas/ uang benar-benar berfungsi untuk kebutuhan yang sangat penting sehingga kita bisa meninggalkannya dalam jangka waktu tertentu.

Uang panas itu misalnya uang untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi ketika berinvestasi saham, pastikan kalau Anda tidak menggunakan uang keperluan penting atau mendesak.

9.Miliki Staying Power dalam Berinvestasi

Lo Kheng Hong juga mengungkapkan kalau investor itu mirip atlet. Investor bukan hanya perlu memiliki teknik yang bagu tapi juga staying power investasi untuk tidak menjual asetnya dalam keadaan terpuruk dan krisis keuangan sekalipun.

Staying power ini juga berkaitan dengan kedalaman analisis inestor terhadap sebuah saham.

Ada dua jenis analisis dalam dunia investasi saham. Pertama, analisis fundamental dan yang kedua analisis teknikal. Analisis fundamental di analogikan sebagai “cara memperhatikan kesehatan kondisi kesehatan dan kandang sapi”, sapi adalah analogi untuk perusahaan dan kandang adalah pasar modal.

Sementara analisis teknikal hanya memperhatikan pergerakan ekor sapi, yang merupakan kiasan untuk harga saham.

Terkadang banyak investor pemula yang lebih banyak memperhatikan harga sahamnya saja. Hal inilah yang sering kali membuat mereka panik dan menjual semua aset saham ketika mengentahui harga sedang turun.

Baca juga : 10 Investor Saham Paling Sukses yang Bisa Dijadikan Role Model Investasi

Berbeda halnya jika kita mengenal secara dalam emiten yang kita beli sahamnya. Sekalipun sedang turun, kita tetap bisa tenang karena memhami potensi dan kapasitas perusahaan untuk menaikan harga sahamnya kembali.

Kesimpulan

Saat ini Lo Kheng Hong berusia 61 tahun dan masih aktif berinvestasi saham. Meskipun berasal dari keluaraga yang sederhana dan bukan lulusan dari jurusan keuangan atau bisnis, Lo Kheng Hong berhasil membuktikan bahwa kesuksesan bisa di raih oleh siapa saja yang bersungguh-sungguh dan tidak menyerah dalam belajar.

Kesuksesan Lo Kheng Hong bukan tanpa sebab. Tips-tips investasi diatas merupakan hal berharga yang bisa kita petik dari sosok investor inspiratif asal Indoenesia, Lo Kheng Hong. Sekarang, apakah Anda siap berinvestasi dan mempelajari saham yang Anda minati?

Bagikan ;
Share
Published by
Yulinda Nurlisdiana

Recent Posts

Ada Varian Baru Covid-19, Seperti Ini Performa Emiten Saham Minyak

Tanpa terasa pandemi Covid-19 sudah hampir dua tahun melanda Indonesia. Tentu jika melihat apa yang…

3 hari ago

Kenalan dengan NFT, Aset Digital yang Viral di 2021

Dalam beberapa bulan terakhir, nama NFT (Non-Fungible Token) tengah ramai diperbincangkan. Tidak hanya mereka yang…

2 minggu ago

Diborong Konglomerat, Intip Kinerja Saham Emiten Rumah Sakit

Tanpa terasa pandemi Covid-19 sudah hampir dua tahun lamanya melanda seluruh dunia. Perubahan jelas terjadi…

2 minggu ago

Horor Krisis Evergrande, Ada Properti China Gagal Bayar Lagi?

Sepanjang bulan Oktober 2021 kemarin, perekonomian China memang jadi sorotan dunia. Tak lain dan tak…

2 minggu ago

First Jobber Mau Beli Saham? Simak Hal-Hal Berikut Ini!

Lulus kuliah atau sekolah, lalu memperoleh penghasilan dari pekerjaan pertama. Sangat menyenangkan, bukan? Kondisi inilah…

3 minggu ago

Mengenal Berbagai Musim Saham, Kapan Waktu Terbaik Berinvestasi?

Investasi saham adalah salah satu jenis investasi yang beresiko tinggi. Namun bukan berarti kita tidak…

1 bulan ago