10 Tanda Anda Harus Melepaskan Investasi Sebelum Terlambat

Pandemi Covid-19 yang berlangsung di Indonesia sejak Maret 2020, sudah menembus 95 ribu kasus hingga Jumat (24/7) sore kemarin.

Tentu merupakan jumlah yang sangat tinggi, sehingga bukan tak mungkin negeri ini akan mencapai lebih dari 100 ribu kasus wabah corona dalam waktu lima bulan saja.

Tentunya berbagai upaya sudah dilakukan demi menghambat laju penyebaran Covid-19, yang sudah berimbas ke berbagai hal terutama sektor ekonomi.

Yap, perekonomian Indonesia hingga akhir semester pertama 2020 ini bisa dibilang sangat muram. Indonesia bahkan sudah bersiap mengalami resesi yang pastinya akan memicu krisis finansial.

Jelas tidak ada seorang pun yang berharap negeri ini memasuki resesi. Namun ketika krisis finansial terjadi, pelaku pasar modal haruslah jadi pihak yang benar-benar waspada.

Tentu ingat saat krisis moneter terjadi pada 1998 silam, di mana Indonesia mengalami inflasi hingga 58% dan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) anjlok sampai level 398.

Baca juga: Inilah Alasan Pentingnya Money Management dalam Investasi Saham

Kini 22 tahun berselang, Covid-19 menandakan kalau resesi perekonomian global bukanlah sekadar khayalan belaka.

Pasar saham di Indonesia pun mulai mencetak tren negatif yang membuat investor asing perlahan melarikan dana mereka ke aset-aset safe haven seperti obligasi dan emas, yang membuat IHSG terkoreksi.

Tentu dalam kondisi seperti ini, banyak investor lokal yang juga beramai-ramai ingin melepas saham mereka. Namun eits jangan terburu-buru, karena perkara melepas investasi tidaklah bisa dilakukan secara sembrono.

Ada beberapa pertanda yang wajib disadari investor, sebelum akhirnya memutuskan untuk melepas investasi. Seperti apa? Simak ulasannya berikut ini!

Inilah 10 Pertanda Waktu yang Tepat Bagi Investor untuk Melepas Investasi

1. Tak Ada Arus Kas Positif

© envato elements

Bagi Anda investor saham, ketika perusahaan emiten sama sekali tidak memperlihatkan arus kas positif, haruslah diwaspadai dan menjadi pertanda untuk siap-siap melepas investasi.

Kenapa begitu? Karena jika emiten mencatat arus kas negatif dalam waktu yang lama, itu adalah sebuah pertanda performa bisnisnya memburuk.

Memang tidak selamanya perusahaan mencatat arus kas positif, karena ada kalanya perusahaan beberapa bulan mencatat arus kas negatif.

Karena memang ada sejumlah industri yang mengalami kondisi finansial naik-turun dan butuh waktu beberapa bulan untuk meraih kas positif lagi.

Namun ketika arus kas perusahaan itu selalu negatif dalam jangka waktu lama, maka artinya fundamental perusahaan itu tidak baik.

Fundamental perusahaan yang memburuk akan terlihat dari penjualan yang melambat, hingga margin laba terus menurun.

Karena itulah seorang investor dituntut bisa membaca financial statement emiten supaya bisa melihat pertanda kapan waktunya melepas investasi.

Kembalilah pada tujuan utama berinvestasi yakni menanamkan modal ke aset yang memiliki pertumbuhan optimal.

Karena itulah saat sebuah aset terlihat tidak ada tanda-tanda pertumbuhan dan masa depan menjanjikan, lebih baik lepas saja investasi tersebut.

2. Harga Saham Menurun Selama Setahun

© Daniel/Dribbble
© Daniel/Dribbble

Masih pada investasi saham, harga saham emiten juga bisa jadi pertanda untuk mengetahui kapan waktunya melepas sebuah investasi.

Apalagi kalau saham emiten itu terus menurun dalam jangka waktu 12 bulan, maka jangan terlalu lama menimbang karena Anda disarankan untuk segera menjual saham tersebut.

Baca juga: Awas! 5 Perilaku ini Bisa Menjadi Ancaman Bagi Investasi Anda

Seperti yang diketahui, pasar modal sangatlah fluktuatif sehingga harga saham bisa bergejolak. Bahkan saham-saham bluechip juga tidak luput dari koreksi, meskipun akhirnya bisa kembali ke harga stabil tanpa kesulitan.

Untuk itulah jika harga saham emiten terlihat mengalami tren negatif selama selbih dari 12 bulan, langsung hentikan saja kerugiannya daripada makin jauh dengan cara melepaskan investasi.

Agar bisa tahu pergerakan harga saham emiten, Anda tidak boleh jadi investor yang cuma berpangku tangan.

Investor haruslah memahami berita yang tengah berkembang di pasar, supaya tahu waktu yang tepat untuk menjual saham melalui kondisi perusahaan emiten.

3. Imbal Hasil Tidak Kompetitif

© vectorified
© vectorified

Dalam investasi, ada yang namanya yield. Secara mudahnya, yield adalah imbal hasil alias keuntungan dari investasi entah saham, obligasi, hingga properti.

Ada beberapa jenis yield mulai dari imbal hasil internal, persentase tahunan, imbal hasil jatuh tempo, imbal hasil saat ini hingga tentunya dividen.

Untuk investasi properti, yield biasanya dihitung dari nilai sewa per tahun yang dibandingkan dengan harga properti. Contohnya Anda memiliki apartemen seharga Rp500 juta, lalu disewakan Rp50 juta per tahun, maka artinya yield sebesar 10%.

Sebagai patokan potensi properti, tentunya makin besar yield, maka makin menguntungkan investasi tersebut.

Sebaliknya ketika yield sebuah instrumen investasi terus menurun dan tidak bisa menghasilkan laba kompetitif, maka artinya Anda harus melepaskannya.

Menaruh modal di investasi yang tidak menjanjikan adalah sebuah kesalahan investor dan menyia-nyiakan modal.

Supaya perhitungan yield ini tidak keliru, ada baiknya Anda membandingkan dengan aset sejenis.

Contohnya untuk saham, bandingkan potensi dividen antara beberapa emiten di sektor yang sama. Dengan begitu Anda bisa memilih berinvestasi di emiten yang paling kompetitif.

4. Karyawan Tak Sejahtera

Khusus untuk investor saham, pertanda berikutnya yang wajib jadi perhatian saat hendak melepas sebuah investasi atau mempertahankannya adalah kondisi karyawan.

Yap, ketika sebuah perusahaan mulai tidak bisa menjamin kesejahteraan karyawan seperti gaji yang tertunda dalam waktu lama, Anda haruslah waspada.

Kenapa begitu?

Karena perusahaan yang tidak mempertahankan kualitas dan kesejahteraan SDM (Sumber Daya Manusia), artinya mengalami kegagalan manajemen yang berimbas ke performa bisnis perusahaan.

Bahkan sekalipun arus kas perusahaan itu stabil, kegagalan manajemen akan memicu kondisi fundamental yang memburuk.

Apalagi kalau perusahaan itu melakukan perubahan besar-besaran pada jajaran dewan direksi, investor haruslah makin waspada.

Karena mungkin saja ini adalah waktu yang tepat untuk melepaskan investasi tersebut.

5. Perusahaan Ditinggalkan

Secara mudahnya, perusahaan yang sudah tidak dipedulikan dan ditinggalkan, artinya bisnisnya tak akan pernah maju. Perusahaan yang demikian jelaslah tak akan mendulang untung dan bahkan bisa makin bangkrut.

Kondisi ini bisa saja terjadi pada perusahaan yang sebelumnya selama bertahun-tahun meraih kas positif, sehingga Anda sebagai investor haruslah peka.

Alih-alih mempertahankan investasi di perusahaan yang sudah berpengalaman tapi ditinggalkan oleh semua pihak, lebih baik menanamkan modal di perusahaan start-up yang seluruh pihak di dalamnya terlibat aktif mengembangkan bisnis.

Karena bagaimanapun juga, optimisme akan membawa hasil positif dan membuat investasi menguntungkan.

6. Mencapai Target Harga

Dalam investasi saham, setiap investor yang profesional tentu memiliki target harga tertentu. Target harga ini sebagai kisaran sekaligus acuan untuk melepaskan aset di kemudian hari.

Karena dalam investasi saham yang benar, investor haruslah melakukan analisa nilai saham.

Lewat analisa nilai saham yang bisa diketahui dalam metode value investing, Anda akan tahu berapa harga ideal saham yang sesungguhnya.

Contohnya, Anda menjual saham saat harganya melambung dua kali lipat. Tentu menguntungkan, bukan? Karena artinya saham itu undervalued sebesar 50%. Alih-alih menjual saham saat posisi naik demi memenuhi gain, menjual saham yang sudah mencapai target harga akan lebih menguntungkan investor.

Baca juga: 7 Tips Investasi Bagi Wanita Milenial, Bagaimana Caranya?

7. Harga Pasar Melambung

Sama halnya seperti investor saham, trader obligasi yang aktif wajib juga memiliki aturan mengenai besaran laba yang diinginkan dan potensi risiko yang bisa ditanggung.

Kendati memang mempunyai obligasi hingga jatuh tempo sangat menguntungkan, cuan bisa lebih besar saat menjual obligasi saat nilai pasar tengah tinggi.

Kondisi ini makin menggembirakan jika obligasi itu sudah Anda pegang selama beberapa tahun dan sudah memperoleh hasil dari pembayaran kupon.

Karena itulah jika ingin tahu kapan waktu yang tepat untuk menjual atau melepas obligasi, awasilah harga pasar rata-rata entah jangka pendek atau jangka panjang.

8. Perusahaan Lakukan Merger

© ontsunan/Freepik
© ontsunan/Freepik

Dalam dunia bisnis, merger perusahaan adalah hal lumrah. Namun kondisi merger ini yang harus diperhatikan investor saham, karena akan menjadi pertanda apakah harus mempertahankan atau melepaskan investasi.

Karena biasanya setelah perusahaan merger, rata-rata premi harga pembelian sekitar 20-40 persen.

Anda bisa beruntung jika saat perusahaan emiten diakuisis, memiliki penawaran premi signifikan sehingga bisa menjual dengan hasil menguntungkan.

Ingin mempertahankan investasi? Tak masalah. Hanya saja sekadar informasi, saham perusahaan yang baru saja merger butuh waktu beberapa bulan sampai harganya normal. Sehingga daripada ambil risiko, Anda bisa melepaskannya.

9. Kompetitor Lebih Bagus

© vectorified
© vectorified

Agar bisa menjadi investor profesional, usahakan untuk tidak bias pribadi pada sebuah emiten.

Contohnya saja Anda mempertahankan saham di sebuah perusahaan karena itu perusahaan milik sahabat atau keluarga, padahal fundamentalnya mulai terlihat memburuk. Jika perilaku seperti ini dibiarkan, Anda yang malah bakal merugi.

Karena itulah Anda harus berani membuka pikiran mencoba kesempatan baru yang lebih bagus.

Dalam investasi saham misalnya, selalu bandingkan gain potensial sesama emiten dari sektor serupa, sehingga bisa memperoleh yang terbaik.

Yang termudah adalah membandingkan saham-saham di perdagangan yang bernilai rendah dengan penghasilan besar, supaya tahu mana yang lebih berpotensi.

10. Naiknya Suku Bunga

© Wannapik Studio
© Wannapik Studio

Ada yang bilang kalau investasi obligasi cenderung lebih aman daripada saham. Benar. Namun bukan artinya Anda bisa melepas dan mempertahankan investasi begitu saja.

Bahkan dalam obligasi, Anda pun juga harus waspada jika kondisi suku bunga diatur untuk naik, karena itu merupakan pertanda harus melepas obligasi.

Baca juga: 10 Investor Saham Paling Sukses yang Bisa Dijadikan Role Model Investasi

Kenapa begitu? karena nilai obligasi di pasar terbuka dipengaruhi oleh tingkat kupon obligasi yang lain.

Contohnya ketika ada obligasi yang baru terbit dengan nilai kupon lebih tinggi, maka harga pasar obligasi sebelumnya dengan kupon lebih rendah akan menurun.

Untuk itulah ketika BI (Bank Indonesia) mau menaikkan suku bunga, segera lepas investasi obligasi Anda.

Dengan memahami tanda-tanda di atas, maka tentu Anda bisa lebih peka dan melakukan kegiatan investasi secara tenang.

Karena pada dasarnya, investasi bukanlah hal yang menyeramkan dan merugikan, asalkan Anda tahu betul waktu yang tepat untuk melepaskan atau mempertahankan investasi.

Bagikan ;