Inilah 10 Saham Perusahaan Milik Pengusaha Terkaya di Indonesia

Keinginan untuk tidak merugi saat investasi saham adalah harapan setiap investor. Bahkan banyak yang memilih membeli saham di perusahaan yang sudah terbukti kemampuannya.

Misalkan saja perusahaan yang menghasilkan keuntungan besar kepada sang pemilik, sehingga pemiliknya menjadi pebisnis sukses.

Adakah perusahaan seperti itu? Tentu ada yakni perusahaan-perusahaan publik milik orang-orang terkaya di Indonesia.

Dengan total kekayaan menembus miliaran dan triliunan rupiah, mereka yang masuk daftar 10 orang tertajir di Indonesia, rupanya punya perusahaan yang sudah go public, sehingga bisa dibeli sahamnya oleh masyarakat.

Bahkan di masa pandemi Covid-19 ketika banyak emiten saham pasar modal rontok, saham-saham perusahaan orang kaya ini justru mampu bangkit, stabil hingga meroket.

Tertarik? Berikut dilansir Forbes, inilah daftar orang-orang terkaya di Indonesia per tahun 2019 yang mempunyai perusahaan dengan saham go public.

Baca juga: 11 Daftar Saham Blue Chip Indonesia Tahun 2020

Daftar Saham-Saham Perusahaan Milik 10 Orang Terkaya di Indonsia

1. PT Bank Central Asia, Tbk – (BBCA)

Bank BCA © Djangkaru Bumi
© Djangkaru Bumi

Duduk di peringkat pertama daftar orang terkaya di Indonesia, adalah kakak beradik asal Jawa Tengah, Robert Budi dan Michael Bambang Hartono.

Dengan total kekayaan per 2019 menurut Forbes menembus US$37,3 miliar (sekitar Rp542 triliun). Sebagai keluarga konglomerat, Budi dan Bambang adalah putra dari Oei Wie Gwan, pendiri salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia, Djarum.

Namun 80% dari total kekayaan kakak-beradik Hartono ini berasal dari investasi mereka di Bank BCA. BCA sendiri merupakan bank swasta dengan total aset terbesar di Tanah Air.

Berdiri pada 21 Februari 1957, BCA didirikan oleh Sudono Salim, salah satu keluarga Tionghoa terkaya di Indonesia. Djarum melalui PT Dwimuria Investama Andalan, membeli BCA yang membuat Budi dan Bambang Hartono sebagai pemegang saham terbesar.

Kinerja BCA yang luar biasa positif, membuat saham mereka yakni BBCA menjadi salah satu blue-chip di lantai BEI (Bursa Efek Indonesia). Di tengah pandemi Covid-19, harga BBCA justru terus meningkat.

Sekadar informasi, BBCA dijual Rp32.200 (per 4 Maret) lalu sempat anjlok jadi Rp22.150 (per 23 Maret) dan Rp23.400 (per 19 Mei). Namun berangsur-angsur terus menguat hingga jadi Rp32.475 per lembar saham pada 28 Agustus 2020.

Jika Anda ingin mengenal lebih dalam tentang saham BBCA Anda bisa membaca lebih lengkap pada tautan berikut Sejarah Perkembangan Saham BBCA Dari Awal Sampai Sekarang

2. PT Smartfren Telecom, Tbk – (FREN)

Smartfren © Kumparan
© Kumparan

Keluarga Widjaja ada di posisi kedua dalam daftar orang terkaya di Indonesia dengan total aset mencapai US$9,6 miliar (sekitar Rp139 triliun). Adalah Eka Tjipta Widjaja yang merupakan tokoh sentral pada kekayanan keluarga ini.

Mulai berbisnis sejak muda, imigran asal China ini sudah berjualan bisnis saat remaja. Meninggal pada Januari 2019 di usia 98 tahun, Eka Tjipta membangun gurita bisnis Sinar Mas di tahun 1938.

Sinar Mas sendiri bergerak berbagai bidang seperti kertas, agribisnis, makanan, jasa keuangan, real estate, energi, infrastruktur hingga telekomunikasi. Salah satu perusahaan unggulan milik Sinar Mas adalah PT Smartfren Telecom.

Sinar Mas membeli Smartfren dari PT Global Mediacom pada 12 Agustus 2009. Smartfren resmi melantai di BEI dengan nama emiten FREN.

Tingginya kebutuhan telekomunikasi data dan internet selama pandemi Covid-19, membuat FREN ikut beruntung. Tercatat Rp93 pada 2 Maret 2020, FREN begitu anjlok hingga Rp50 per lembar saham saat 19 Maret.

Perlahan, FREN terus mencatat peningkatan sampai Rp153 (per 29 Juli). Terakhir pada Jumat (28/8) kemarin, FREN ada di posisi Rp93 per lembar.

3. PT Barito Pacific, Tbk – (BRPT)

Prajogo Pangestu ada di posisi ketiga orang terkaya di Indonesia dengan harta saat ini mencapai US$7,6 miliar (sekitar Rp110 triliun). Prajogo yang memulai bisnis perkayuan di akhir tahun 1970-an ini adalah putra seorang pedagang karet.

Prajogo resmi membuat perusahaannya, PT Barito Pacific Timber jadi go public pada tahun 1993. Namun 14 tahun kemudian, Prajogo mengubah nama perusahannya jadi PT Barito Pacific.

Di tahun yang sama dengan perubahan nama yakni 2007, Barito Pacific mengakuisisi perusahaan petrokimia, Chandra Asri. Di tahun 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia yang membuatnya jadi produsen petrokimia terbesar di Tanah Air.

Pada tahun 2015, Chandra Asri menjalin kerjasama dengan produsen ban asal Prancis, Michelin, dan mengembangkan pabrik karet sintetis di Tanah Air.

Baca juga: Daftar 45 Saham LQ45 Tahun 2020 Lengkap dan Terbaru

Sebagai perusahaan publik, Anda bisa membeli saham Barito Pacific dengan nama emiten BRPT. Tercatat Rp1.020 (per 10 Maret 2020), BRPT sempat anjlok jadi Rp490 (per 23 Maret).

BRPT berhasil mencapai titik tertinggi selama wabah corona pada 30 April di level Rp1.450. Meskipun kembali menurun, di masa new normal ini BRPT berusaha stabil hingga Rp890 pada Jumat (28/8) kemarin.

4. PT Gudang Garam, Tbk – (GGRM)

pabrik Gudang Garam di Kediri © Koko Trisilo
pabrik Gudang Garam di Kediri © Koko Trisilo

Bertengger di posisi keempat orang terkaya di Indonesia adalah Susilo Wonowidjojo. Dengan harta sebanyak US$6,6 miliar (sekitar Rp95,9 triliun), kekayaan Susilo dan keluarganya didapat dari penjualan rokok Gudang Garam.

Memproduksi rokok sebanyak 85 juta batang ke per tahun, kekuasan pasar atas rokok Gudang Garam bahkan lebih besar daripada Djarum.

Didirikan oleh sang Ayah, Surya Wonowidjojo pada tahun 1958, Susilo adalah Presiden Direktur Gudang Garam sejak tahun 2009, setelah kakaknya, Rachman Halim Wonowidjojo meninggal setahun sebelumnya.

Melantai di BEI dengan nama emiten GGRM, blue-chip yang satu ini begitu anjlok hingga ke level Rp32.900 (19 Maret) di masa pandemi Covid-19.

Tak butuh waktu lama, GGRM bangkit hingga Rp49.825 (6 April), Rp50.025 (16 Juli) dan Rp54.525 (18 Agustus). Namun pada penutupan hari Jumat (28/8) kemarin, GGRM ada di posisi Rp49.250 per lembar saham.

5. PT Indo-Rama Synthetics, Tbk – (INDR)

Di tengah banyaknya keturunan Tionghoa yang berkuasa di daftar orang terkaya Indonesia, Sri Prakash Lohia justru berhasil ada di posisi kelima.

Dengan total harta US$5,6 miliar (sekitar Rp81,3 triliun), perantauan asal India ini berhasil membangun gurita bisnis di Tanah Air lewat PT Indo-Rama Synthetics.

Indo-Rama Synthetics sendiri bergerak di bidang produksi polietilena, benang pintal, kain, serat poliester, polipropilena, filamen, benang pintal sampai sarung tangan medis.

Didirikan pada 1976, PT Indo-Rama Synthetics melantai di BEI dengan nama INDR. Berkat produksinya, INDR cukup tangguh selama wabah corona. Sempat anjlok ke level Rp1.300 pada 23 Maret 2020, INDR terus melambung hingga Rp2.340 (28 Mei) dan terus stabil sampai Rp2.260 per 28 Agustus kemarin.

6. PT Indofood Sukses Makmur, Tbk – (ICBP)

Menara Indofood
Menara Indofood

Belum jadi orang Indonesia rasanya kalau belum pernah makan mie instan Indomie. Sebagai produk asli Indonesia yang sudah mendunia, Indomie yang dihasilkan oleh PT Indofood Sukses Makmur mampu membawa Anthoni Salim ke posisi keenam orang terkaya di Indonesia.

Pemimpin Salim Group ini tercatat berharta US$5,5 miliar (sekitar Rp79,9 triliun). Berkat popularitas Indomie, Indofood menjadi salah satu perusahaan produksi mie instan terbesar di dunia.

Kendati keluarga Salim kehilangan kendali atas BCA dan menjualnya pada keluarga Hartono di masa krisis moneter tahun 1998, Indofood berhasil membuat kekayaan mereka bangkit. Melantai di BEI dengan nama ICBP, emiten satu ini masuk dalam daftar blue-chip.

Selama wabah corona, ICBP tercatat pada level Rp10.975 (13 Maret) lalu kemudian merosot tajam ke Rp8.300 (24 Maret). ICBP berhasil bangkit sampai ke Rp10.350 (14 April), lalu anjlok lagi hingga Rp8.150 (29 Mei).

Ketika pemerintah Indonesia mulai memasuki masa new normal sekalipun pandemi Covid-19 belum terkendali, ICBP mulai stabil meningkat hingga Rp10.550 (5 Agustus) dan Rp10.325 (28 Agustus) kemarin.

7. PT Bank Mayapada International, TBK – (MAYA)

Berbeda dengan daftar orang terkaya lainnya, Tahir yang ada di posisi ketujuh ini terlahir di keluarga tidak mampu di Surabaya. Orang tua Tahir hanyalah pembuat becak.

Ketika sang Ayah sakit keras, Tahir terpaksa harus berhenti kuliah. Namun setelah memperoleh beasiswa dari Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, kehidupan Tahir mulai berubah.

Dia bahkan berjualan sembari kuliah yang membuatnya paham pada kapitalisasi produk impor, terutama di bidang garmen.

Baca juga: Apa Itu Indeks Saham LQ45? Tujuan, Kriteria dan Kabar Terbarunya

Berawal dari garmen, Tahir mendirikan Mayapada Group pada 1986. Gurita bisnisnya melebar jadi dealer mobil, perbankan, hingga kesehatan sampai total kekayaannya per 2019 lalu menurut Forbes adalah US$4,8 miliar (sekitar Rp69,7 triliun).

Dikenal dengan sifat dermawannya, PT Bank Mayapada International pun terus menunjukkan kinerja bisnis positif. Melantai di pasar modal dengan nama emiten MAYA, kini Tahir melalui PT. Mayapada Karunia memiliki 20,94% saham MAYA.

Di awal wabah corona masuk ke Indonesia, MAYA pernah begitu perkasa hingga level Rp7.000 (4 Maret). Lalu kemudian anjlok drastis ke Rp5.600 (8 Mei) dan bangkit lagi hingga Rp6.625 (12 Juni). Terakhir, saham MAYA tercatat ada pada level Rp6.500 (28 Agustus).

8. PT Kalbe Farma, Tbk – (KLBF)

Kalbe Farma © idxchannel
Kalbe Farma © idxchannel

Pandemi Covid-19 berkepanjangan membuat kebutuhan obat-obat kesehatan melonjak. Kondisi itu jelas berdampak pada saham KLBF milik perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, PT Kalbe Farma, sehingga berdampak ke sang pemilik, Boenjamin Setiawan.

Melalui Kalbe Farma, kekayaan Boenjamin meroket hingga US$4,35 miliar (sekitar Rp63,2 triliun).

KLBF sendiri melantai di BEI pada tahun 1991, dan pria yang kerap dipanggil Dr.Boen ini adalah pemilik saham perusahaan sebesar 48% bersama saudara-saudaranya.

Bukan hanya Kalbe Farma, dokter bidang farmakologi ini juga mengendalikan Mitra Keluarga, salah satu jaringan rumah sakit raksasa di Tanah Air. Selama wabah corona, level terendah KLBF adalah Rp865 (24 Maret).

KLBF kemudian terus melambung meskipun beberapa kali turun. Level tertinggi KLBF ada pada Rp1.615 (23 Juli) dan pada 28 Agustus kemarin ditutup pada nilai Rp1.610 per lembar saham.

Jika Anda ingin mengenal lebih dalam tentang saham KLBF Anda bisa membaca lebih lengkap pada tautan berikut Sejarah dan Perkembangan KLBF Sampai Saat Ini

9. PT Bank Mega, Tbk – (MEGA)

Posisi kesembilan ditempati oleh pengusaha Chairul Tanjung yang total kekayaannya hingga 2019 adalah US$3,6 miliar (sekitar Rp52,3 triliun).

Melalui CT Corp, aset Chairul Tanjung begitu meroket dan membuatnya menjadi salah satu taipan negeri ini. CT Corp dikenal sebagai perbankan penerbit kartu kredit, operasional jaringan supermarket, taman hiburan, hingga media TV dan online.

Unit usaha perbankan CT Corp adalah PT Bank Mega dengan nama emiten MEGA yang dapat dibeli publik di pasar modal. Selama wabah corona, MEGA mengawalinya di level Rp5.200 (9 Maret) lalu menanjak hingga Rp6.500 (31 Maret).

Naik turun saat penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Skala Besar) dan masa new normal, MEGA melambung sampai Rp7.900 (3 Agustus). Terakhir pada Jumat (28/8) kemarin, MEGA dijual di level Rp7.300 per lembar saham.

10. PT Mayora Indah, Tbk (MYOR)

Mayora Group © Gajah Bumi Construction
Mayora Group © Gajah Bumi Construction

Menutup daftar 10 orang terkaya di Indonesia adalah Jogi Hendra Atmadja. Pemimpin dari Mayora Group ini memiliki harta senilai US$3 miliar (sekitar Rp43,6 triliun).

Mayora sendiri adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di Indonesia yang menjual kopi, sereal, permen, biskuit dan lain-lain.

Lewat merk Kopiko, Danisa hingga Roma, Mayora Group sudah mengekspor produknya ke lebih 90 negara dengan total 30 ribu pegawai.

Baca juga: Apa itu Saham Blue Chip? Ini Penjelasan Selengkapnya!

Keluarga Jogi Hendra adalah imigran Tionghoa yang memproduksi biskuit di tahun 1948 dan mendirikan Mayora pada 1977. Perusahaan andalan Mayora adalah PT Mayora Indah yang melantai di bursa dengan nama emiten MYOR.

Di awal pandemi, MYOR sempat dijual pada level Rp1.765 (2 Maret) dan anjlok ke Rp1.415 (24 Maret). Bangkit lagi, MYOR melambung hingga Rp2.230 (23 April) dan Rp2.350 (3 Juni).

Terakhir pada penutupan Jumat (28/8) kemarin, MYOR ada di level Rp2.400 per lembar saham.

Jika Anda ingin mengenal lebih dalam tentang saham MYOR Anda bisa membaca lebih lengkap pada tautan berikut Sejarah dan Perkembangan Saham MYOR Sampai Saat Ini.

itulah 10 Saham Perusahaan Milik Pengusaha Terkaya di Indonesia, ke 10 saham tersebut merupakan saham yang secara tidak langsung mengantarkan mereka ke tangga kesuksesan. Semoga bermanfaat!

Bagikan ;

Tinggalkan komentar