Saham

5 Saham Bank Konvensional Yang Bertranformasi Digital, Sahamnya Semakin Menarik

Baru – baru ini, presiden Jokowi memberikan pengarahan dalam Konferensi Forum Indonesia secara virtual. Video lengkapnya bisa Anda saksikan pada kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Dalam kesempatan itu, beliau menyampaikan poin mengenai rangkaian disrupsi besar-besaran akibat inovasi dan dampak pandemi. Bidang jasa keuangan dan perbankan merupakan salah satu yang kena dampaknya.

Revolusi Industri 4.0 menurut beliau merupakan peringatan bagi seluruh aspek industri untuk bisa berinovasi. Dalam masa persaingan yang semakin ketat, tidak melakukan apa-apa beresiko untuk menjadi tiada.

Hal ini senada dengan penilaian dari banyak pengamat pasar modal dan perbankan. Bahwa jasa keuangan mengalami perubahan tren.

Banyak bank yang mulai mengurangi jumlah kantor cabang dan mesin ATM mereka. Ini merupakan salah satu akibat dari dampak transformasi layanan bank digital di Indonesia.

Meski kini hampir semua bank konvensional mempunyai layanan digital, namun kehadirannya agak telat karena sebelumnya sudah muncul beberapa layanan dompet digital seperti OVO, GoPay, dan LinkAja.

Mengutip dari CNBC Indonesia, Rovandi seorang pengamat pasar modal mengatakan bahwa bank konvensional harus berani untuk beradaptasi untuk menyapa komunitas masyarakat muda yang kini menjadi bagian dari masyarakat digital.

“Kemajuan teknologi, consumer behaviour, persaingan yang ketat antarbank dan munculnya banyak bank digital menuntut bank konvensional untuk segera melakukan inovasi”.

Dunia perbankan tentu tidak bisa mengelak munculnya bank digital. Bahkan mereka sudah lebih dahulu mengajukan kerjasama dengan bank konvensional untuk melakukan sama dalam hal pembayaran.

Maka tutupnya beberapa kantor cabang dan ATM di banyak tempat hanya fenomena kecil yang merupakan awal dari transformasi digital yang ada di depan mata.

Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan dari OJK bahwa pola transaksi nasabah bergeser ke arah tren digital yang lebih praktis daripada harus datang ke kantor cabang (kacab) perbankan yang biasanya antri.

OJK mencatat dalam 6 tahun terakhir, ada 3.000 kacab perbankan yang sudah tutup di seluruh wilayah Indonesia.

OJK kemudian menyampaikan bahwa ada tujuh bank yang sedang dalam proses mengajukan izin layanan digital di OJK. Mereka adalah PT Bank Digital BCA, PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO), PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB),PT Bank Capital Tbk (BACA), PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW), dan PT Bank KEB Hana.

Dari ketujuh bank tersebut, ada 5 bank yang sudah melantai di pasar saham. Sedangkan PT Bank Digital BCA masih menginduk pada bank BCA dan PT BANK KEB Hana juga masih menginduk pada bank HANA di Korea Selatan.

Anda pasti sudah tidak sabar ingin tahu harga saham dan membaca profil kelima bank tersebut. Tentu potensi layanan digital akan meningkatkan keuntungan perusahaan dan juga pemilik saham.

Baiklah, mari kita ulas satu persatu di bawah ini ya. Check it out!!

1. PT BRI Agroniaga Tbk (AGRO)

Pada awal berdiri, bank ini bernama  bank AGRO yang didirikan oleh Dana Pensiun Perkebunan (Dapenbun) pada tanggal 27 September 1989.

Bank AGRO fokus pada pendanaan sektor agribisnis Indonesia. Hampir 75% dari kredit Bank AGRO disalurkan untuk pembiayaan agribisnis.

Bank AGRO mulai melantai di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2007 dengan kode AGRO, kode ini juga tetap dipakai hingga sekarang.

Pada tanggal 3 Maret 2011, Bank Rakyat Indonesia (BRI) melakukan akuisisi saham PT Bank Agroniaga Tbk. Kemudian namanya pun berubah menjadi PT BRI Agroniaga Tbk.

Sektor agribisnis tetap menjadi pilar utama bisnis BRI Agroniaga. Selain KUR untuk usaha pertanian dan perkebunan, ada juga pembiayaan untuk pengadaan alat perkebunan bahkan perumahan untuk pegawai perkebunan.

Baca yuk, Benarkah Investasi Saham Blue Chip Pasti Untung?

Bahkan jika perkebunan Anda layak ekspor, BRI Agroniaga punya layanan bantuan permodalan untuk itu.

Dalam laman websitenya, fokus pengembangan layanan digital BRI Agro adalah pada pinjaman digital.

BRIAgro membidik target market para pekerja lepas yang kurang mempunyai akses untuk pinjaman konvensional akibat syarat administrasi.

Dalam era gig economy, semakin banyak anak muda yang menjadi pekerja lepas dan lebih akrab dengan layanan digital daripada konvensional. Sehingga BRIAgro melirik mereka sebagai calon nasabah.

Oh iya, harga saham per lembar AGRO kini mencapai Rp 2.800. Artinya investor memang percaya pada kinerja bank BRIAgro.

2. PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB)

Satu hal yang saya suka dari Bank Neo adalah logonya, kucing yang mengacungkan satu kaki depan. Ini mengingatkan saya pada boneka kucing di toko milik orang tionghoa.

Konon kucing dengan satu kaki terangkat merupakan “jimat” untuk mendatangkan rejeki berlimpah. Mungkin filosofi ini yang juga dianut oleh Bank Neo.

Jika Anda bertanya kenapa kode BEI dari Bank NEO adalah BBYB, karena sebelumnya Bank ini bernama Bank Yudha Bhakti.

Berdiri pada tahun 1989 yang merupakan gabungan dari koperasi di lingkungan TNI. Namun sejak 2020 lalu sebuah kesadaran digital muncul dan nama Bank Neo dipilih sebagai nama yang mengesankan muda dan fresh.

Untuk mempercepat integrasi pengembangan layanan digital, Akulaku yang mempunyai kepemilikan saham 25 persen di Bank Neo akan menjadi pemegang kendali perusahaan.

Ini artinya Akulaku akan segera menggabungkan layanan Bank Neo sebagai salah satu mitra pembayaran utama bagi pembelian barang melalui Akulaku.

Tampaknya akan sangat menarik jika memperhatikan bagaimana ekosistem digital ini semakin terbangun di Indonesia. Tentu Anda jangan hanya jadi penonton, masih ada kesempatan untuk memiliki saham Bank Neo yang kini harganya Rp 545 per lembar saham.

3. PT Bank Capital Tbk (BACA)

PT Bank Capital Indonesia Tbk saat ini telah memiliki 82 Jaringan Kantor Operasional yang tersebar di wilayah Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, Surabaya, Solo, dan Kupang.

Melantai di BEI sejak tahun 2007, kini harga sahamnya kisaran Rp 450 per lembar.

Dengan visi “Menjadi Bank Retail yang sehat dan terpercaya dengan tumbuh secara stabil, inklusif dan berkelanjutan”, Bank Capital terus berupaya menyediakan layanan keuangan dengan pendekatan personal.

Transformasi digital yang sudah dimulai oleh Bank Capital tentunya adalah layanan mobile banking dan internet banking.

Kini Bank Capital ingin fokus pada pengembangan produk dan layanan digital yang semakin memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan kepuasan nasabah.

Kabar paling anyar mengenai Bank Capital adalah pengembangan QRIS dan Cardless transaction. Nantinya nasabah bisa melakukan transaksi dengan scan code dari ponsel masing – masing.

Untuk mempersiapkan persaingan di era digital Bank Capital kini sedang membicarakan kerjasama dengan Grab.

Sama – sama memiliki jaringan di luar Indonesia, dua perusahaan multinasional ini memiliki potensi untuk menggarap pasar ASEAN.

4. PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI)

Berdiri sejak tahun 1993 dengan nama Bank Harda Internasional yang bermarkas di Jakarta. Perusahaan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2015.

Pada tanggal 2 November 2020, Mega Corp mengakuisisi Bank Harda Internasional dengan nilai Rp 308 miliar. Mega Corp menyuntikkan investasi sebesar  Rp 1 Triliun dan mengambil alih kendali manajemen.

Ternyata pergantian nama Bank Harda Internasional menjadi Allo Bank baru saja disahkan pada awal 2021 kemarin.

Pergantian nama ini sebagai awal rebranding dan kabarnya Chairul Tanjung, si anak singkong ingin membuat Allo Bank fokus pada layanan digital.

Ada tiga perusahaan perbankan yang dinaungi oleh Mega Group, yaitu Bank Mega yang melayani nasabah konvensional dan Bank Mega Syariah yang melayani jasa keuangan berbasis keislaman.

Diferensiasi untuk layanan nasabah secara digital akan menjadi area operasi Allo Bank. Kabarnya Allo Bank akan segera meluncurkan aplikasi transaksi keuangan.

Euforia publik tampaknya menyambut hangat transformasi Allo Bank. Ini tampak dari kenaikan harga saham yang signifikan sebesar 250% pada bulan Juni lalu.

Sebelumnya harga saham per lembar hanya Rp 700, kini harga saham Allo Bank bisa mencapai Rp 2.600.

Layak dipantau apakah kenaikan harga saham ini akan sebanding dengan performa layanan digital yang diberikan. Atau hanya sensasi sesaat yang kemudian tertutup oleh bank – bank digital baru yang setiap saat siap untuk menyalip dalam persaingan yang semakin memanas.

5. PT Bank QNB Indonesia Tbk (BKSW)

PT Bank QNB Indonesia Tbk merupakan bagian dari QNB Group, perusahaan perbankan multinasional yang beroperasi di wilayah Timur Tengah dan Afrika.

QNB Group berdiri sejak 1964, kini mempunyai cabang di 31 negara yang tersebar di tiga benua dengan menyediakan rangkaian lengkap produk dan layanan yang terdepan.

QNB Group merupakan salah satu bisnis perbankan yang telah menerima banyak penghargaan dari media finansial internasional terkemuka di dunia.

Bank QNB Indonesia pertama kali berdiri pada 1913 di Medan dengan nama NV Chunghwa Sangyeh Maatschappij.

Sebagai salah satu bank internasional terkemuka di Indonesia, Bank QNB Indonesia mempunyai berbagai produk dan layanan inovatif untuk segmen korporasi dan segmen ritel .

Baca juga, Kenapa Saham Unilever Anjlok?

Pada tahun 2019, Bank QNB Indonesia berhasil meraih peringkat “AAA (idn)” dari Fitch Ratings Indonesia sebagai prestasi atas outlook yang stabil.

Sebagai bank terkemuka, tentu PT Bank QNB Indonesia Tbk ada dalam daftar anggota pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan merupakan anggota Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Anda masih bisa mendapatkan harga murah pada saham bank QNB Indonesia dengan kode BKSW. Tampaknya belum muncul euforia tentang layanan digital yang akan segera dikembangkan oleh QNB Indonesia.

Ini tampak dari harga saham yang masih stabil dalam kisaran Rp 300 sampai Rp 400 tiap lembarnya.

Bagikan ;
Share
Published by
Alfian Ihsan

Recent Posts

Profil 8 Emiten Perusahaan yang Listing IPO Pada Bulan September

Pada awal September 2021, ada 8 emiten perusahaan yang baru listing IPO di Bursa Efek…

5 hari ago

Mengkilapnya 6 Emiten Saham Perusahaan Tambang Nikel

Semakin meningkatny pasar ponsel dan laptop membuat permintaan terhadap nikel semakin tinggi. Karena baterai lithium…

2 minggu ago

7 Keunggulan Superapp Investasi Saham IPOT dari Indo Premier

Apa aplikasi favorit Anda untuk investasi saham? Tahan diri Anda untuk menyebutnya, karena kita sekarang…

2 minggu ago

Hal-Hal yang Wajib Diketahui Investor Soal Tapering Off dari The Fed

Pekan-pekan terakhir bulan Agustus 2021 ini, pelaku ekonomi global tampaknya sedang memusatkan perhatiannya pada Bank…

3 minggu ago

Ustadz Yusuf Mansur Borong 3 Emiten Saham Ini, Simak Profil Perusahannya.

Apakah Anda pernah dengar istilah Mansurmology? Ini adalah ilmu investasi yang sering dibagikan oleh penceramah…

3 minggu ago

10 Pilihan Saham Berpotensi Cuan di Akhir Agustus 2021

Bulan Agustus 2021 tanpa terasa tinggal menyisakan satu hari saja. Tentu berbagai gejolak di pasar…

3 minggu ago