Saham

Pemula Harus Tahu, Apa Itu Saham Gorengan dan Resikonya

Apa itu saham gorengan? Bagi pemula istilah ini mungkin terdengar aneh. Namun istilah ini cukup viral dalam dunia investasi saham dan banyak para investor yang juga membahasnya. Hm.. jadi apakah yang di maksud saham gorengan?

Penamaan istilah saham gorengan yang cukup nyeleneh ini bukannya tanpa alasan. Saham gorengan merujuk pada saham-saham berkualitas rendah yang di rekayasa oleh bandar saham hingga terkesan “wah” atau menjanjikan. Tentunya sebagai investor, kita tidak ingin berinvestasi pada saham-saham yang justru nantinya akan merugikan kita bukan?

Namun kenyataannya banyak sekali investor saham yang berinvestasi tanpa memperhatikan pergerakan dari sisi fundamental maupun teknikal. Lalu akhirnya terjebak pada saham-saham gorengan ini.

Maka dari itu, kali ini kita akan membahas mengenai ciri-ciri dan bagaimana sebaiknya menyikapi saham-saham gorengan.

Ciri-ciri Saham Gorengan

Kita semua pasti menginginkan praktik investasi yang sehat dan menguntungkan. Ada saham yang fundamentalnya bagus sehingga harganya pun naik. Tapi kenyataannya, ada pula saham-saham yang harganya melonjak tinggi tanpa di dukung dengan fundamental yang baik. Inilah yang biasnya disebut saham gorengan.

Praktik saham gorengan ini sempat di sebutkan oleh Presiden saat awal pembukaan Bursa Efek di Januari 2020 yang lalu. Bahwa praktik seperti ini akan di tindak tegas.

Namun demikian sebagai investor kita harus tetap waspada. Bagaimana cara kita mengidentifikasi bahwa sebuah saham kemungkinan adalah saham gorengan? Berikut adalah ciri-cirinya!

1. Kapitalisasi Pasarnya Kecil

Ciri yang pertama adalah biasanya saham gorengan memiliki kapitalisasi pasar yang kecil. Apa itu kapitalisasi pasar (market cap)?

Kapitalisasi pasar adalah harga keseluruhan yang harus di bayar untuk membeli sebuah perusahaan tertentu. Untuk menghitung kapitalisasi pasar bisa menggunakan rumus :

Market cap = Harga saham x Jumlah saham yang beredar

Misalnya harga saham ABCD adalah Rp 5000 dan jumlah saham yang beredar ada sebanyak 1 milyar lembar saham. Dengan begitu nilai kapitalisasi pasar saham ABCD adalah senilai Rp 5 Triliun.

Nah biasanya saham-saham gorengan ini berada pada third liner (lapis ketiga) atau saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar di bawah Rp 1 Triliun.

Coba sekarang Anda amati apakah saham-saham yang sedang Anda invest atau Anda incar saat ini kapitalisasi pasarnya di bawah Rp 1 Triliun?

Namun begitu, bukan berarti saham yang berada di third liner semuanya adalah saham gorengan ya. Masih ada saham-saham yang kapitalisasinya kecil namun punya kinerja / fundamental yang bagus sehingga tidak bisa kategorikan sebagai saham gorengan. Kenapa ya saham gorengan biasanya berasal dari jajaran third liner?

Hal ini karena jika suatu pihak ingin menguasai harga pasar, maka ia butuh modal seharga kapitalisasi pasarnya.

Yuk baca juga, Tips Main Saham Online Modal Kecil

Katakanlah untuk menguasai harga pasar saham BBCA yang kapitalisasinya Rp 735 Triliun maka harus menyiapkan modal sebesar RP 743 Triliun juga. Ini sangat berat untuk oknum-oknum tersebut sehingga dipilihlah saham-saham third liner yang kapitalisasinya masih terjangkau.

2. Volume Transaksinya Tidak Stabil Tiap Harinya

Ciri yang kedua dari saham gorengan adalah memiliki volume perdagangan yang tidak stabil setiap harinya. Maksudnya adalah terlihat bahwa jumlah lot yang di perdagangkan tidak stabil, dan cenderung melonjak secara signifikan dalam waktu sesaat.

Untuk memahami lebih jelasnya, Anda bisa memperhatikan jika ada saham-saham yang sehari-harinya volume perdagangannya tidak likuid (sedikit) lalu tiba-tiba dalam waktu beberapa hari tertentu saja.

Contohnya saham EFGH memiliki volume perdagangan sebesar Rp 20-Rp 30 juta per harinya. Tiba-tiba dalam di hari-hari tertentu volume perdagangannya naik menjadi Rp 1 Triliun. Maka hal ini bisa jadi tanda bahwa saham tersebut sedang digoreng.

3. Volatilitas Harganya Cepat dan Ekstrim

Misalnya ada suatu saham yang awalnya bernilai Rp 500 per lembarnya. Tiba-tiba dalam waktu yang singkat naik menjadi Rp 1000 per lembar, dimana harga ini sebenarnya tidak wajar dalam kenaikan harga saham. Kemudian tidak berapa lama kemudian turun lagi ke harga Rp 500.

Dari sini kita bisa melihat bahwa terdapat pergerakan harga saham yang sangat cepat dan nilainya ekstrim. Nah ini juga menjadi salah satu indikasi bahwa saham tersebut adalah saham gorengan. Jadi jangan dulu tergiur jika menemukan harga saham yang terlihat sedang “murah” dan akan naik dalam waktu yang singkat.

4. Kenaikan Harga Sahamnya Berbanding Terbalik Dengan Fundamentalnya

Masih tentang harga. Ciri yang keempat adalah terlihat dari harga sahamnya melesat naik namun tidak di dukung dengan faktor fundamental perusahaan yang baik.

Logikanya, harga saham akan bergerak naik beriringan dengan kinerja/ fundamental perusahaan yang membaik. Namun ada juga beberapa saham yang naik tiba-tiba walaupun seketika di cek ternyata perusahaanya punya hutang yang banyak, cash flownya macet, kerugiannya tinggi.

Bagaimana bisa harga sahamnya tetap naik walaupun fundamentalnya buruk?

Bisa saja, jika pihak yang sedang menggoreng saham tersebut membuat berita positif ke media. Sehingga hal ini membuat para investor ritel seperti kita tertaril untuk membeli sahamnya.

Sebab salah satu kebiasaan banyak investor di Indonesia adalah mencari tahu saham-saham yang sedang trending tanpa melihat dulu bagaimana fundamentalnya.

Lalu para investor yang terpancing (biasanya investor pemula) akan menyerbu saham gorengan tersebut. Inilah yang membuat harga sahamnya makin naik dari waktu ke waktu secara singkat. Bahayanya jika para investor ritel membeli saham tersebut di harga yang sedang mahal maka akan sangat berpotensi mengalami kerugian.

Resiko Membeli Saham Gorengan

Saham-saham gorengan memang bisa memberikan return yang sangat tinggi dengan waktu yang sangat cepat. Namun di balik itu semua juga terdapat resiko yang sangat besar. Sehingga bagi Anda yang masih pemula sebaiknya mempertimbangkan resiko-resiko berikut ini jika seandainya ingin terjun dalam saham yang renyah ini. Apa saja resikonya?

Harga Saham Amblas dan Tidak Kembali ke Harga Beli Anda

Banyak sekali kasus dimana saat saham gorengan “ditinggal bandar”, lalu harga sahamnya turun drastis dan tidak bisa kembali ke harga awal.

Selain itu, karena sebenarnya saham-saham tersebut memang likuiditasnya rendah. Akhirnya saham kita nyangkut, karena jika di jual maka kita akan rugi besar sehingga hanya bisa “di simpan” bertahun-tahun di saham gorengan.

Emiten Bangkrut

Seperti yang telah di jelaskan sebelum, bahwa saham gorengan biasanya memiliki fundamental yang buruk namun di bungkus sedemikian rupa sehingga nampak seperti investasi yang menguntungkan.

Nah, jika pada dasarnya kinerja emiten dari saham tersebut buruk, maka resiko bangkrutpun sebenarnya sangat tinggi. Jadi ketika emiten bangkrut, tidak ada yang bisa kita lakukan selain melepaskan dana investasi yang sudah terlanjur di tanamkan ke sahamnya.

Tips Menghindari Saham Gorengan

Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menghindari saham-saham gorengan?

1. Tidak Mudah Terpengaruh Untuk Mendapatkan Untung dengan Singkat

Apakah tidak boleh membeli saham gorengan?

Sebenanya membeli saham gorengan itu tidak di larang, namun Anda harus trading dengan analisa bukan hanya ikut-ikutan karena ingin untung besar dengan cepat.

Saham gorengan memiliki tingkat ketidak pastian yang sangat tinggi. Sehingga jika kita masih pemula di sarankan untuk tidak memilih saham gorengan dan melainkan menjadi value investor.

Mungkin juga banyak pihak yang mendorong untuk membeli saham gorengan. Sebaiknya jangan mudah terpengaruh ajakan-ajakan untuk membeli saham gorengan.

Pahami dulu resikonya, dan ingat bahwa kesuksesan berinvestasi tidak datang dari ikut-ikutan atau coba-coba melainkan dari perhitungan yang rasional dan data yang valid.

2. Memperhatikan Harga Saham dan Selalu Pantau UMA

Sebagai investor, kita perlu cermat melihat pergerakan harga saham. Biasanya saham yang bukan termasuk saham gorengan memiliki pergerakan harga saham yang wajar dan rentangnya masih sesuai ketentuan BEI.

Namun Anda perlu berhati-hati jika saham yang Anda minati memiliki pergerakan saham ekstrim di waktu yang cepat.

Selain itu ada baiknya jika Anda juga terus meng-update info tentang Unusual Market Activity (UMA) untuk mengetahui apakah saham incaran Anda masuk di dalamnya.

Ulasan, Saham Teknologi SIap Melejit

Jika ya, maka Anda harus waspada. UMA biasanya di publikasikan di website resmi BEI hampir setiap hari (jika ada pergerakan harga saham yang tidak wajar.

3. Teliti Dalam Memahami Fundamental Emiten

Tips yang ketiga agar terhindar dari saham gorengan tentunya adalah dengan memahami fundamental emiten. Ingat bahwa saham gorengan biasanya memiliki fundamental yang buruk.

Jika Anda menemukan ciri-ciri saham gorengan seperti yang telah di jelaskan di atas maka Anda patut curiga.

Sehingga sebelum membeli saham tertentu yang menggiurkan, coba cek terlebih dahulu bagaimana kondisi fundamentalnya. Anda bisa mendownload laporan keuangannya melalui situs resmi perusahaan ataupun di situs BEI. Pastikan bahwa saham yang Anda pilih memiliki kinerja yang bagus dan prospek kedepannya.

Pahami laporan keuangan dengan teliti, lihat bagaimana rasio hutangnya, bagaimana dengan cashflownya apakah perusahaan dalam keadaan rugi selama 5 tahun terakhir, dan sebagainya. Jika Anda pemula, Anda bisa mulai memperhatikan fundamental saham-saham bluechip misalnya.

4. Perhatikan Likuiditas Sahamnya

Sebelum membeli saham sebaiknya cek dulu likuiditas sahamnya. Bagimana cara melihat apakah saham tersebut dalam keadaan likuid atau tidak?

Selain bisa menggunakan indeks yang sudah di buat BEI, Sebenarnya sudah banyak aplikasi dan website yang menyediakan pengukuran likuiditas saham. Anda juga bisa masuk situs resmi BEI (IDX) lalu bukalah IDX Fact Book. Disana tersedia berbagai Fact Book IDX selama 10 tahun terakhir dan bisa Anda pilih sesuai kebutuhan.

Setelah itu buka halaman “Number of Listed Share, Market Capitalization Trading”. Anda bisa melihat saham-saham yang liquid dan tidak liquid dengan memperhatikan jumlah saham beredar (listed share), kapitalisasi pasarnya dan juga jumlah hari transaksinya (trade days).

Jika jumlah saham beredan dan jumlah hari transaksinya semakin banyak, maka saham tersebut adalah saham yang likuid dan sebaliknya.

Kesimpulan

Jika Anda merupakan value investor sebaiknya menghidari saham-saham gorengan seperti ini. Jangan sampai Anda terjebak di dalamnya, bukan untung yang di dapat tapi justru merugi lebih banyak.

Baca juga, Cara bermain saham di Bursa luar negeri

Jadi tetaplah memperhatikan fundamentalnya dan carilah perusahaan-perusahaan yang memiliki kinerja baik lalu belilah saham saat harganya sedang turun. Semoga dengan penjelasan mengenai ciri-ciri dan juga tips menyikapi saham gorengan membuat Anda lebih waspada dan akhirnya dapat memilih saham-saham berkualitas.

Bagikan ;
Share
Published by
Yulinda Nurlisdiana

Recent Posts

Pahami Perbedaan Antara ETF dan Reksa Dana

Baru – baru ini Bursa Efek mengeluarkan catatan transaksi investasi ETF yang mengalami peningkatan selama…

4 hari ago

Kebangkrutan Evergrande Dan Dampaknya Bagi Pasar Saham

Pasar global kembali geger dengan fenomena Evergrande yang berpotensi gagal bayar hutang perusahaan. Evergrande hari…

2 minggu ago

Cara Beli Saham Netflix, Starbucks, Disney di Bursa Amerika

Tertarik dengan saham-saham luar negeri khususnya di Bursa Amerika? Apakah kita yang ada di Indonesia…

2 minggu ago

Mengintip Pergerakan Saham-Saham LQ45 ‘Termahal’ di BEI

Bagi Anda yang sudah terbiasa menjelajahi pasar modal seperti BEI (Bursa Efek Indonesia) misalnya, saham-saham…

3 minggu ago

Mengenal Robot Trading Yang Lagi Disoroti BAPPEBTI

Baru – baru ini Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) mengumumkan telah memblokir banyak situs…

3 minggu ago

Profil 8 Emiten Perusahaan yang Listing IPO Pada Bulan September

Pada awal September 2021, ada 8 emiten perusahaan yang baru listing IPO di Bursa Efek…

4 minggu ago