Investasi

Mengkilapnya 6 Emiten Saham Perusahaan Tambang Nikel

Semakin meningkatny pasar ponsel dan laptop membuat permintaan terhadap nikel semakin tinggi. Karena baterai lithium yang ada pada perangkat elektronik salah satunya menggunakan nikel sebagai bahan dasarnya.

Itulah kenapa perusahaan tambang nikel Indonesia masih bisa stabil meski banyak perusahaan terdampak krisis Covid-19. Prospek cerah masih akan memihak perusahaan nikel hingga tahun – tahun ke depan.

Meningkatnya permintaan global tentu akan berdampak pada harga komoditas tersebut. Kemungkinan besar harga nikel masih berada di level uptrend dengan target harga menembus US$18.200-US$18.800 per ton pada tahun ini.

Salah satu penyebab stabilnya harga adalah karena sentimen kenaikana permintaan untuk baterai kendaraan listrik.

Tingginya optimisme pasar dalam menyambut kendaraan listrik tentu akan menaikkan permintaan nikel sebagai bahan baku baterai. Ini merupakan hasil riset pasar global yang diterbitkan oleh Bloomberg.

Indonesia tentu mempunyai bahan tambang melimpah, salah satunya adalah nikel. Meski Tesla tidak jadi membangun pabrik baterai di Indonesia dan lebih memilih India.

Namun Indonesia masih akan menjadi pemasok utama nikel ke pabrik Tesla, salah satu produsen kendaraan listrik.

Tentu ini merupakan sinyal positif bagi para perusahaan tambang nikel, misalnya PT. Aneka Tambang Tbk dan PT Vale Indonesia Tbk.

Prospek menarik ini akan membuat harga emiten dua perusahaan tersebut dalam angka yang stabil. Pada bulan kemarin PT Antam masih mencatatkan harga stabil 2.300 rupiah per lembar saham.

Sedangkan PT Vale juga mencatat grafik yang selalu hijau, stabil pada angka 5.200 rupiah. Kedua perusahaan ini sama – sama mencatatkan kenaikan produksi selama semester 1 pada tahun 2021.

Antam mampu memenuhi produksi bijih nikel sebanyak 5,34 juta wet metric ton (wmt) pada Januari-Juni 2021. Realisasi itu meningkat signifikan, 287% pada periode yang sama di tahun 2020 sebanyak 1,38 juta wmt.

Selain dua perusahaan itu, ada juga beberapa perusahaan pertambangan lain yang juga memproduksi nikel. Stabilnya harga nikel membuat harga emiten mereka relatif stabil dan tentu…Cuan Bos!!

1. PT Timah Tbk (TINS)

PT TIMAH Tbk merupakan salah satu BUMN bidang pertambangan yang fokus pada produksi dan ekspor logam timah.

Sebagai perusahaan yang sudah sejak tahun 1976 mengeruk Timah, kini TINS mempunyai semua unit yang dibutuhkan untuk menambang timah.

Integrasi pertambangan mulai dari kegiatan eksplorasi, penambangan, pengolahan hingga pemasaran. Unit usahanya juga mencakup bidang pertambangan, perindustrian, perdagangan, pengangkutan dan jasa.

Meski nama perusahaan adalah PT Timah, namun kemudian bidang pertambangannya meluas hingga ke batubara dan nikel.

Untuk tambang nikel milik TINS ada di daerah Sulawesi Tenggara dengan luas IUP sebesar 300 Hektar. Malahan dua bahan tambang ini menjadi penopang perusahaan saat harga timah sedang mengalami fluktuasi.

Menurut beberapa sumber, timah PT TINS juga sedang dalam kajian uji kelayakan untuk bisa menjadi bahan baku kendaran listrik. Jika lolos, maka PT TINS mempunyai kesempatan untuk memasok dua barang sekaligus yaitu timah dan nikel.

Apakah Anda berminat jadi investor pada PT TINS? Cukup dengan 1.500 tiap lembar saham, Anda bisa menjadi salah satu investor pada perusahaan yang bermarkas di Pangkalpinang ini.

2. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Seperti namanya, perusahaan ini mengelola aneka pertambangan dan tentu menghasilkan aneka produk tambang. Antara lain emas, nikel, bauksit, perak, dan batubara.

Berdiri sejak tahun 1968, PT Antam tentu mempunyai kemampuan untuk melakukan semua proses pertambangan. Bahkan PT Antam juga mempunyai pabrik pemurnian dan pengolahan logam mulia.

Emas hasil olahan PT Antam memang mempunyai kualitas yang baik dan harganya mahal. PT Antam mengelola dua  tambang bijih emas yakni Pongkor, Jawa Barat dan Cibaliung, Banten, keduanya merupakan tambang emas bawah tanah.

Tambang nikel milik PT Antam ada di beberapa tempat, yaitu Pomalaa Sulawesi Tenggara, Halmahera Timur, Maluku Utara, dan Papua Barat.

Beberapa area pertambangan tersebut pada tahun 2020 mampu memproduksi 1.438 juta wet metric ton. Sebagian dari mereka dijual mentah dan sebagian lagi diolah sendiri pada pabrik pengolahan di Pomalaa.

Pengolahan biji nikel milik PT Antam menghasilkan feronikel yang berbentuk bulatan seukuran peluru, sehingga mereka menyebutnya dengan shot.

PT Antam kemudian menjual shot feronikel pada produsen baja pada wilayah domestik maupun luar negeri.

Dengan sokongan varian bahan tambang lain selain biji emas, PT Antam mampu membuat harga emiten mereka stabil pada harga 2.200 hingga 2.400 rupiah per lembar.

Temukan PT Antam dengan kode ANTM pada aplikasi investasi saham milik Anda. ANTM ada dalam barisan saham LQ45 yang artinya potensi keuntungannya selalu mengkilap seperti emasnya. Hehe.

3. PT Harum Energi Tbk (HRUM)

PT. Harum Energy Tbk (HRUM) berdiri sejak tahun 1995, dan melantai pada bursa saham pada tahun 2010 dengan kode HRUM. Harga emiten per lembar pada tahun ini pada angka 5.000 rupiah.

PT Harum merupakan perusahaan yang tergabung dalam sebuah grup perusahaan induk milik PT Karunia Bara Perkasa. Fokus pada usaha tambang batubara dan mineral untuk kawasan Kalimantan Timur dan Maluku Utara.

Tergabung dalam grup perusahaan raksasa merupakan sebuah keuntungan. Karena perusahaan mempunyai  rantai produksi yang menyeluruh secara vertikal.

Hal ini akan membuat operasional perusahaan menjadi lebih berkembang, efisien dan mampu bertahan menghadapi siklus pertambangan batubara di pasar domestik dan mancanegara.

PT Harum merupakan salah satu perusahaan tambang Indonesia yang sudah berhasil memasok batubara ke berbagai negara Asia. Seperti Tiongkok, Thailand, Bangladesh, Korea Selatan, India, Pakistan, dan Filipina.

PT Harum merupakan pemain baru dalam pertambangan nikel, sejak mengakuisisi tambang nikel milik Aquila Nickel.

PT Harum kemudian membuat anak perusahaan yang fokus untuk mengoperasikan tambang nikel, yaitu PT Tanito Harum Nickel.

Akuisisi tambang nikel sebagai proses diversifikasi usaha perusahaan dan juga melihat peluang bahwa bisnis nikel sedang mengalami kenaikan.

Direktur utama PT Harum Ray Antonio Gunara memprediksi bahwa kebutuhan nikel akan semakin naik mengingat kebutuhan peralatan elektronik juga semakin naik.

Tidak tanggung – tanggung pemirsa, harga akuisisi tambang nikel mencapai 80 juta dolar amerika. Ray mengatakan bahwa jumlah itu adalah uang dari internal perusahaan, tanpa investor tambahan. Memang sultan PT Harum ini. Mantap.

4. PT Vale Indonesia Tbk (VALE)

Kita sudah menyebut PT Vale pada awal artikel ini dan sekarang kita akan mengupasnya. PT Vale Indonesia merupakan merupakan perusahan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi.

Lahan tambang utama milik PT Vale adalah Blok Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan.

PT Vale Indonesia merupakan bagian dari perusahaan multitambang asal Brasil yang juga memiliki nama Vale. Perusahaan ini merupakan pemain global dalam tambang besi dan nikel, salah satu pemasok paling banyak dunia.

PT Vale Indonesia mempunyai sejarah panjang, sejak tahun 1920 mengelola wilayah Sulawesi Timur. Kemudian pada tahun 1968 resmi menggunakan nama Vale untuk mengelola beberapa tambang di Sulawesi.

Kini PT Vale Indonesia memiliki lahan konsesi seluas 118.017 hektar meliputi Sulawesi Selatan (70.566 hektar), Sulawesi Tengah (22.699 hektar) dan Sulawesi Tenggara (24.752 hektar).

PT Vale Indonesia menambang nikel laterit dan mengolahnya menjadi  nikel dalam bentuk matte. Rata-rata volume produksi nikel setiap tahun mencapai 75.000 metrik ton.

Nikel hasil produksi PT Vale sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor, khususnya Jepang.

PT Vale mempunyai kontrak jangka panjang dengan Sumitomo Metal Mining Co, Ltd sebagai pemasok kebutuhan nikel.

Harga saham VALE per lembarnya pada kisaran 5 ribu rupiah. Pada tahun ini Vale mencatatkan perkembangan grafik yang bagus karena nikel masih menjadi mineral yang banyak dibutuhkan.

5. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)

Perusahaan ini asli milik Indonesia dengan hasil pengolahan tambang kelas dunia. Ada beberapa nama top yang memiliki saham PT MDKA ini, yaitu PT Saratoga Investama Sedaya Tbk., PT Provident Capital Indonesia, dan Bapak Garibaldi Thohir.

Apakah Anda merasa tidak asing dengan nama PT Saratoga? Betul, itu adalah perusahaan milik Sandiaga Uno. Pengusaha yang sudah banyak makan asam garam dan kini jadi menteri pariwisata pada era Jokowi.

Sebagai perusahaan nasional, Merdeka Copper mengelola lima area pertambangan yang luar biasa luas. Yaitu Tujuh Bukit Copper, Pani Joint Venture, Wetar/Morowali Acid Iron Metal, Tujuh Bukit Gold, Wetar Copper.

Area Tujuh Bukit merupakan yang paling produktif dan kaya mineral. Yaitu mengandung sekitar 28,3 juta ounce (oz) emas dan 8,7 juta ton tembaga dengan kualitas tinggi.

Pada 31 Desember 2020, Tujuh Bukit masih mengandung mineral tersisa 1,9 juta oz emas dan 77,8 juta oz perak dan cadangan bijih lain, termasuk nikel.

Kemudian ada Area produktif lain yaitu Tambang tembaga wetar yang masih mengandung mineral 163 ribu ton tembaga.

Harga saham PT Merdeka cukup terjangkau, hanya dengan 2.600 rupiah per lembar saham, Anda bisa menjadi salah satu investor perusahaan ini.

6. PT Central Omega Resources Tbk (DKFT)

Berdiri pada tahun 1995, dengan nama Duta Kirana Finance yang fokus pada bidang investasi keuangan. Kemudian masuk ke bursa saham pada tahun 1997. Itulah mengapa namanya sampai hari ini tetap DKFT.

Sejak tahun 2008, perusahaan mulai  terjun pada bidang pertambangan bijih nikel dengan mengakuisisi beberapa perusahaan.

Kemudian pada tahun 2011, perusahaan mulai mengekspor bijih nikel ke luar negeri. Kini produksi nikel PT Central mampu mencapai 3 juta ton per tahun.

PT Omega mempunyi beberapa area tambang bijih nikel. Antara lain Morowali, Sulawesi Tengah dan Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Kedua tempat itu kabarnya memiliki cadangan nikel besar dunia.

Untuk kelancaran perusahaan, kemudian PT Omega juga mempunyai smelter Ferronikel (FeNi) di Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Pembangunan smelter  bekerjasama dengan PT Macrilink Nickel Development dengan membentuk satu perusahaan baru, PT COR Industri Indonesia.

PT Central Omega Resources Tbk juga menjalin kerja sama dengan PT Macrolink Nickel Development. Untuk membangun langkah strategis bisnis nikel hingga ekspansi pasar luar negeri.

Kerjasama juga mencakup perbaikan tata kelola tambang yang berkelanjutan maupun peningkatan nilai tambah sumberdaya mineral bijih nikel.

Hasil dari kerjasama ini salahsatunya adalah pengoperasian smelter FeNi di Morowali Utara, Sulawesi Tengah sejak beberapa tahun lalu.

Bagikan ;
Share
Published by
Alfian Ihsan

Recent Posts

Ada Varian Baru Covid-19, Seperti Ini Performa Emiten Saham Minyak

Tanpa terasa pandemi Covid-19 sudah hampir dua tahun melanda Indonesia. Tentu jika melihat apa yang…

3 hari ago

Kenalan dengan NFT, Aset Digital yang Viral di 2021

Dalam beberapa bulan terakhir, nama NFT (Non-Fungible Token) tengah ramai diperbincangkan. Tidak hanya mereka yang…

2 minggu ago

Diborong Konglomerat, Intip Kinerja Saham Emiten Rumah Sakit

Tanpa terasa pandemi Covid-19 sudah hampir dua tahun lamanya melanda seluruh dunia. Perubahan jelas terjadi…

2 minggu ago

Horor Krisis Evergrande, Ada Properti China Gagal Bayar Lagi?

Sepanjang bulan Oktober 2021 kemarin, perekonomian China memang jadi sorotan dunia. Tak lain dan tak…

2 minggu ago

First Jobber Mau Beli Saham? Simak Hal-Hal Berikut Ini!

Lulus kuliah atau sekolah, lalu memperoleh penghasilan dari pekerjaan pertama. Sangat menyenangkan, bukan? Kondisi inilah…

3 minggu ago

Mengenal Berbagai Musim Saham, Kapan Waktu Terbaik Berinvestasi?

Investasi saham adalah salah satu jenis investasi yang beresiko tinggi. Namun bukan berarti kita tidak…

1 bulan ago