Horor Krisis Evergrande, Ada Properti China Gagal Bayar Lagi?

Sepanjang bulan Oktober 2021 kemarin, perekonomian China memang jadi sorotan dunia. Tak lain dan tak bukan karena kasus yang menjerat raksasa properti Tiongkok, Evergrande. Ancaman gagal bayar utang (default) yang dialami Evergrande sebagai pengembang properti terbesar di China, disebut memberikan efek domino pada perekonomian dunia. Tak heran kalau krisis Evergrande memang jadi sorotan.

Sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia, krisis Evergrande memang layak diperhatikan karena efeknya yang cukup panjang. Di mana ketika mereka benar-benar tak sanggup melunasi utang perbankan lokal termasuk obligasi, maka dampaknya akan dirasakan oleh investor hingga mitra bisnis Evergrande, sehingga bukan tak mungkin membuat perekonomian China limbung.

Lebih luas lagi, Evergrande juga bisa membuat para pemasok properti dari luar negeri terancam kebangkrutan karena tidak adanya pembayaran. Kalau sudah begini, dampaknya jelas akan secara global termasuk Indonesia yang memang selama ini dikenal sebagai salah satu mitra bisnis bagi Tiongkok. Menjadi masalah baru karena konon krisis Evergrande bukan satu-satunya yang dialami sektor properti China.

Baca juga: Untung-Rugi dan Tips Pakai Robot Trading Agar Tak Tertipu

Krisis Evergrande Picu Badai Gagal Bayar Sektor Properti China

gedung pusat Evergrande
© Reuters

Mungkin tidak ada yang menduga bahwa sektor properti Negeri Tirai Bambu itu bisa benar-benar ambruk karena krisis Evergrande. Namun yang cukup mengejutkan dan membuat banyak ekonom cemas adalah krisis ini bak fenomena gunung es. Di mana masih banyak lagi pengembang properti yang kini juga mengalami kondisi tidak terlalu berbeda.

Hal ini yang akhirnya membuat sektor properti China belum memperlihatkan tanda pulih karena di lain pihak, banyak developer yang terjun ke jurang krisis sama. Setelah Evergrande, kini pengembang real estate Sinic Holdings mulai jadi perhatian pasar. Semua bermula saat Sinic Holdings mengumumkan ketidak mampuan mereka dalam membayar obligasi luar negeri yang jatuh tempo pada 18 Oktober 2021.

Tak main-main, pembayaran obligasi luar negeri Sinic Holdings itu disebut menyentuh US$250 juta (sekitar Rp3,5 triliun). Sementara itu beberapa hari sebelumnya, China Properties Group juga mengumumkan masalah yang sama. Di mana China Properties  Group mengungkapkan jika mereka gagal bayar wesel senilai US$226 juta (sekitar Rp3,19 triliun) yang sudah jatuh tempo pada 15 Oktober 2021.

Tak berhenti di situ saja, Fantasia Holdings juga mengakui krisis serupa lantaran tak mampu membayar obligasi yang sudah jatuh tempo awal Oktober 2021 lalu sebesar US$206 juta (sekitar Rp2,19 triliun). Seolah enggan berhenti, kali ini awan kehancuran juga tengah dialami Modern Land. Dilansir Reuters, perusahaan yang melantai di bursa Hong Kong itu sudah melewati batas jatuh tempo pembayaran obligasi pula.

Modern Land sendiri dilaporkan sudah menyatakan pembatalan pembayaran bunga obligasi dan memilih membayar sebagian obligasi dengan total US$250 juta (sekitar Rp3,62 triliun) itu. Di mana obligasi itu sendiri sudah jatuh tempo pada 25 Oktober 2021 dan mereka memutuskan memperpanjang tenggat waktu hingga tiga bulan. Seolah tak ingin situasi makin memburuk, otoritas China mendesak pertemuan.

Dimulai dari krisis Evergrande, sektor properti China memang mengalami hantaman yang cukup besar. Semakin memperburuk kondisi, kabarnya pemerintah China segera menetapkan pajak real estate yang lagi-lagi dipandang sebagai masalah baru. Tak heran kalau kinerja saham-saham mereka di lantai bursa pun semakin memburuk seiring krisis  yang seolah masih enggan belum berhenti itu.

Bantuan Dana Untuk Evergrande, Apa Dampak ke Cryptocurrency?

proyek properti Evergrande
© LA Times

Menghebohkan dunia sejak bulan September-Oktober 2021, babak baru kini dialami oleh Evergrande. Retures melaporkan bahwa pada pertengahan November 2021 ini, Evergrande kabarnya bakal menjual seluruh sahamnya di HengTen Network Holdings sebesar US$273,47 juta (sekitar Rp3,8 triliun) demi membayar seluruh utang-utang mereka.

Kondisi ini memang terpaksa terjadi mengingat kini Evergrande berstatus sebagai developer properti dengan utang terbesar di dunia. Kabarnya Evergrande sudah menandatangani perjanjian dengan Allied Resources Investment Holdings Ltd untuk menjual 1,66 miliar lembar saham HengTen, yang dibanderol HK$1,28 per lembar. Evergrande sampai memberikan diskon 24% lantaran mereka kini terbebani utang lebih dari US$300 miliar yang mana US$19 miliar di antaranya adalah obligasi pasar internasional.

Meskipun berusaha bangkit, tak pelak kalau kehancuran yang dialami Evergrande memang bikin banyak investor cemas. Tak hanya investor saham, cryptocurrency rupanya juga ikut ketar-ketir termasuk pelaku pasar keuangan global lainnya.

Bahkan pada akhir September lalu, banyak orang menilai kalau harga-harga ambruk di pasar kripto terjadi lantaran para investor ingin melikuidasi dana-dana kripto mereka. Hanya saja saat itu, beberapa raksasa perbankan dunia seperti HSBC dan Blackrock berperan sebagai pembeli saham terbesar, atas utang perusahaan properti yang dianggap bakal memberikan bencana pada perekonomian global itu.

Baca juga: Mengintip Pergerakan Saham-Saham LQ45 ‘Termahal’ di BEI

Saat itu kecemasan pelaku pasar kripto terjadi saat total kapitalisasi cryptocurrency melemah kurang dari US$2 triliun untuk pertama kalinya, sejak dua bulan ke belakang. Artinya ada pelemahan sebesar 20% hingga 30% pada pasar mata uang kripto. Sementara itu di lain pihak, pemerintah China sepertinya rela berbuat apapun untuk menyelamatkan Evergrande.

Di mana pada akhir September kemarin, bank sentral China menyuntikkan dana segar sebesar US$19 miliar (sekitar Rp271 triliun) ke dalam sistem perbankan mereka. Kondisi ini jelas cukup membuat pasar kripto sedikit bernapas lega, meskipun memang dalam perjalanannya hingga pertengahan November saat ini, kembali mengalami bullish.

Terbaru, Coinmarketcap melaporkan jika harga bitcoin anjlok ke bawah level US$60 ribu dalam sepekan terakhir. Dilaporkan pada hari Jumat (19/11) siang ini, bitcoin terpuruk di level US$55.896 (sekitar Rp795 juta) per ‘keping’.

Krisis Evergrande dan Properti Lain, ini Dampaknya ke PDB China

proyek yang dibangun Evergrande
© AFP Photo

Tak bisa dipungkiri kalau kondisi menggemparkan yang dialami Evergrande memang memicu sentimen dan perhatian pasar global. Karena meskipun kondisi kini lebih terkendali, pandemi Covid-19 memang masih menghantui pertumbuhan ekonomi, sehingga masalah utang Evergrande dikhawatirkan bakal makin memperburuk kondisi.

Bahkan bukan hanya terjadi di sektor properti saja, sektor manajemen kekayaan perusahaan yakni Evergrande Wealth, dilaporkan juga terlilit utang. Dilaporkan hingga akhir Juni 2021 kemarin, Evergrande Wealth punya utang hampir mencapai US$309 miliar (sekitar Rp4,4 triliun). Fakta bahwa pasar properti China memiliki sumbangsih cukup besar terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) Tiongkok, Indonesia pun diharapkan waspada.

Tak main-main, porsi pasar properti itu mencapai 25% dari PDB China. Hal inilah yang akhirnya membuat lembaga pemeringkat Fitch Ratings langsung memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Negara Tirai Bambu itu pada akhir September lalu. Dilaporkan oleh AFP, Fitch Ratings bahkan memprediksi kalau pertumbuhan ekonomi China hanya akan menyentuh 8,1%, lebih kecil daripada perkiraan sebelumnya di level 8,4%.

Baca juga: Hal-Hal yang Wajib Diketahui Investor Soal Tapering Off dari The Fed

Bukan hanya membuat cemas banyak negara-negara maju dan berkembang lainnya, pemerintah China kabarnya juga mengambil langkah mandiri demi menyelamatkan Evergrande. Presiden China Xi Jinping misalnya, sampai mengajak Partai Komunis China untuk mencari solusi terbaik atas kebangkrutan Evergrande ini, seperti rencana memecah perusahaan jadi tiga entitas terpisah.

Kabarnya rencana ini bisa membuat langkah Evergrande untuk jadi perusahaan BUMN semakin mudah. Sementara itu, hal ini dilakukan demi melindungi masyarakat China yang sudah membeli properti seperti apartemen dari Evergrande. Sedangkan untuk jangka panjangnya, merupakan upaya Tiongkok agar kebangkrutan ekonomi mereka tidak benar-benar terjadi.

Sekadar informasi, peluang gagal bayar Evergrande ini sudah membuat terjadinya penurunan kekayaan atas investor-investor properti di Tiogkok. Semua ini memang dipicu rontoknya saham Evergrande yang sudah mencapai 17%, sehingga mau tak mau perekonomian China seolah ada di ujung tanduk.

Hanya saja meskipun berbagai upaya dilakukan, tampaknya kehancuran Evergrande sudah semakin dekat. Bahkan analis S&P Global Ratings melaporkan pada Kamis (18/11) kemarin, kemungkinan Evergrande tidak bisa membayar seluruh utangnya tinggal menunggu waktu lantaran perusahaan sudah kehilangan bisnis utamanya. Kondisi ini seolah sejalan dengan keputusan S&P Global Ratings yang menurunkan peringkat utang Evergrande dari CC ke CCC dengan outlook negatif.

Sekadar informasi, Evergrande saat ini memang tengah bisa sedikit bernapas lega setelah berhasil mencegah kegagalan bayar mereka saat injury time. Hanya saja para analis justru menilai kalau masalah yang lebih besar justru akan menghantam Evergrande, saat tenggat waktu surat utang yang bakal jatuh tempo pada Maret dan April 2022 sebesar US$3,3 miliar tiba.

Imbas Krisis Evergrande dan Properti Lain ke Indonesia

imbas krisis Evergrande ke Indonesia
© Getty Images

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Indonesia memang tidak bisa menutup mata atas kondisi krisis Evergrande dan muramnya properti China dalam sebulan terakhir. Hal inilah yang akhirnya membuat Menkeu Sri Mulyani angkat bicara. Dilansir CNBC Indonesia, Menkeu Sri tak menampik risiko baru terhadap stabilitas sektor keuangan Tiongkok karena kondisi gagal bayar perusahan-perusahan konstruksi raksasa mereka, membuat Indonesia memilih waspada.

“China akan mengalami situasi ekonomi yang tidak mudah dan memberikan dampak luar biasa baik perekonomian domestik, atau dunia. Situasi ekonomi China haruslah dicermati dan diwaspadai. Mulai dari kenaikan ekspor terutama komoditas, memang sangat dipengaruhi oleh pemulihan ekonomi global yang memang dipimpin oleh Tiongkok, Eropa dan Amerika,” jelas Menkeu Sri panjang lebar.

Sedangkan pendapat lain mengenai krisis Evergrande justru diungkapkan oleh Perry Warjiyo selaku Gubernur BI (Bank Indonesia). Menurut Perry, ancaman gagal bayar hutang sejumlah perusahan properti Tiongkok itu tak akan memberikan dampak besar pada industri properti di Indonesia.

Baca juga: Borong Saham MNC Bank, Intip Kinerja 8 Saham Ustaz Yusuf Mansur

“Menurut assessment kami, kondisi properti di Tanah Air masih jauh dari yang dikatakan akan mengalami boom atau bubble. Karena memang ketersediaan supply masih jauh lebih besar daripada kenaikan permintaan. Apalagi saat ini permintaan properti juga terus tumbuh yang terlihat dari kredit KPR meningkat 8,67% per September 2021,” ungkapnya panjang lebar.

Hanya saja kendati dipandang tak mempengaruhi sektor properti lokal, krisis Evergrande disebut memberikan dampak ke pasar keuangan. Cukup mencemaskan karena pasar saham dan SBN (Surat Berharga Negara) domestik tengah tumbuh. Untuk itulah supaya bisa melihat kondisi lebih baik, Anda investor ekuitas wajib mengamati perkembangan kasus krisis properti-properti di Tiongkok.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar