Investor Asing Semakin Melirik Indonesia

IHSG mencatat aliran investasi asing yang cukup besar sejak bulan Februari, peningkatan ekonomi membuat investor asing semakin melirik Indonesia untuk berinvestasi.

Menurut beberapa laporan dari Times.com, saham industri pada pasar saham Eropa menunjukkan penurunan.

Ini merupakan imbas dari pengumuman rencana invasi Rusia sejak Januari lalu yang kini menjadi kenyataan.

Kemudian Kontan.co.id mencatat sejak bulan Februari 2022 ada kucuran deras dari investor asing masuk bursa saham Indonesia.

Tidak tanggung-tanggung investor asing semakin melirik Indonesia, ada 23 triliun rupiah hingga penghujung bulan Februari 2022 dana asing yang masuk.

Investor asing yang semakin melirik Indonesia ini pun turut memompa grafik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga pada tiitik rekor all time high.

Investor Asing Semakin Melirik Indonesia

Namun menurut Head of Investment Research Infovesta Utama yaitu Wawan Hendrayana, gejolak situasi keamanan Eropa bukan satu-satunya faktor Investor asing semakin melirik Indonesia.

Ada tiga faktor penting dari dalam negeri sendiri yang membuat Wawan optimis bahwa ekonomi kita akan semakin membaik.

Pertama, pemulihan ekonomi sejak kuartal 4 tahun 2021 sebagai dampak dari baiknya penanganan Covid-19 di Indonesia.

Kedua, rencana The Fed untuk menaikkan suku bunga obligasi pada bulan Maret menjadi hal yang tidak menarik bagi investor. Sehingga mereka mencari alternatif investasi lain.

Ketiga, geliat perusahaan teknologi Indonesia menunjukkan grafik yang signifikan sehingga menarik minat investor luar negeri untuk berinvestasi.

Pandhu Dewanto, analis dari perusahaan Investindo Nusantara turut menambahkan satu faktor lagi yang berkontribusi pada aliran investasi asing yang semakin melirik Indonesia.

Kenaikan komoditas harga ekspor Indonesia yang menjadi penopang neraca perdagangan dan kurs relatif aman dari dampak Tapering Off The Fed.

Berkurangnya Pasokan Global

Dalam artikel sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa Ukraina dan Rusia merupakan penyumbang komoditas global seperti gas, minyak, dan gandum.

Dengan adanya konflik dan sanksi ekonomi, maka banyak negara tidak bisa melakukan transaksi dengan kedua negara tersebut.

Sehingga mereka harus mengambil komoditas yang mereka butuhkan dari negara lain.

Sebagaimana hukum ekonomi, jumlah barang yang sedikit dengan permintaan yang besar akan meningkatkan harga komoditas.

Beberapa negara juga mencari komoditas pengganti seperti batubara dan minyak sawit yang merupakan komoditas utama Indonesia.

Tentu ini membuat eksportir dari Indonesia berani menaikkan harga, mumpung permintaan pasar lagi naik nih.

Maka tidak heran dalam beberapa hari ini harga saham perusahaan sawit dan batubara Indonesia menunjukkan pergerakan yang positif sebagai naiknya tren permintaan.

Membaiknya Sektor Perbankan

Sektor perbankan juga merupakan salah satu faktor investasi asing semakin melirik Indonesia pada awal tahun 2022.

Penyaluran kredit lunak mampu membangkitkan ekonomi arus bawah dan menjaga pengembalian kredit secara tetap berjalan meski dalam jumlah yang tidak banyak.

Meski aliran angsuran kredit terbilang cukup smooth, mengingat kondisi ekonomi arus bawah masih dalam tahap merangkak naik, namun cukup untuk menjaga roda aktifitas perbankan.

Contohnya adalah BRI yang pada akhir tahun 2021 kemarin membagikan 85 persen laba bersih sebagai dividen pemegang saham.

Right Issue BBRI, Bagaimana Prospek dan Strateginya

Dengan fundamental yang solid dan pengelolaan keuangan yang bagus, maka BRI bisa menjaga stabilitas perusahaan dan menarik investor asing.

Ini pertanda baik bagi Anda yang sedang mencari saham dengan fundamental bagus. Coba lihat Bank BUMN yang relatif mengalami peningkatan kinerja sejak tahun lalu.

Kesimpulan

Sebagaimana artikel ini katakan bahwa perekonomian Indonesia sudah mulai membaik, bahkan hal itu diamini oleh investor asing.

Aliran dana asing yang masuk merupakan sinyal yang baik bahwa market Indonesia sudah mulai dianggap sebagai market yang valuable.

Semoga kita tetap bisa mempertahankan kondisi ini untuk satu tahun ke depan dan semakin merangkak naik di tengah ketidakpastian kondisi global khususnya Eropa.

Bagikan ;