Hal-Hal yang Perlu Anda Ketahui dari Investasi Komoditi

Dengan perekonomian dunia yang masih jauh dari kata stabil, tentu setiap orang harus wajib memiliki perencanaan finansial yang baik. Mengandalkan penghasilan saja?

Jelas tidak mungkin, karena di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, ada banyak orang yang harus tiba-tiba kehilangan pekerjaan tanpa dikehendaki.

Kalau sudah begini, tentu daripada bermuram durja, Anda harus mulai belajar seperti apa sih mengelola keuangan dengan baik.

Salah satunya adalah dengan mulai mempertimbangkan betul yang namanya investasi. Memang tidak akan bisa memperoleh keuntungan dalam waktu singkat seperti pedagang harian.

Namun investasi adalah solusi terbaik bagi siapapun yang ingin memiliki masa depan keuangan lebih berkualitas.

Baca juga: Komoditi Ekspor Indonesia Terbanyak dari Sektor Ini, Apa Saja?

Apalagi dengan belum pastinya vaksin Covid-19 ditemukan dan bukan tak mungkin perekonomian global bakal suram lagi, tentu investasi menjadi pilihan untuk tetap membuat kebutuhan finansial stabil.

Tak harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar, saat ini instrumen investasi semakin beragam saja sehingga Anda bisa memilih salah satu di antaranya yang paling sesuai dengan kebutuhan.

Misalnya saja bagi Anda yang mendambakan keuntungan besar dan cukup berani ambil risiko, tentu bisa mempertimbangkan investasi saham, reksadana atau forex.

Ingin yang relatif lebih aman? Obligasi jelas jadi pilihan. Mau yang sangat aman dan untung stabil? Maka investasi properti, tabungan deposito dan emas adalah jawabannya.

Namun tahukah Anda, kalau ternyata saat ini ada satu jenis investasi yang cukup menarik dan layak dipilih, yakni investasi komoditi.

Apa itu Investasi Komoditi?

ilustrasi sebaran komoditas di dunia © jpmorgan
© jpmorgan

Tidak banyak yang menyadari, bahwa jauh sebelum pasar modal atau pasar uang terbentuk di dunia ini, masyarakat sudah mengenal yang namanya investasi komoditi.

Yap, di saat metode transaksi manusia masihlah sangat sederhana, komoditi atau komoditas merupakan bisnis yang sangat penting dalam peradaban manusia.

Apalagi di masa lampau, manusia sebetulnya sudah mengenal investasi komoditi dengan metode yang lebih sederhana yakni barter.

Saat itu, beberapa komoditas seperti rempah-rempah, minyak mentah hingga sutra adalah produk perdagangan populer.

Sehingga jika disimpulkan, komoditi sendiri merupakan bahan baku dasar yang bisa diperjual-belikan dengan barang lain, asalkan mempunyai tipe sejenis.

Lantaran menjadi bahan baku produksi itulah, komoditi memiliki nilai jual/beli sesuai dengan standar yang dimiliki.

Bagi Anda yang paham betul pentingnya diversifikasi investasi, tentu investasi komoditi jelas bisa jadi pertimbangan yang cukup menarik.

Nah, ketika Anda sudah memutuskan untuk terjun ke investasi komoditi, ada baiknya juga memahami mengenai pasar berjangka komoditi.

Memahami Sejarah Pasar Komoditi Berjangka

jenis-jenis komoditas
©thehindubusinessline

Jika dulu untuk saling melakukan perdagangan komoditi adalah melakukan barter dengan produk serupa, dalam investasi komoditi zaman now, tak harus melakukan transaksi fisik.

Karena saat ini, transaksi komoditi bisa dilakukan dengan kontrak berjangka alias futures dan kontrak derivatif di pasar komoditi berjangka.

Baca juga: Definisi BUMN, Jenis dan Sejarah serta Perkembangannya

Secara mudahnya, pasar komoditi berjangka adalah tempat terjadinya transaksi jual-beli komoditi dengan konsep pesanan dibayar dulu lalu dikirim kemudian.

Praktek perdagangan seperti ini sebetulnya bukanlah hal asing, karena sudah terjadi ribuan tahun lalu oleh bangsa Sumeria kuno.

Peradaban manusia yang semakin maju membuat pasar komoditi pun berubah lebih modern terutama dalam hal metode pembayaran.

Berawal dari mata uang kuno, beralih menjadi uang logam, lalu menjadi pembayaran antar rekening bank, hingga akhirnya berbagai metode payment masa kini dengan uang elektronik dan sistem pembayaran online.

Sejarah mencatat, pasar komoditi modern diawali pada tahun 1530 di Amsterdam Stock Exchange.

Ratusan tahun kemudian yakni pada 1864, pasar komoditi berjangka tertua di dunia yakni CBOT (Chicago Board of Trade) didirikan dan melakukan perdagangan jagung, ternak, serta gandum.

Lantaran peminatnya semakin banyak, komoditi-komoditi lain pun ditambahkan seperti kentang, beras, hingga emas, seperti dilansir Forex Indonesia.

Di CBOT pula, ditetapkan konsensus standar kualitas komoditi yang bisa diperjual-belikan.

Contohnya seperti pada komoditi emas, ditetapkan standar kadar kemurnian alias karat sampai berat per lembar kontrak dan lainnya.

Ketika teknologi makin berkembang, proses investasi komoditi pun dilakukan secara elektronik.

Apalagi ketika NYSE (New York Stock Exchange) menetapkan protokol FIX (Financial Information Exchange) pada tahun 1992, yang lalu disusul CBOT dan CME (Chicago Mercantile Exchange) pada 2001.

Hingga akhirnya mulai tahun 2018, seluruh transaksi dalam pasar komoditi dijalankan melalui platform trading online.

Perkembangan Pasar Komoditi di Indonesia

© elordenmundial

Sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi, menemukan komoditas unggulan di Indonesia jelas bukan hal sulit. Bahkan sejak saman Majapahit atau Sriwijaya, pedagang-pedagang China dan India tiba di Indonesia untuk melakukan perdagangan komoditi, seperti beras, gula dan tentunya rempah-rempah.

Tak heran kalau pada dasarnya, investasi komoditi bukanlah hal asing bagi masyarakat negeri ini.

Hingga akhirnya pada tahun 1991 silam, pasar komoditi modern di Tanah Air baru dibentuk melalui pembentukan BBJ (Bursa Berjangka Jakarta) atau JFX (Jakarta Futures Exchange).

Anda bisa menemukan perdagangan kontrak berjangka beberapa komoditi seperti kopi arabika, kopi robusta, emas (spesifikasi berbeda) sampai kakao di JFX.

Mengikuti perkembangan zaman, JFX juga menyediakan sistem perdagangan elektronik yakni JAFeTS.

Jenis-Jenis Investasi Komoditi yang Bisa Dipilih

kegiatan pertanian komoditas
© supplychainbrain

Tak hanya JFX, investor Indonesia juga memiliki bursa komoditi berjangka lainnya yakni ICDX (Indonesia Commodity and Derivatives Exchange) pada tahun 2019 kemarin.

Munculnya JFX dan ICDX sendiri memang menjadi jawaban atas kebutuhan riil kelompok tani, para penambang, pedagang hingga pabrik-pabrik raksasa.

Contohnya Anda adalah produsen perhiasan emas, tentu lebih mudah memesan emas di pasar komoditi berjangka daripada harus meminta kiriman penambang emas.

Namun dalam perkembangannya, perusahaan-perusahaan dengan kebutuhan hedging (lindung nilai), juga menjadi pelaku pasar komoditi berjangka.

Contohnya adalah petani-petani kakao yang tak mau harga biji kakao anjlok saat panen raya, sehingga melakukan transaksi lewat kontrak berjangka beberapa bulan sebelumnya.

Tetapi ada juga para spekulan yang cuma mencari untung saja. Dimana mereka membeli kontrak berjangka komoditi, saat ada peluang harganya bakal melonjak lalu menjualnya sebelum jatuh tempo supaya tak harus membeli komoditi tersebut.

Baca juga: 100+ Kode Saham Perusahaan Manufaktur Indonesia Terdaftar di BEI

Tertarik dengan investasi komoditi? Tentu saja sangat menjanjikan. Sekadar informasi, saat ini ada tiga kategori investasi komoditi yang bisa dipilih yakni:

  1. Komoditas lunak: Berupa hasil-hasil pertanian dan peternakan seperti biji kopi, biji cokelat atau kakao, daging hewan ternak, beras, kentang dan gula
  2. Komoditas keras: Merupakan bahan baku yang diperoleh melalui kegiatan pertambahan seperti emas, perak, palladium dan lain-lain
  3. Komoditas energi: Bahan yang digunakan manusia dalam usahanya memperoleh energi. Contohnya seperti minyak mentah, gas alam, batu bara, hingga etanol

Manfaat dan Risiko Investasi Komoditi

kegiatan penambangan komoditas
© livemint

Pergolakan dalam pasar komoditi berjangka pada dasarnya dipengaruhi betul oleh prinsip ekonomi.

Sehingga dengan begitu, tingkat penawaran dan permintaan akan mempengaruhi pergerakan harga komoditi.

Namun Anda tak perlu cemas sebagai investor, karena salah satu manfaat utama dalam investasi komoditi adalah memberikan perlindungan terhadap kemungkinan inflasi.

Seperti yang diketahui, ketika inflasi terjadi, harga-harga komoditas cenderung naik dan permintaannya begitu tinggi.

Bahkan sekalipun harga komoditas begitu dipengaruhi nilai tukar, suku bunga dan perekonomian dunia, permintaannya masih kuat.

Sehingga investasi komoditi menjadi pilihan terbaik untuk melakukan diversifikasi bagi seorang investor.

Namun kendati memiliki manfaat yang cukup besar, investasi komoditi juga tak luput dari yang namanya risiko.

Lantaran investasi komoditi cenderung lebih naik-turun dan melibatkan spekulasi, investor tentu harus bijaksana dalam melakukan pembelian kontrak berjangka.

Bagaimana Cara Melakukan Investasi Komoditi?

cara investasi komoditi
© etftrends

Sebagai pihak yang menyediakan perdagangan multilateral untuk produk-produk komoditas primer, transaksi yang tercatat di BBJ sangat besar.

Pada tahun 2011 saja, ada lebih dari 78 ribu transaksi yang meningkat 392% dari 2010! Bahkan jumlah ini lebih besar daripada transaksi OTC (Over-the-Counter) yang dicatat BBJ sebesar 7,5 juta lot.

Fakta ini jelas membuktikan kalau peminat investasi komoditi sangat tinggi.

Supaya lebih mengerti, berikut langkah-langkah yang bisa diterapkan jika ingin melakukan investasi komoditi:

  1. Pastikan Anda mengecek terlebih dulu legalitas broker yang dipilih. Karena broker alias pialang mempunyai peran vital yakni sebagai perantara investor dengan pasar komoditi berjangka. Agar tidak mudah tertipu, Anda jangan mudah tergiur dengan broker yang menjanjikan profit tinggi
  2. Pelajari betul besaran profit yang ditawarkan apakah perhitungannya harian atau perbulan
  3. Siapkan modal cukup besar karena setoran dalam investasi komoditi cukup tinggi yakni sekitar US$1.000 atau minimal Rp14,5 jutaan. Pastikan modal investasi ini tidak berpengaruh pada kehidupan finansial anda, apalagi jika pasar dalam kondisi tak stabil
  4. Lakukan pembelian dalam bentuk kontrak berjangka di pasar komoditi

Bagaimana? Tidak sulit, bukan? Karena itulah bagi Anda yang sudah terbiasa ‘bermain’ di pasar modal atau pasar uang, tentu berinvestasi di pasar komoditi berjangka bukanlah hal rumit.

Hanya saja jika dipertimbangkan secara seksama, banyak orang yang lebih memilih melakukan investasi saham untuk perusahaan-perusahaan komoditas,supaya untung yang diraih lebih stabil. Namun apapun itu untung-ruginya, investasi komoditi jelas layak menjadi pilihan diversifikasi investasi terbaik.

Bagikan ;