Saham

Inilah 5 Daftar Saham yang Mendekati Harga Terendah

Salah satu strategi dalam investasi saham adalah membeli saham di harga yang murah dan menjualnya saat harga saham sedang mahal. Namun ketika kita membeli saham di harga terendah, lalu bagaimana dengan resiko dan peluangnya dimasa depan?

Mungkin kita memutuskan membeli saham di harga terendahnya dengan harapan saham tersebut akan memantul naik. Tapi kenyataan yang terjadi tidak selalu demikian. Ada pula saham-saham yang turun malah justru bertambah merosot.

Nah kali ini kita akan melihat beberapa saham yang kita bahas dengan mempertibangkan data harga saham tertinggi dan terendahnya di 3 tahun 2017 hingga 2021. Apakah saham-saham ini menarik untuk kita analisis lebih lanjut?

Sebelum membahasnya, perlu di ingat bahwa saham-saham di bawah ini bukanlah saham rekomendasi. Anda bisa saja rugi atau untung saat membelinya.

Oleh karena itu penting untuk meneliti kembali saham-saham yang sekiranya menarik bagi Anda jika Anda menemukannya pada daftar di bawah ini. Baiklah langsung saja kita bahas satu per-satu saham-saham yang mendekati harga terendah!

1. SSMS (PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk)

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan minyak kelapa sawit dan di dirikan sejak tahun 1995.

Hingga saat ini SSMS sudah memiliki beberapa anak perusahaan seperti PT Kalimantan Sawit Abadi, PT Mitra Mendawai Sejati, dan SSMS Plantation Holdings Pte. Ltd.

Ketika di cek terakhir pada 7 Juli 2021 ini, SSMS berada pada harga Rp 825/ lembar saham dengan market cap sebesar Rp 7,86 Triliun. Nah, dalam beberapa tahun terakhir (2017-2021) SSMS pernah menyentuh harga terendah yakni berada di harga Rp 700 dan harga tertingginya di angka Rp 1750.

Jika kita melihat harga saat ini dan harga terendah nya, ternyata hanya selisih sekitar 15,15% saja. Sementara itu untuk jarak harga saat dengan harga tertingginya masih berjarak 112,1%. Lalu bagaimana dengan fundamentalnya?

Pendapatan dan Net Income

Untuk pemeriksaan awal, mari kita lihat dari segi pendapatan dan juga net incomenya. Pada tahun 2017 perusahaan ini mampu mencetak pendapatan sebesar Rp 3,24 Triliun.

Lalu pada tahun 2020, meskipun sedang pandemik pendapatan SSMS tetap meningkat menjadi Rp 4,01 Triliun. Sehingga bisa di katakan bahwa pendapatan SSMS naik sekitar 23,8%.

Kemudian dari segi net incomenya, di tahun 2017 SSMS bisa mendapatkan net income sebesar Rp 790 Miliar. Sedangkan di tahun 2020 net incomenya menjadi Rp 580 Miliar. Ini berarti ada penurunan net income sekitar Rp 26,6%.

Anda bisa melihat data pendapatan dan net income PNLF melalui data di bawah ini!

TahunPendapatan (Rp)Net Income (Rp)
20204,01 T580 M
20193,28 T10 M
20183,71 T90 M
2017 3,24 T790 M

Aset, Hutang dan Modal

Selain pendapatan dan net incomenya, Anda juga bisa memeriksa aset, hutang dan modal SSMS pada tahun 2017 hingga 2020 yang lalu. Berikut adalah datanya!

TahunAset (Rp)Hutang (Rp)Modal (Rp)
202012,78 T
(+ 7,9%)
7,91 T
(+ 1,7%)
4,87 T
(+ 19,7%)
201911,85 T
(+  4,86%)
7,78 T
(+  7,61%)
4,07 T
(-  0,02%)
201811,30 T
(+ 17,38%)
7,23 T
(+  29,73%)
4,07 T
(+  0,40%)
20179,62 T
(+ 34,35%)
5,57 T
(+  50,19%)
4,05 T
(+ 17,35%)

2. PSAB (PT J Resources Asia Pasifik Tbk)

Saham selanjutnya adalah saham dari PT J Resources Asia Pasifik Tbk yakni PSAB. Perusahaan ini fokus di bidang investasi dan mengelola  bisnis pertambangan emas dan logam mulia lainnya di wilayah Australia dan Asia.

Per tanggal 7 Juli 2021, harga saham PSAB berada pada Rp 182 per lembar sahamnya. PSAB sendiri memiliki market cap sebesar Rp 4,82 Triliun.

Ketika rentang tahun 2017 hingga 2021, PSAB pernah mengalami harga terendahnya yakni Rp 165 dan harga tertingginya berada di Rp 350.

Baca yuk, Right Issue BBRI, Prospek dan strategi tetap cuan

Jadi jika membandingkan harga saham PSAB saat ini dengan harga terendah nya maka tinggal selisih 11% saja. Sementara jarak harga saatini ke harga tertingginya masih 92% lagi. Bagaimana dengan laporan keuangannya?

Pendapatan dan Net Income

Pada tahun 2017 yang lalu perusahaan mencatat pendapatan sebesar Rp 2,97 Triliun. Kemudian pada tahun 2020naik menjadi Rp 3,44 Triliun. Sehingga bisa di simpulkan bahwa pendapatan PSAB naik sekitar 15,9%.

Kemudian dari sisi labanya tercatat bahwa pada tahun 2017 emiten PSAB telah mendapat net income sebesar Rp 195,79 Miliar. Lalu di tahun 2020nya net income menjadi -86 miliar. Artinya ada penurunan net income sekitar 144,1%.

Lebih jelasnya, Anda bisa melihat kronologis pendapatan dan net income PSAB dari tahun 2017-2020 lewat data di bawah!

TahunPendapatan (Rp)Net Income (Rp)
20203,44 T-86,46 M
20193,4 T4,53 M
20183,22 T221,46 M
20172,97 T195,79 M

Aset, Hutang dan Modal

Untuk mencermati kinerja saham Anda juga bisa melihat data jumlah aset, hutang dan modal PSAB dari tahun 2017 hingga 2019 berikut ini!

TahunAset (Rp)Hutang (Rp)Modal (Rp)
201913,82 T
(+ 3,72%)
8,89 T
(+ 11,84%)
4,93 T
(- 8,28%)
201813,33 T
(+ 7,48%)
7,95 T
(+ 3,38%)
5,38 T
(+ 14,18%)
201712,40 T
(+ 8,19%)
7,69 T
(+ 12,00%)
4,71 T
(+ 2,49%)

3. POWR (PT Cikarang Listrindo Tbk)

Saham lainnya yang saat ini hampir mencapai harga terendahnya di rentang tahun 2017 hingga 2021 adalah POWR.

POWR merupakan kode saham milik PT Cikarang Listrindo Tbk yang bergerak di bidang energi listrik. Cakupan usahanya meliputi pengelolaan pembangkit tenaga listrik itu sendiri, pemasaran, distribusi dan agen tenaga listrik di Indonesia.

Saat ini harga saham POWR di BEI adalah Rp 630 per lembar saham dengan market cap Rp 10,13 Triliun (per 7 Juli 2021). Harga terendahnya para rentang tahun 2017-2021 adalah Rp 575 sedangkan harga tertingginya adalah Rp 1350.

Jika kita bandingkan harga saat ini dengan harga terendahnya memiliki selisih sekitar 8,73% dan selisih ke harga tertingginya masih 114,2%. Bagaimana dengan sisi laporan keuangan POWR?

Pendapatan dan Net Income

Pada tahun 2017, POWR tercatat mampu memiliki pendapatan sebesar Rp 7,67 Triliun. Namun pada tahun 2020 pendapatan perusahaan menurun menjadi Rp 6,48 Triliun.

Ini berarti pendapatan POWR menurun sebesar 15,5%. Lalu jika di tinjau dari segi laba, pada tahun 2017 POWR mendapatkan net income sebanyak Rp 1,45 Triliun dan tahun 2020 nya menurun menjadi Rp 1,04 Triliun. Dengan kata lain net incomenya pun menurun sebanyak 28,3%.

TahunPendapatan (Rp)Net Income (Rp)
20206,481,04 T
20198,18 T1,58 T
20188,31 T1,14 T
20177,67 T1,45 T

Aset, Hutang dan Modal

Jika Anda ingin lebih tahu lebih dalam, coba amati juga data aset, hutang dan modal dari POWR di tahun 2017 hingga 2019 berikut ini.

TahunAset (Rp)Hutang (Rp)Modal (Rp)
201918,47 T
(- 2,95%)
9,28 T
(- 4,59%)
9,20 T
(- 1,23%)
201819,04 T
(+ 6,88%)
9,72 T
(+ 5,73%)
9,31 T
(+ 8,10%)
201717,81 T
(+ 4,31%)
9,20 T
(+ 2,65%)
8,62 T
(+ 6,14%)

4. PNLF (PT Panin Financial Tbk)

Emiten selanjutnya adalah PNLF atau PT Panin Financial Tbk. Perusahaan perbankan ini sudah cukup lama berdiri yakni sejak tahun 1974. Panin Finansial tergabung dalam Panin Group.

Pada saat artikel ini di buat, harga saham PNLF menyentuh harga Rp 190/ lembar saham dan memiliki kapitalisasi pasar senilai Rp 6,08 Triliun.

Dalam rentang tahun 2017-2020 kemarin harga saham PNLF sempat berada di titik harga terendahnya yakni Rp 162 dan harga tertingginya yaitu Rp 432.

Hal ini berarti jarak antara harga terkini PNLF dengan harga terendahnya tersebut hanya sekitar 14,73%. Sedangkan untuk menuju ke harga tertinggi dibutuhkan kenaikan sebesar 127,4%.

Pendapatan dan Net Income

Sekarang, kita lihat bagaimana aspek keuangannya. Nah, di tahun 2017 lalu PNLF tercatat mendapatkan pendapatan sebesar Rp 4,11 Triliun. Kemudian pada saat tahun 2020 pendapatan PNLF menurun dan hanya berhasil mencatat Rp 2,36 Triliun saja. Ini berarti pendapatan PNLF menurun hingga 42,6%.

Baca juga, Apa itu saham gorengan dan risikonya

Dalam rentang 2017-2020 net incomenya (laba) PNLF sebenarnya cenderung selalu naik kecuali pada tahun 2020nya. Di tahun 2017 PNLF sebanyak Rp 1,46 Triliun. Di tahun 2020 net income PNLF menjadi Rp Rp 1,86 Triliun. Dengan kata lain net income PNLF naik sebanyak 27,4%. Agar lebih jelas, berikut data pendapatan dan net income PNLF lebih detail.

TahunPendapatan (Rp)Net Income (Rp)
20202,36 T1,86 T
20193,78 T1,98 T
20183,81 T1,83 T
20174,11 T1,46 T

Aset, Hutang dan Modal

Bagaimana dengan aset, hutang maupun modalnya? Coba simak data di bawah ini!

TahunAset (Rp)Hutang (Rp)Modal (Rp)
201930,29 T
(+ 7,21%
4,39 T
(+ 1,96%)
25,89 T
(+ 8,94%)
201828,25 T
(+ 6,73%
4,48 T
(+ 0,58%)
23,77 T
(+ 8,23%)
201726,47 T
(+ 6,00%)
4,51 T
(+ 1,90%)
21,96 T
(+ 7,78%)

5. BUMI (PT Bumi Resources Tbk)

Terakhir, ada saham BUMI darp PT Bumi Resources Tbk. Bagi Anda yang tertarik dengan saham-saham pertambangan, apakah saham BUMI ini menarik?

Perusahaan ini merupakan termasuk perusahaan yang sudah lama berdiri yakni sejak tahun 19973. Sekarang PT Bumi Resouces Tbk sudah memiliki berbagai anak perusahaan diantaranya  Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia, dll.

Nah, berdasarkan pergerakan sahamnya, BUMI termasuk saham yang hampir mendekati harga tererendahnya dalam beberapa tahun belakangan ini.

Harga saham BUMI per tanggal 7 Juli 2021 adalah Rp 59 per lembar saham. Dalam rentang tahun 2017-2020 BUMI sempat menyentuh harga terendahnya yakni Rp 50.

Namun demikian juga pernah mencapai harga saham tertingginya yang berada pada harga Rp 505. Dengan demikian, harga saham BUMI saat ini tentu jauh lebih dekat dengan harga terendahnya sekitar 16,6% sedangkan untuk mencapai harga tertingginya masih jauh bisa sampai ratusan persen.

Lalu bagaimana dari segi laporan keuangannya?

Pendapatan dan Net Income

Secara pendapatan di tahun 2017-2020, BUMI memiliki growth yang fantastis sebesar 4479%. Sedangkan pada sisi labanya justru menurun sekitar 192%. Berikut data selengkapnya!

TahunPendapatan (Rp)Net Income (Rp)
202010,99 T-4,7 T
201915,47 T100 M
201816,1 T3,19 T
2017240 M5,06 T

Aset, Hutang dan Modal

TahunAset (Rp)Hutang (Rp)Modal (Rp)
201951,64 T
(- 9,11%)
44,52 T
(- 10,03%)
7,11 T
(- 2,90%)
201856,81 T
(+ 14,20%)
49,49 T
(+ 7,83%)
7,32 T
(+ 90,04%)
201749,75 T
(+ 19,35%)
5,89 T
(+ 41,98%)
3,85 T
(+ 110,30%)

Penutup

Itulah beberapa saham yang mendekati harga terendah. Apakah diantaranya ada yang menarik bagi Anda? Jika iya, sebaiknya jangan terburu-buru untuk membeli. Cari tahu lebih dalam dan pastikan lagi bagaimana kualitas emiten tersebut. Karena semua resiko investasi ada di tangan Anda. Sehingga jangan sampai memilih saham tanpa menganalisis lebih dalam.

Bagikan ;
Share
Published by
Yulinda Nurlisdiana

Recent Posts

Profil 8 Emiten Perusahaan yang Listing IPO Pada Bulan September

Pada awal September 2021, ada 8 emiten perusahaan yang baru listing IPO di Bursa Efek…

5 hari ago

Mengkilapnya 6 Emiten Saham Perusahaan Tambang Nikel

Semakin meningkatny pasar ponsel dan laptop membuat permintaan terhadap nikel semakin tinggi. Karena baterai lithium…

2 minggu ago

7 Keunggulan Superapp Investasi Saham IPOT dari Indo Premier

Apa aplikasi favorit Anda untuk investasi saham? Tahan diri Anda untuk menyebutnya, karena kita sekarang…

2 minggu ago

Hal-Hal yang Wajib Diketahui Investor Soal Tapering Off dari The Fed

Pekan-pekan terakhir bulan Agustus 2021 ini, pelaku ekonomi global tampaknya sedang memusatkan perhatiannya pada Bank…

3 minggu ago

Ustadz Yusuf Mansur Borong 3 Emiten Saham Ini, Simak Profil Perusahannya.

Apakah Anda pernah dengar istilah Mansurmology? Ini adalah ilmu investasi yang sering dibagikan oleh penceramah…

3 minggu ago

10 Pilihan Saham Berpotensi Cuan di Akhir Agustus 2021

Bulan Agustus 2021 tanpa terasa tinggal menyisakan satu hari saja. Tentu berbagai gejolak di pasar…

3 minggu ago