Saham

Benarkah Investasi Saham Blue Chip Pasti Untung, Mitos atau Fakta?

Anda pasti pernah mendengar saran : “Kalau ingin investasi jangka panjang pakai saham bluechip saja”. Penyebutan saham bluechip ini biasanya di tujukan untuk emiten-emiten yang punya ciri-ciri fundamental bagus, tahan krisis, dan suka bagi-bagi dividen. Karena inilah, seakan kita tidak akan pernah salah kalau investasi di saham bluechip atau di sebut juga saham first liner.

Banyak sekali investor pemula yang berfikir kalau kita investasi di saham bluechip lalu kita membiarkannya saja selama 5-10 tahun kedepan maka otomatis akan mendapat return yang bagus.

Alasannya, karena saham first liner adalah saham yang paling sulit di goreng-goreng (manipulasi harga) jika dilihat dari market capnya yang sampai puluhan hingga ratusan triuliun. Belum lagi likuiditasnya yang sangat tinggi sehingga sangat mudah untuk di perjual belikan di bursa efek.

Dengan kualitas-kualitas tersebut biasanya orang rela untuk membeli saham bluechip walaupun harganya realtif mahal. Tapi apakah benar investasi saham bluechip itu sudah pasti untung? Mari kita cek!

Saham Bluechip Low Risk Tapi Belum Tentu Good Value

Anda pasti sudah tahu kalau saham bluechip merupakan saham-saham yang berfundamental bagus. Oleh karena itu investasi pada saham ini tergolong low risk (rendah resiko). Namun low risk tidak sama dengan good value loh!

Low risk artinya, jika kondisi market sedang turun drastis maka perusahaan tersebut penurunannya akan lebih sedikit di bandingkan saham-saham small atau middle cap.

Misalnya saja pada saat pandemik covid 19, banyak sekali perusahaan-perusahaan yang sahamnya terjun payung dan bahkan sempat di hentikan sementara oleh BEI.

Tapi tidak demikian dengan saham-saham dari first liner, harga sahamnya mungkin ikut turun tapi tidak terlalu jatuh. Disisi lain justru masih banyak juga yang tetap bisa membagikan dividen kepada para investornya.

Sementara good value itu berbicara profit atau keuntungan yang kita dapatkan. Jadi kedua hal ini berbeda ya karena faktor-faktor untuk bisa mendapatkan keuntungan bisa di sebabkan oleh banyak hal. Misalnya saja harga saham saat kita membeli, persaingan sektor usaha, kondisi ekonomi masyarakat dll.

Tidak Semua Bluechip Mendatangkan Untung

Sumber gambar : unsplash.com/ Markus Spiske

Anda pasti tahu kalau BBCA adalah salah satu saham bluechip yang punya marketplace sangat besar di Indonesia. Mungkin jika kita investasi di saham BBCA 5 tahun yang lalu dan mengambilnya di tahun 2021 ini memang untung. Karena nilainya terus bertumbuh dari tahun ke tahun.

Misalnya Anda membeli saham BBCA di tahun 2016 sebesar Rp 100 juta. Tahun ini (2021) uang Anda sudah bertumbuh menjadi sekitar Rp 209 juta-an. Karena dari tahun 2016 sampai 2021, saham BBCA sudah tumbuh sebanayk 109,23% (atau sekitar Rp 109 juta). Cuan bukan?

Tapi faktanya ada juga saham bluechip yang harganya susah naik atau malah turun dari nilai 5 tahun yang lalu. Contoh saja UNVR (Unilever). Kalau kita investasikan uang kita di saham UNVR pada tahun 2016 yang lalu, saat ini di tahun 2021 uang kita malah tinggal sisa Rp 50 jutaan. Karena saham UNVR sudah turun sebanyak 49,94% hingga hari ini, sedih ya?

Selanjutnya, coba kita cek ASII (Astra International Tbk). Jika pada tahun 2016 kita investasi sebesar Rp 100 juta di saham ASII , hari ini uang kita tinggal Rp 63 juta karena ASII turun sebanyak 36,11% (selama 5 tahun terakhir). Rugi Rp 37 juta!

Itu adalah accounting lossnya, tapi kalau kita hitung economic lossnya (dibandingkan jika kita investasi di BBCA) maka Rp 37 juta + Rp 109 juta = Rp 146 juta. Kita rugi Rp 146 juta!

Tadi katanya investasi saham bluechip itu low risk, tapi kok malah rugi? Apakah itu artinya saham bluechip itu jelek? Apakah investasi di saham bluechip itu berbahaya? Jawabannya, tidak semuanya!

Ada Alasan Kuat Mengapa Sebuah Saham Disebut Bluechip

Tidak sembarangan saham bisa kita golongkan sebagai bluechip. Karena ketika harga sahamnya turun bukan berarti perusahaan tersebut menjadi jelek.

Karena bisa juga karena harganya sudah terlalu mahal dan sedang menuju harga sebenarnya atau sedang terkena dampak dari lesunya perekonomian seperti saat ini. But, bluechip become a bluechip for a reason.

Saham-saham ini memang memiliki fundamental perusahaan yang kuat dan sering menjadi penggerak IHSG. Lihat saja ASII, return on equitynya (RoE) bisa sampai 9,28%. Apalagi UNVR, RoE nya 103,53%. Wow besar sekalinya!

Lalu apa yang salah? Bagaimana caranya supaya investasi di saham bluechip dan bisa tetap untung? Nah, coba pertimbangkan beberapa tips di bawah ini!

Tips Investasi Saham Bluechip

Sumber gambar : unplash.com/ Natasha Hall

Supaya bisa tetap cuan berinvestasi secara jangka panjang di saham bluechip, Anda wajib mempertimbangkan :

1. Kenali Future Prospect Pada Bidang Usaha Emiten

Pertama, Anda wajib memahami bagaimana prospeknya kedepan. Contohnya saham di bidang otomotif seperti ASII (Astra). Apa saja yang kira-kira mempengaruhi prospek saham ini?

Anda bisa memperhatikan apakah kondisi ekonomi akan membaik kedepannya dan orang-orang akan mampu mengupgrade motor ke mobil atau menambah koleksi mobilnya?

Contoh lainnya saham di bidang properti. Ada hal-hal yang bisa kita teliti lebih dalam untuk mengetahui prospek saham properti kedepannya, seperti : Apakah ada proyek-proyek yang kemungkinan akan mempercepat pertumbuhan emoten properti? Bagaimana dengan insentif dari pemerintah?

Biasanya, saham-saham yang sifatnya cyclical kurang cocok di jadikan investasi jangka panjang meskipun itu saham bluechip.

Jika ingin berinvestasi untuk jangka panjang, saham-saham yang defensive seperti di sektor perbankan dan consumer goods kemungkinan akan lebih cocok. Tapi tetap saja, kita harus melihat apakah persaingan di sektor tersebut sedang ketat-ketatnya atau tidak, karena jika iya maka harga saham juga akan sulit naik.

2. Memfilter Saham Dari Sektor Banking atau Consumer

Nah sebelumnya kita membahas kalau sebaiknya kita membeli saham di sektor perbankan atau consumer goods jika ingin inversasi di bluechip secara jangka panjang. Tapi perlu di ingat, pemilihan sahamnya pun jangan sembarangan!

Ada banyak saham first line dari sektor perbankan dan juga consumber goods. Yang perlu Anda pastikan adalah :

  • Saham yang kita pilih punya track record growth yang baik
  • Pergerakan harga sahamnya up trend
  • Punya trcak record capital gain return yang bagus (setidaknya lebih dari 15% per tahun)

Untuk menemukan saham-saham bluechip, Anda bisa menggunakan indeks saham LQ45 dari BEI. Indeks saham LQ45 ini adalah kumpulan 45 saham yang minimal sudah listing di BEI selama 3 bulan, memiliki kapitalisasi besar dan berfundamental bagus. Walaupun tidak semuanya bluechip tapi sebagian besar saham LQ45 adalah saham-saham first liner.

Anda bisa mengunjungi situs resmi BEI dan masuk ke menu indeks saham. Disana Anda bisa memilih indeks saham LQ45 dan melihat daftarnya. Indeks ini akan selalu di update secara berkala dan bisa berubah sesuai dengan kinerja perusahaan. Jadi jangan lupa untuk tetap mengeceknya.

3. Periksa Laporan Keuangannya

Lewat indeks LQ45, Anda sudah tmulai menemukan saham-saham bluechip incaran. Langkah selanjutnya yang tidak boleh terlewat adalah menganalisa laporan keuangannya. Anda bisa mendownload laporan keuangan emiten saham melaui situs BEI maupun situs resmi perusahaannya.

Coba lihat track record keuangannya 5 sampai 10 tahun terakhir terutama soal penjualannya, labanya, hutang, arus kasnya dll. Apakah tergolong masih sehat atau tidak? Jika terjadi penurunan kinerja, kira-kira apa penyebabnya?

Jadi ternyata, investasi di saham bluechip juga perlu belajar membaca laporan keuangan perusahaan? Tentu saja! Ibaratnya kita adalah pemilik perusahaan, jika sewaktu-waktu usaha kita menuju kebangkrutan, apakah kita akan diam saja?

Oleh karena itu, jika ingin investasi saham jangka panjang cobalah sedikit demi sedikit belajar memahami laporan keuangan perusahaan meskipun Anda tidak punya basic pendidikan tentang keuangan. Karena ini adalah cara agar kita bisa memfilter saham-saham bluechip khususnya yang cocok untuk dijadikan investasi jangka panjang.

4. Pastikan Kita Membeli Saham Di Waktu yang Tepat

Boleh saja kita membeli saham bluechip cyclical di saat ekonomi sedang menuju recover, tapi hindari membeli saham ketika harga saham sedang tinggi-tingginya.

Lalu misalnya jika kita menemukan saham dari first liner yang bagus secara fundamental dan market capnya tapi ternyata harganya mahal sekali. Kira-kira apa yang bisa kita lakukan?

Jawabannya adalah menunggu. Loh kok di tunggu?

Yep betul, menunggu sampai harga sahamnya terkoreksi hingga di harga normalnya atau undervalue. Tapi apakah mungkin saham bluechip di hargai murah, bukannya harga saham-saham bluechip selalu mahal?

Ternyata belum tentu. Contohnya saja saham AALI (Astra Agro Lestari Tbk) yakni salah satu perusahaan terbesar di bidang agroteknologi.

Dulu saham ini harganya sekitar Rp 25.000, orang-orang tidak percaya bahwa saham ini akan dihargai murah suatu hari nanti. Nah sekarang, harganya berada di Rp 4 000-an bahkan pada bulan April-Mei 2021 yang lalu harga bisa sampai Rp 3000-an.

Atau misalnya kita ambil contoh lain dari saham BBNI (Bank Negara Indonesia Tbk) yang harganya

Rp 9000-an, pada tahun 2020 kemarin sempat turun ke harga Rp 3600-an dan saat ini berada di harga 5.000 -an. Jadi tidak ada yang tidak mungkin dalam hal stock market, hanya saja sebagai investor apakah kita bersedia untuk menunggu?

Menunggu membeli saham di harga yang sedang murah, dan menunggu untuk menjual saham saat harga saham sedang tinggi-tingginya.

Kesimpulan

Berinvestasi di saham bluechip memang tidak selamanya menguntungkan. Jika kita salah timing atau tidak memperhatikan beberapa faktor penting di atas bisa-bisa uang kita tertahan karena sahamnya tidak naik-naik atau malah jutru turun. Oleh karena itu, sekalipun berinvestasi di saham bluechip kita harus tetap berhati-hati dan cerdas dalam berinvestasi.

Semoga dari pembahasan kali ini kita tidak lagi menganggap semua investasi saham bluechip itu pasti untung untuk investasi jangka panjang. Jangan sampai kita sudah capek berinvestasi di saham first liner dan menunggu selama bertahun-tahun tapi ternyata zonk. Sehingga tetap pertimbangkan data-data lainnya secara rasional supaya Anda bisa tetap memaksimalkan cuan dari investasi bluechip secara jangka panjang.

Bagikan ;
Share
Published by
Yulinda Nurlisdiana

Recent Posts

Profil 8 Emiten Perusahaan yang Listing IPO Pada Bulan September

Pada awal September 2021, ada 8 emiten perusahaan yang baru listing IPO di Bursa Efek…

5 hari ago

Mengkilapnya 6 Emiten Saham Perusahaan Tambang Nikel

Semakin meningkatny pasar ponsel dan laptop membuat permintaan terhadap nikel semakin tinggi. Karena baterai lithium…

2 minggu ago

7 Keunggulan Superapp Investasi Saham IPOT dari Indo Premier

Apa aplikasi favorit Anda untuk investasi saham? Tahan diri Anda untuk menyebutnya, karena kita sekarang…

2 minggu ago

Hal-Hal yang Wajib Diketahui Investor Soal Tapering Off dari The Fed

Pekan-pekan terakhir bulan Agustus 2021 ini, pelaku ekonomi global tampaknya sedang memusatkan perhatiannya pada Bank…

3 minggu ago

Ustadz Yusuf Mansur Borong 3 Emiten Saham Ini, Simak Profil Perusahannya.

Apakah Anda pernah dengar istilah Mansurmology? Ini adalah ilmu investasi yang sering dibagikan oleh penceramah…

3 minggu ago

10 Pilihan Saham Berpotensi Cuan di Akhir Agustus 2021

Bulan Agustus 2021 tanpa terasa tinggal menyisakan satu hari saja. Tentu berbagai gejolak di pasar…

3 minggu ago