Belajar Investasi Dari Fakta Unik dan Kesalahan Warren Buffett

Dalam dunia investasi saham, siapa yang tidak tahu Warren Buffett? Orang yang namanya pernah tercatat sebagai orang terkaya ke tiga di dunia ini, sukses memiliki kekayaan bersih kurang lebih sebesar USD 81 miliar atau setara dengan Rp 1.200 triliun (di tahun 2019). Sekarang pada tahun 2021, kekayaannya sudah mencapai USD 101,6 miliar.

Sangat manusiawi jika kita kagum dengan pencapaian seorang Warren Buffet. Tapi itu adalah hasil, sebab yang justru lebih penting kita sorot adalah, bagaimana caranya Buffett bisa sampai di tiitik tersebut?

Menurut CNBC, salah satu kunci utama dari kesuksesan Warren Buffett adalah karena ia menjadi investor fenomenal selama tiga perempat abad. Fakta ini tidak banyak orang tahu dan menarik untuk di pelajari. Tapi untuk lebih detailnya kita akan bahas nanti.

Selain itu, kita mungkin sudah sering menyimak strategi investasi ala Warren Buffett. Namun tahukah Anda kalau dalam prosesnya menjadi investor besar, Buffett juga pasti pernah melakukan kesalahan?

Kesalahan-kesalahannya bahkan juga sudah di akui oleh Buffet melalui suratnya di “Special Letter from Warren & Charlie”. File aslinya Anda bisa unduh di website resmi Berkshire Hathaway (BKR).

Ada pepatah yang mengatakan kita bisa menjadi orang paling beruntung jika bisa belajar investasi dari kesalahan dari orang-orang besar. Oleh karena itu kali ini kita juga akan membahas beberapa kesalahan Warren Buffett agar bisa menjadi poin pembelajaran dalam berinvestasi. Yuk langsung saja kita bahas satu persatu!

1. Kekayaan Buffet di Dapatkan dari Akumulasi Waktu dalam Berinvestasi

Akumulasi Waktu Warren Buffett dalam Berinvestasi
Sumber gambar : unsplash.com/ Jon Tyson

Sebagai pembuka, kita awali dengan mencoba untuk sedikit menelisik anggapan bahwa ketika kita melihat orang berprestasi, maka biasanya kita akan menganggap orang tersebut adalah orang terbaik di bidangnya. Ternyata tidak juga!

Percaya tidak, jika kekayaan yang Warren Buffett yang fantastis ini salah satunya di karenakan akumulasi dari basic finansial ia bangun saat masa pubernya dan juga hasil dari umur panjang yang ia pertahankan?

Warrent Buffett mulai berinvestasi dan membeli saham pertamanya sejak usia 10 atau 11 tahun-an dan kini berusia 90-an. Artinya Buffet sudah membangun kekayaannya selama 80 tahun. Saat usianya 30-an, Buffett telah berhasil mengumpulkan kekayaan bersih sebesar USD 1 juta, atau USD 9,3 juta (jika di sesuaikan dengna inflasi).

Sekarang bayangkan jika seandainya ia mulai berinvestasi di usia yang lebih “normal”, misalnya masa-masa remajanya di habiskan dengan remaja pada umumnya. Lalu di usia 30-an ia mulai berinvestasi dan pensiun di usia 60-an. Pada usia 30 tahun katakanlah kekayaan bersih yang bisa dia dapatkan sebesar USD 25.000 dan masih mendapatkan return sebesar 22% setiap tahunnya.

Kemudian dia berhenti berinvestasi di usianya yang ke 60 tahun dan memutuskan menghabiskan waktu menikmati masa tua bersama cucu dan keluarga. Jika begitu skenarionya, kekayaan Warren Buffett yang terkumpul saat ini pastinya bukan USD 81 miliar tapi hanya USD 11,9 juta dimana ini 99,9% kurang dari kekayaan bersih secara aktual.

Jim Simons

Lalu coba kita lirik Jim Simons yakni seorang matematikawan sekaligus pendiri hedge fund Renaissance Technologies. Sejak 1988 Jim Simons elah mengumpulkan uang sebesar 66% setiap tahun.

Ini tentu saja jumlah yang 3 kali lipat lebih besar di bandingkan Warren Buffett. Namun, kekayaan bersih Jim Simons yang berhasil di dapatkan kurang lebih USD 23 miliar. Dimana tentunya 72 % kurang kaya dari Buffett, mengapa?

Karena Simons memutuskan pensiun di dunia investasi pada usia 50-an. Tapi jika seandainya Simons mendapatkan return tahunan sebesar 66% selama rentang 70 tahun, misalnya ia memulai di usia 20-an atau berhenti di usia 80an (lebih tua dari saat Buffet memulai atau lebih muda di usia Buffet saat ini) kira-kira berapa kekayaan Simons saat ini?

Jawabannya adalah, lebih dari USD 63.900.781 Triliun!

Belajar dari sini, kita bisa tahu bahwa Warren Buffet adalah investor terkaya sepanjang masa, walaupun bukanlah investor terbaik. Jadi sekarang kita bisa lebih menghargai waktu yang ada untuk berusaha dan berinvestasi sekecil apapun.

2. Pembelian Saham BKR Karena Emosi

Pembelian Saham BKR Karena Emosi
Sumber gambar : unsplash.com/ felipepelaquim

Buffet mengatakan bahwa ia pernah melakukan kesalahan terburuk sepanjang karirnya dalam berinvestasi dengan membeli saham BKR (Kode Saham Berkshire Hathaway di bursa Newyork) secara emosional.

Sebelum memiliki BKR, sebelumnya Buffettt sudah memiliki perusahaan investasi saham patungan bernama Buffett Partnership. Jadi dia membeli saham-saham untuk berinvestasi melalui perusahaan ini.

Dulu, BKR ini adalah salah satu raksasa tekstil terbesar di New England. BKR memiliki 14 pabrik tekstil dan lebih dari 10.000 karyawan. Hanya saja kondisi fundamental BKR pada waktu itu sedang buruk.

Bahkan dalam rentang waktu 7 tahun saja (1955-1962), BKR sudah menjual 7 pabriknya. Dimana hasil penjualan pabriK tersebut digunakan manajemennya untuk buyback saham BKR dengan harga yang lebih tinggi setiap tahunnya.

Dari sini, Buffett melihat sebuah peluang walaupun bukan investasi jangka panjang. Buffet menilai, jika dia membeli saham BKR saat itu, maka nantinya manajemen akan melakukan buyback saham dengan harga yang lebih tinggi.

Sehingga Buffet akhirnya benar-benar memutuskan untuk membeli saham BKR di harga USD 7,5 per lembar (harga ini termasuk sangat murah sekali karena perusahaan selalu merugi).

Buffet memang berencana untuk menjadikan investasi ini sebagai investasi jangka pendek, dengan harapan manajemen akan membelinya kembali dengan harga yang lebih tinggi, dan ternyata hal ini benar terjadi.

Pada tahun 1964 (2,5 tahun kemudian), CEO dari BKR menghubungi Warren Buffett untuk buyback saham BKR. CEO tersebut rencananya akan membeli saham BKR yang Buffett miliki di harga USD 11,5 per lembar.

Dengan begitu, Buffett sudah bisa mendapatkan capital gain sebesar 50% dari harga saham BKR yang dulu di belinya di harga USD 7,5 per lembar, lalu keduanya sepakat.

Ingin Memecat CEO BKR

Tapi beberapa lama kemudian, CEO BKR ini menghubungi kembali Buffett untuk tidak jadi membeli saham di harga USD 11,5 melainkan di harga USD 11,4 per lembar.

Artinya ini sudah tidak sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Karena merasa di tipu, akhirnya Warren Buffett merasa emosi. Buffet bahkan bilang dalam suratnya, pada saat itu dia sudah tidak menggunakan akal sehatnya.

Alih-alih menjual saham BKR miliknya, Baffett justru membeli saham BKR secara masive dengan tujuan menjadi pemegang saham pengendali dan mengeluarkan sang CEO.

Melalui Buffett Partnership, ia menjadi pemilik 32% saham BKR. Tidak sampai disitu saja, sebab pembelian saham BKR terus di lakukan hingga secara tanpa sadar Buffett sudah menjadi pemilik saham pengendali dengan 61% porsi kepemilikan lalu memecat CEO BKR.

Dalam “Special Letter from Warren & Charlie”, Buffet menyebutkan bahwa ia seperti anjing yang mengejar mobil, dimana mobil tersebut sebenarnya tidak akan bisa terkejar. Selain itu, tanpa sadar dia juga sudah menempatkan 25% portofolio investasinya pada saham BKR ini.

Masih ingat bahwa fundamental BKR pada saat itu sedang hancur-hancurnya? Namun Warren Buffett tetap keras kepala dan akhirnya pada tahun 1985 (20 tahun kemudian) dia harus menutup bisnis tekstil BKR. Dalam suratnya Buffett mengatakan bahwa pembelian saham BKR ini merupakan kesalahan terburuk sepanjang karirnya dalam berinvestasi.

Dari sini bisa di simpulkan bahwa, investor sekelas Warren Buffett pun pernah melakukan kesalahan fatal yakni berinvestasi karena sisi emosional. Oleh karea itu sebagai investor, sangat penting untuk mengetahui dasar keputusan yang di ambil, apakah keputusan investasi di ambil berdasarkan data ataukah justru hanya emosi semata.

3. Kesalahan Dalam Pembelian Saham NICO

Kesalahan Warren Buffett dalam Pembelian Saham NICO
Sumber gambar : unsplash.com/ Agefis

Pada tahun 1967, Warren Buffett membeli saham NICO. NICO ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang asuransi dan memiliki fundamental yang sangat bagus. Kebetulan Buffett juga memang suka dengan bisnis asuransi.

Sebenarnya, pemilik NICO ingin menjual perusahaannya langsung kepada Warren Buffett (jadi tidak lewat BKR). Tapi Buffet menolaknya dan tetap membeli saham NICO melalui perusahaan Berkshire Hathaway (BKR). Dalam suratnya tersebut, lagi-lagi Buffett menyatakan bahwa ia menyesal telah membeli saham NICO melalui Berkshire Hathaway.

Sebab saat NICO di akuisisi oleh Berkshire Hathaway (BKR) maka secara otomatis NICO telah menjadi anak perusahaan BKR.

Padahal saat itu Buffett sendiri tidak memiliki 100% saham BKR dimana ia hanya memiliki 61% sahamnya sementara sisasnya 39% adalah milik publik. Artinya kepemilikian NICO yang merupakan perusahaan berfundamental sangat bagus ini tidak bisa ia miliki sepenuhnya, oleh karena itu ia juga kehilangan potensi investasi yang sangat besar.

Nah, dalam suratnya Buffett juga menyebutkan bahwa keputusan pembelian saham NICO ini juga merupakan salah satu kesalahan terbesarnya. Hal ini menunjukan bahwa aspek fundamental juga merupakan hal yang utama dalam value investing.

Dari 2 transaksi yang sudah di sebutkan diatas (saham BKR dan NIKO), Buffett menyebutkan bahwa ia telah kehilangan peluang investasi sebesar USD 100 miliar.

Dia mengakui bahwa keduanya merupakan kesalahan terbesar sepanjang karirnya dalam berinvestasi. Karena jika Buffett tidak melakukan kedua transaksi tersebut ia bisa lebih kaya USD 100 miliar dari saat ini.

4. Tidak Membeli Saham Amazon

Tidak Membeli Saham Amazon
Sumber gambar : unsplash.com/ Austin Distel

Kesalahan besar tidak selesai pada transaksi saham BKR dan NICO saja, Buffet juga mengakui kesalahannya pada saat Amazon menawarkan saham perdananya ke publik (IPO).

Pada tahun 1997, Amazon hendak melakukan IPO (Initial Public Offering) dan mewarkan sahamnya terlebih dulu kepada investor-investor potensial yang salah satunya adalah Warren Buffett.

Namun pada saat itu Buffett sepertinya cukup alergi dengan perusahaan-perusahaan teknologi informasi. Sehingga ia melewatkan saham Amazon (tidak berinvestasi pada sahamnya), dimana waktu itu harga saham Amazon berada di harga USD 18 per lembar. Namun apa yang terjadi setelah itu?

20 tahun kemudian, yakni pada tahun 2017 Amazon telah bertransformasi menjadi perusahaan berbasis IT terbesar di dunia dan berhasil membawa CEO nya Jeff Benzoz menjadi orang terkaya di dunia saat itu. Kekayaannya tentu sudah melebihi Warren Buffett.

Saat ini, bahkan harga saham Amazon berada di harga USD 3.573,63 atau sudah naik sekitar 20.000%-an (sekitar 200 kali lipat).

Pada saat wawancara eksklusif bersama CNBC, Buffet mengatakan bahwa dirinya sangat idiot karena gagal membaca potensi Amazon dan membeli sahamnya pada kesempatan pertama.

Saat ini usia Buffett sudah 90 tahun-an, sehingga ia memberikan kepercayaan kepada pihak-pihak yang lebih muda dalam mengambil keputusan investasi yang sebelumnya tidak bisa Buffet lakukan yakni membeli saham-saham perusahaan teknologi informasi, termasuk Amazon.

Baca juga, 11 Daftar Saham Blue Chip Indonesia

Dari kasus ini, kita mungkin bisa belajar untuk tidak berinvestasi berdasarkan asumsi dan sensitivitas berlebih terhadap suatu bidang usaha tertentu saja. Justru, kita perlu fokus pada analisis potensinya di masa depan.

Penutup

Jadi itulah beberapa kesalahan besar yang pernah di lakukan oleh investor legendaris Warren Buffett. Sebelum keberhasilan di usianya yang sudah 90 tahun, figur besar ini justru juga pernah melakukan kesalahan-kesalahan fatal. Semoga kita bisa mengambil pelajaran berharga dan sebisa mungkin untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Bagikan ;

Tinggalkan komentar