Investasi

4 Instrumen Investasi Ini Termasuk Safe Heaven, Apa Saja Ya?!

Bagi Anda yang sedang belajar mengenai investasi, pasti menemui istilah Safe Heaven. Safe Heaven adalah jenis investasi yang memberikan tingkat risiko rendah selama periode ketidakpastian ekonomi yang ekstrim.

Sebagaimana kondisi satu tahun ini, ekonomi Indonesia merosot hingga hampir minus. Pandemi virus Covid-19 yang kini memasuki gelombang kedua memaksa banyak aktivitas produksi untuk berhenti.

Tingkat konsumsi juga semakin menurun akibat kurangnya pendapatan selama masa pandemi. Kondisi ketidakpastian seperti ini juga mempengaruhi nilai sebuah aset investasi.

Jika kita memantau perkembangan dunia investasi, banyak orang sedang demam koin kripto. Meski harus sedikit kecewa karena beberapa koin primadona ternyata mengalami penurunan nilai hingga 40% pada bulan Juni lalu.

Penurunan yang mendadak ini karena kripto masih sangat volatil, yaitu memiliki kerentanan yang tinggi. Mudah untuk meroket hanya dengan cuitan seorang publik figur misalnya, tapi juga mudah untuk anjlok akibat isu ekonomi dari satu negara.

Oleh karena itu, sebagian besar pelaku investasi masih suka melakukan investasi pada aset yang merupakan kategori Safe Heaven. Ini merupakan proses diversifikasi investasi, istilahnya “jangan taruh semua telur di satu keranjang”.

Meski Anda sedang suka memacu adrenalin pada kripto atau forex, setidaknya Anda juga masih punya tabungan yang aman berupa aset Safe Heaven. Sehingga jika ada kemungkinan buruk pada investasi volatil, Anda masih punya simpanan dana pada set lain.

Pada beberapa kasus, instrumen investasi safe heaven malah bisa mengalami kenaikan harga saat ada tekanan dalam suatu pasar keuangan, ketidakjelasan politik, dan sentimen daya beli konsumen.

Atau ternyata ketika faktor tersebut membuat harga instrumen turun, penurunannya tidak terlalu signifikan. Beberapa ahli menyebutnya sebagai posisi hedging atau melindungi nilai. Artinya dalam kondisi krisis, nilai instrument seafe heaven ini masih bisa menyisakan sedikit keuntungan untuk Anda.

Meski pasar mengalami naik turun dan menjatuhkan nilai aset, Safe heaven bisa tetap bertahan atau bahkan meningkat. Beberapa dari instrumen investasi dengan kategori Safe heaven adalah mata uang asing, Emas, Serta Obligasi Pemerintah.

1. Mata Uang Asing

Sebagai pelaku investasi, tentu Anda tahu kira-kira mata uang asing apa saja yang akan kami sebut di sini. Karena tidak semua mata uang asing memiliki kategori Safe Heaven.

Meski tidak ada syarat mengikat mengenai mata uang asing yang bisa menjadi Safe Heaven, namun kawan semua bisa menilai dari posisi negara dalam pasar global dan bagaimana sistem keuangan dalam negara tersebut.

Greenback atau dolar AS, semua orang secara umum mengetahui bahwa mata uang ini adalah pemimpin pasar global. Karena hampir semua nilai mata uang di seluruh dunia menggunakan Dollar AS sebagai pembanding.

Dollar AS mempunyai julukan sebagai mata uang internasional karena mata ini dapat diterima hampir di semua negara di dunia. Sehingga dia mempunyai nilai yang cukup stabil bahkan ketika AS mengalami krisis saat tahun 2008 lalu.

Karena ketahanan terhadap krisis, sehingga wajar jika banyak orang yang melakukan investasi jangka panjang dengan membeli dollar AS.

Franc Swiss, sebagai negara yang mempunyai sistem perbankan sangat stabil wajar jika mata uang Franc menjadi pilihan instrumen safe heaven. Bahkan banyak pengusaha dan penjahat menyimpan uangnya di Swiss karena hampir semua bank swasta di sana menyediakan penyimpanan yang sangat rahasia.

Mata uang Franc biasanya menghadapi tekanan ke atas yang kuat yang berasal dari meningkatnya permintaan luar negeri.

Permintaan ini karena semakin banyak orang tahu bahwa Swiss memiliki industri perbankan yang besar, aman, dan stabil sehingga pasar modal volatilitas rendah. Ekonomi di sana juga baik karena hampir tidak ada pengangguran, standar hidup yang tinggi, dan angka neraca perdagangan positif.

Ternyata, mungkin dari kita tidak banyak tahu bahwa Swiss bukan bagian dari kawasan ekonomi Uni Eropa. Ini membuat Swiss kebal terhadap segala peristiwa politik dan ekonomi negatif yang terjadi di kawasan tersebut.

Yen Jepang. Masih sedikit investor pemula yang tahu bahwa negeri matahari terbit ini mempunyai stabilitas mata uang yang paling baik untuk kawasan Asia Pasifik.

Yen menjadi instrumen safe haven karena status Jepang memiliki suplus current account yang besar sehingga memberikan jaminan stabilitas bagi mata uangnya.

Selain itu Jepang merupakan negara kreditor terbesar di dunia. Berdasarkan data Kementerian Keuangan Jepang, jumlah aset asing yang dimiliki pemerintah, swasta, dan individual Jepang mencapai US$ 3,4 triliun di akhir tahun 2019.

Nilai tersebut naik 6,7% dari tahun 2018. Status negara kreditor tersebut mampu dipertahankan hingga 29 tahun lamanya.

Total kepemilikan aset asing oleh Jepang bahkan 1,3 kali lebih banyak dari Jerman yang menduduki peringkat kedua negara kreditur terbesar di dunia.

Baca, 5 Daftar Saham yang mendekati harga terendah

Apabila terjadi gejolak di pasar finansial seperti saat ini, para investor asal Jepang akan merepatriasi dananya di luar negeri. Aksi ini menyebabkan arus modal kembali masuk ke Negeri Matahari Terbit tersebut, dan mata uang Yen menjadi menguat.

2. Emas

Sebelum manusia mengenal investasi portofolio berupa surat berharga, emas merupakan sarana jual beli, investasi dan menimbun kekayaan.

Emas menjadi aset favorit bagi masyarakat sejak zaman mesir kuno karena nilainya yang cenderung stabil atau meningkat. Meski terkadang  emas memang mengalami penurunan, namun cukup jarang terjadi jika dibandingkan dengan kenaikannya.

Sebagian besar pelaku pasar percaya bahwa logam mulia emas merupakan instrumen investasi safe haven. Tidak seperti uang atau aset lainnya, emas tidak berisiko kehilangan nilainya di tengah gejolak pasar keuangan.

Oleh karena harganya yang relatif stabil, emas mampu bertahan ketika terjadi gejolak atau ketidakpastian dalam pasar finansial. Sehingga dapat melindungi harta investor dari krisis keuangan.

Nilai aset safe haven diharapkan dapat bertahan dan bahkan mampu meningkat pada saat kondisi pasar mengalami goncangan atau ketika aset investasi lain menurun.

Ketika terjadi krisis keuangan, Safe haven banyak dicari oleh investor untuk menghindarkan mereka dari kerugian. Sehingga harga emas cenderung melonjak tinggi saat ekonomi dunia diliputi ketidakpastian.

Bahkan, emas dalam portofolio investasi Anda membantu mengurangi kerugian saat pasar saham anjlok. Beberapa analis menyarankan investor untuk membeli logam mulia emas pada saat imbal hasil aset investasi lain negatif.

Membeli emas saat investasi negatif bukan karena dianggap sebagai sebuah keuntungan, melainkan untuk menjaga aset mereka dari gerusan inflasi dalam jangka waktu yang lama.

Beberapa investor menganggap emas sebagai asuransi. Oleh karena itu ketika situasi keuangan semakin memburuk, banyak investor akan menyimpan lebih banyak emas.

Stabilnya harga emas karena nilainya tidak dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga dan kebijakan moneter dan fiskal lain dari bank sentral maupun pemerintah.

Ini berbanding terbalik dengan portofolio berupa saham dan obligasi yang mempunyai kaitan erat dengan dua kebijakan tersebut.

Alasan lain mengapa emas disebut aset safe haven karena emas fisik pernah menjadi alat tukar dalam aktivitas ekonomi ekonomi selama lebih dari puluhan tahun.

Namun karena perkembangan perdagangan global yang semakin kompleks menuntut alat tukar untuk lebih praktis, sehingga munculah uang kertas yang menggantikan uang emas.

Hingga kini masyarakat luas tetap menganggap emas sebagai barang yang bernilai tinggi, kapan saja dan di mana saja. Emas tidak hanya  menjadi simbol kekayaan, melainkan juga alat pertukaran dan medium pembayaran yang diakui, di negara manapun.

Karena kepercayaan ini bersifat global maka ketika ada ketidakpastian ekonomi global dan turunnya kepercayaan pelaku pasar pada pemerintah, harga aset logam mulia emas meningkat.

Dengan kata lain, logam mulia emas merupakan safe haven yang berharga dan pilihan tepat untuk melindungi aset investor selama krisis.

3. Obligasi Pemerintah

Obligasi atau yang lebih dikenal dengan Surat Utang Negara (SUN). Ini adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang dalam valuta asing maupun rupiah.

 Pembayaran bunga dan pokok SUN mendapatkan jaminan dari negara sesuai dengan masa berlakunya. Berkat jaminan dari negara, SUN dianggap jadi pilihan aset safe haven yang bakal tetap untung meski krisis ekonomi.

Obligasi pemerintah yang nilainya paling mahal adalah obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah AS bernama US Treasury. Ada juga obligasi AS dengan tenor pendek kurang dari  1 tahun, biasa disebut T-Bills.

Mengutip dari cnbcindonesia.com, jika risiko moneter dunia sedang meningkat maka harga US Treasury cenderung naik. Karena banyak pelaku pasar sedang mengurangi kerugian dengan membeli instrumen tersebut.

Hukum yang umum terjadi di pasar efek utang, penguatan harga obligasi akan disertai dengan penurunan tingkat imbal hasil (yield) sehingga pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder.

Jadi ketika harga naik maka akan menekan yield obligasinya turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan keuntungan bagi investor juga lebih umum menjadi acuan transaksi obligasi.

Baca, Cara membeli saham di bursa luar negeri

Namun kondisi tersebut tidak selalu berlaku dengan obligasi di dalam negeri. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Misalnya, faktor kepemilikan investor asing yang besar di pasar surat utang negara (SUN) domestik, serta risiko yang seimbang antara pasar ekuitas dan obligasi di dalam negeri.

Atas dasar ini, pergerakan obligasi dalam negeri lebih sering beriringan dengan pasar saham, tidak berkebalikan seperti di negara lain.

4. Saham Defensif

Ini adalah saham yang berasal dari perusahaan dengan komoditas berupa bahan kebutuhan dasar. Misalnya perusahaan perawatan kesehatan, bioteknologi, dan perusahaan barang konsumsi.

Mau seperti apapun keadaan pasar, konsumen masih akan membeli makanan, produk kesehatan, dan persediaan rumah dasar.

Bahkan kini teknologi menjadi kebutuhan dasar manusia sebagai alat interaksi dan bekerja selama masa pandemi, Work From Home. Oleh karena itu tidak heran jika bulan lalu Microsoft, Google, dan Apple mengalami peningkatan pendapatan ketika banyak perusahaan yang merugi.

Oleh karena itu, perusahaan dengan fokus sektor defensif biasanya akan mempertahankan nilai mereka selama masa ketidakpastian, karena investor meningkatkan permintaan mereka untuk saham dari perusahaan defensif.

Baca juga, 11 Daftar saham blue chip terbaik tahun ini

Anda juga harus memperhatikan penyebab dari krisis, dan perusahaan apa saja yang terdampak. Kemudian perhatikan mengenai perusahaan apa saja yang mendapatkan keuntungan dari krisis.

Hasil pengamatan Anda adalah referensi untuk investasi dengan membeli saham milik mereka. Ini adalah upaya agar tetap mendapatkan keuntungan saat dunia mengalami krisis.

Bagikan ;
Share
Published by
Alfian Ihsan

Recent Posts

Kenapa Saham UNVR Anjlok, Saatnya Beli atau Jual Rugi?

Saham UNVR (Unilever) adalah salah satu saham bluehip yang sering juga menjadi list saham yang…

1 hari ago

10 Saham Rekomendasi Saat PPKM Darurat Diperpanjang

Jika sesuai dengan jadwal, PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat di Jawa - Bali akan…

4 hari ago

Hal-Hal Penting Bagi Investor Saham Jika PPKM Darurat Diperpanjang

Terus bergerak melaju hingga akhirnya menembus 2,73 juta kasus per hari Jumat (16/7) sore, pandemi…

5 hari ago

10 Rekomendasi Perusahaan Farmasi Yang Cocok Untuk Investasi

Industri kesehatan merupakan industri yang masih bisa mencatat kenaikan pendapatan ketika pandemi. Karena pandemi memaksa…

6 hari ago

Ingin Beli Saham BBCA? Coba Pertimbangkan 6 Hal Ini Dulu!

Saham BBCA merupakan salah satu saham bluechip perbankan yang harganya mahal. Walaupun mahal, saham ini…

6 hari ago

10 Perusahaan Bakrie Group Untuk Pilihan Investasi Saham

Beberapa hari ini banyak muncul pemberitaan mengenai Ardi Bakrie sebagai pimpinan di beberapa perusahaan Bakrie…

1 minggu ago