10 Investor Saham Paling Sukses yang Bisa Dijadikan Role Model Investasi

Zaman yang terus berkembang, membuat semua orang saat ini mulai sadar betapa pentingnya mengelola keuangan. Karena kembali lagi pada pemikiran, tidak ada orang yang mau membanting tulangnya dengan terus-menerus bekerja hingga lanjut usia nanti.

Pemahaman seperti itulah yang membuat banyak orang mulai mencari cara untuk memiliki penghasilan sekalipun sudah tidak produktif.

Tentunya bukan penghasilan dalam jumlah kecil, karena tetap membuat usia tua bisa dilewati dengan menyenangkan, sehat dan tanpa perlu memikirkan urusan finansial.

Hal inilah yang akhirnya membuat banyak orang mulai belajar berinvestasi. Yap, investasi adalah cara terbaik untuk mengelola keuangan pribadi.

Melalui investasi, Anda bisa melipatgandakan tabungan sekaligus aset kekayaan. Biasanya beberapa instrumen investasi yang bakal dipilih seperti emas, properti (rumah, apartemen, gedung) hingga tanah.

Namun saat ini, investasi saham menjadi pilihan yang sangat ‘seksi’.

Baca juga: Belajar Saham, Pengetahuan Dasar Investasi Saham, Yuk Pahami!

Dibandingkan aset keuangan lainnya, saham tak dipungkiri mampu menjanjikan keuntungan yang melimpah.

Hanya saja, saham juga mempunyai risiko kerugian yang selaras dengan keuntungannya sehingga membuat siapapun cukup cemas saat hendak memasuki pasar modal.

Termasuk yang demikian? Tak perlu cemas karena banyak juga yang sukses besar berkat saham.

Termasuk 10 orang investor berikut ini yang namanya sudah sangat mendunia. Melalui langkah-langkah mereka, Anda bisa belajar menjadi seorang investor sukses, dalam aset keuangan apapun.

Inilah 10 Investor Saham Sukses yang Patut Dicontoh

1. Warren Buffett

Warren Buffett
© marketwatch
  • Total kekayaan US$72,2 miliar (sekitar Rp1.060 triliun)

Warren Buffet adalah sosok investor paling sukses di dunia, sekaligus salah satu terbaik sepanjang sejarah.

Pria berjulukan Oracle of Omaha (Peramal dari Omaha) ini mampu ada di posisi puncak bukan karena sebuah keberuntungan, tapi lantaran kesetiaan dan kesabarannya pada metode value investing.

Berawal dari menanam modal sebesar US$10 ribu di Berkshire Hathaway pada tahun 1965 yang kemudian mengambil alih perusahaan manufaktur tekstil tersebut, nilai kekayaan perusahaan itu kini menembus US$50 juta!

Tak berhenti di situ, Buffett juga melakukan investasi saham dengan pola serupa di banyak perusahaan selama puluhan tahun, yang membuatnya bisa meraih setidaknya US$12 ribu per tahun.

Terbongkar kalau pola investasi Buffett sangat sederhana yakni membeli saham perusahaan yang benar-benar dia pahami dengan harga murah.

Lalu kemudian melakukan peningkatan kinerja perusahaan dan dalam jangka panjang, saham perusahaan itu melonjak. Pola investasi ini disebut sebagai value investing.

Melalui Hathaway yang kini dia miliki, Buffett sudah memiliki saham di Coca Cola, American Express, Apple, IBM, Geico, Dairy Queen dan Fruit of the Loom.

Khusus untuk Coca Cola, Buffett dulu membeli US$40 per lembar saham (tahun 1989), yang kini melambung hingga US$5 juta per lembar saham!

Bahkan di saat pandemi Covid-19 yang membuat banyak investor rontok, Buffett justru kabarnya meraup laba lebih dari Rp600 triliun dari saham Apple. Sungguh seorang Peramal dari Omaha.

2. Benjamin Graham

Benjamin Graham

Di balik seseorang yang sukses, tentu ada guru yang hebat. Hal itulah yang terbongkar dari jejak kesuksesan Buffett, di mana tentunya dia memiliki sosok guru panutan dalam berinvestasi.

Guru dari Buffett itu adalah Benjamin Graham yang disebut sebagai salah satu investor legendaris, sekaligus penemu dari metode value investing yang digunakan oleh Buffett di sepanjang hidupnya.

Seperti metode yang diajarkan, Graham dan kliennya berhasil meraup banyak uang tanpa harus cemas merugi, berkat value investing.

Bagaimana bisa? Karena Graham selalu melakukan analisa finansial yang benar-benar teliti sebelum berinvestasi, sehingga membuat pasar modal seolah-olah berpihak padanya.

Dengan value investing, Graham membuktikan kalau investasi saham bukanlah berpihak pada keberuntungan, tapi melalui sebuah perhitungan cermat dengan melihat value alih-alih harga saham perusahaan saja.

Graham sudah meninggal pada 21 September 1976 di Prancis saat berumur 82 tahun.

3. George Soros

George Soros
© Insider
  • Total kekayaan US$8,3 miliar (sekitar Rp121 triliun)

Sama seperti Icahn, George Soros adalah seorang investor yang mampu mencatat keuntungan lebih besar daripada Buffett.

Berbeda dengan Buffett, Soros sama sekali tidak menggunakan value investing. Yap, jika Buffett cenderung ‘cari aman’, Soros justru menerapkan metode investasi yang sangat berisiko di mana dirinya suka bertaruh. Alih-alih merugis, pertaruhan Soros justru membuatnya meraup untung besar.

Baca juga: Jenis Reksa Dana Syariah Tanpa Riba yang ada di Indonesia

Yang paling legendaris tentu aksinya pada 16 September 1992 sehingga membuatnya dijuluki sebagai Sang Penghancur Bank Sentral Inggris.

Kok bisa? Karena dalam waktu sehari, Soros berhasil meraup US$1 miliar berkat aksinya menjual Poundsterling.

Cukup mengejutkan karena spekulator ulung ini justru memulai karier investasi dari nol. Sebelum kaya raya seperti sekarang, hidup Soros sangatlah susah bahkan dirinya harus jadi salesman toko souvenir hanya untuk bertahan hidup.

Berulang kali ditolak perusahaan, karier finansial Soros dimulai di Singer & Friedland.

Instingnya berinvestasi membuat Soros menemukan teori refleksivitas, yakni nilai harga pasar lebih sering dikendalikan oleh ide-ide situational para pelaku alih-alih elemen fundamental.

Kendati begitu, aksinya yang begitu ahli berspekulasi, membuat Soros dianggap sebagai dalang krisis moneter negara-negara berkembang di Asia pada tahun 1998, salah satunya Indonesia.

4. Carl Icahn

Carl Icahn
© Rankred
  • Total kekayaan US$14,3 miliar (sekitar Rp210 triliun)

Buffett memang boleh saja menjadi investor terkaya di dunia. Tapi Carl Icahn mampu menjadi investor nomor satu yang meraup keuntungan lebih besar daripada Sang Peramal dari Omaha itu.

Bagaimana bisa? Tak lain karena sosok Icahn yang merupakan salah satu investor paling berani dalam mengambil risiko.

Karena perilakunya itu, Icahn pun dijuluki sebagai Corporate Raider (Sang Penjarah Perusahaan).

Pendiri sekaligus pemilik saham mayoritas Icahn Enterprises ini diketahui hobi membeli sejumlah besar saham dari perusahaan lain, supaya bisa menjadi pemilik saham mayoritas.

Melalui langkahnya itu, Icahn bisa mendulang untung lebih dari 30 persen.

Bahkan dalam kurun waktu 1968-2011, Icahn berhasil meningkatkan pertumbuhan investasi US$100 ribu (sekitar 31%) per tahun di perusahannya.

Jauh lebih besar daripada Berkshire Hathaway milik Buffett yang mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 20%.

Di tahun 2015 lalu, Icahn adalah penguasa perusahaan tambang Amerika Serikat, PT Freeport McMoran Inc yang merupakan induk usaha PT Freeport Indonesia, setelah membeli 88 juta lembar saham.

5. Alisher Usmanov

Alisher Usmanov
© cdnvideo.ru
  • Total kekayaan US$15,4 miliar (sekitar Rp226 triliun)

Alisher Burkhanovich Usmanov adalah pebisnis Rusia kelahiran Uzbekistan yang pada tahun 2014 lalu, menjadi orang terkaya di Rusia.

Sama halnya dengan sahabatnya, Roman Abramovich, yang juga sama-sama orang terkaya Rusia, kekayaan Usmanov didapatkan dari investasinya di bidang pertambangan dan logam.

Bisa dibilang kalau Usmanov menguasai cukup banyak sektor-sektor industri penting di Rusia.

Memahami betul kalau dunia akan berubah menjadi serba teknologi, Usmanov memiliki ketertarikan besar pada bidang IT di mana dirinya adalah salah satu investor awal raksasa teknologi Facebook dan raksasa marketplace asal China, Alibaba.

Tak hanya itu, Usmanov juga salah satu pemilik operator telepon terbesar kedua di Rusia, MegaFon serta perusahaan internet berbahasa Rusia terbesar di dunia, Mail.ru.

6. John Templeton

Johm Templeton
© guideposts

John Templeton adalah pencipta reksadana modern, sehingga tidak berlebihan kalau dirinya masuk sebagai salah satu investor tersukses di dunia.

Ide mengenai reksadana modern ini data ng melalui pengalamannya sendiri. Di mana pada tahun 1939, Templeton membeli 100 saham dari setiap emiten di bursa NYSE dengan harga di bawah satu dolar AS yang total investasinya bernilai US$10.400.

Baca juga: Pengertian Investasi Jangka Pendek, Menengah, Panjang dan Jenisnya

Empat tahun berikutnya, 34 dari 104 emiten itu bangkrut tetapi Templeton berhasil menjual seluruh portofolio yang tersisa sebesar US$40 ribu.

Pengalaman ini membuat Templeton sadar bahwa melalukan diversifikasi investasi sangatlah penting dan menjadi sebuah strategi jitu berinvestasi.

Karena di saat ada perusahaan yang merugi, perusahaan lain memberikan keuntungan.

Berawal dari situlah Templeton akhirnya menjadi pemburu saham-saham bernilai rendah.

Bahkan dirinya mencari perusahaan-perusahaan dari seluruh dunia yang tidak menarik perhatian investor lain.

Templeton percaya bahwa saham yang memiliki nilai terbaik adalah saham yang benar-benar diabaikan. Templeton meninggal pada 8 Juli 2008 di Bahama, saat berusia 96 tahun.

7. Philip Fisher

Philip Fisher

Dijuluki sebagai Bapak Investasi dalam Pertumbuhan Saham, Philip Fisher merupakan salah satu investor tersukses yang layak diteladani.

Fisher memulai karier finansialnya dengan mendirikan perusahaan investasinya sendiri, Fisher & Company pada tahun 1931.

Mengelola perusahaan itu hingga pensiun di usia 91 tahun pada 1999 silam, Fisher berhasil meraih hasil gemilang sebagai investor.

Sama seperti Buffett, fokus investasi Fisher memang pada jangka panjang. Dirinya paling dikenal saat membeli saham Motorola di tahun 1955 dan menahannya hingga meninggal di tahun 2004 silam.

Dalam berinvestasi, Fisher memiliki 15 pedoman yang fokus pada dua kategori yakni karakteristik manajemen dan karakteristik bisnis.

Melalui kedua kategori itu, Fisher bisa memperoleh saham-saham dengan margin laba dan pengembalian modal tinggi yang unggul dalam posisi industri.

8. Guo Guangchang

Guo Guangchang
© TIME
  • Total kekayaan US$5,9 miliar (sekitar Rp86,7 triliun)

Berkat karier gemilangnya di dunia investasi, Guo Guangchang kerap dijuluki sebagai Warren Buffett-ya China.

Menurut laporan Hurun Report pada tahun 2013 mengenai daftar orang terkaya di China, Guangchang ada di posisi ke-41.

Namun dua tahun kemudian, Guangchang bisa menanjak hingga posisi ke-34.

Memiliki perusahaan investasinya sendiri yang berpusat di Shanghai, Fosun International, Guangchang adalah pemilik saham mayoritas di perusahaan Nanjing Iron and Steel yang bergerak di bidang besi baja dan Shanghai Forte Land, salah satu pengembang real estate terbesar di China.

Bahkan baru-baru ini, Fosun International baru saja membeli Club Med dan meningkatkan kepemilikannya di Cirque du Soleil hingga 20%.

9. John ‘Jack’ Bogle

John 'Jack' Bogle
© Money
  • Total kekayaan US$180 juta (sekitar Rp2,6 triliun)

Mengikuti jejak Soros dan Icahn, John Bogle adalah investor selanjutnya yang mencatat keuntungan investasi lebih besar daripada Buffett.

Pendiri sekaligus CEO The Vanguard Group ini bahkan membuat perusahaan yang dia pimpin menjadi perusahaan reksadana terbesar kedua di dunia.

Di mana pada tahun 1999, Vanguard menguasai US$428,4 miliar (8,83%) reksadana di seluruh bumi.

Berbeda dengan investor lainnya, Bogle memang melakukan investasi dengan cara sederhana. Ada beberapa aturan dasar yang ditetapkan oleh Bogle saat berinvestasi yakni:

  1. Memilih aset berbiaya rendah
  2. Mempertimbangkan biaya tambahan
  3. Tidak berlebihan menanggapi kinerja aset sebelumnya karena itu hanya untuk menentukan resiko dan konsistensi aset
  4. Mewaspadai ukuran aset dan manajer yang terlibat
  5. Jangan memiliki terlalu banyak aset
  6. Beli sendiri portofolio Anda dan pertahankan

Baca juga: Jangan Keliru! Inilah Perbedaan Investasi Saham dan Obligasi

10. Lo Kheng Hong

Lo Kheng Hong
© Lifepal
  • Total kekayaan lebih dari Rp2,5 triliun

Tidak lengkap rasanya membicarakan investor saham sukses tanpa menyebut sosok yang berasal dari Indonesia.

Jika Guangchang adalah Warren Buffett-nya China, maka Lo Kheng Hong adalah Warren Buffett-nya Indonesia.

Sama seperti Buffett, Kheng Hong juga berhasil mencapai kebebasan finansial berkat saham melalui metode value investing.

Dibesarkan dalam kondisi perekonomian sulit, Kheng Hong bahkan tinggal di rumah berdinding papan di Jakarta bersama keluarganya saat merantau dari Pontianak.

Demi membiayai kuliah, Kheng Hong pun melamar menjadi pegawai TU di PT OEB. Ingin berubah menjadi lebih baik, Kheng Hong sangat rajin menabung dan memulai awal kariernya sebagai investor saat berusia 30 tahun pada 1989 silam.

Baca juga : Belajar Saham Bagi Pemula

Perilakunya yang begitu disiplin dalam keuangan dan hidup sangat hemat, Kheng Hong mengalokasikan seluruh penghasilannya untuk membeli saham dengan tujuan jangka panjang. Dan buah hidup hemat selama hampir dua dekade itu, membuat Kheng Hong kini menjadi investor saham tersukses sekaligus terkaya di Indonesia.

Bagikan ;